Menu
Sign in
@ Contact
Search
Pendiri dan Executive Chairman World Economic Forum (WEF) Klaus Schwab mendengarkan pidato Presiden Tiongkok Xi Jinping via layar TV, pada pembukaan sesi virtual WEF Davos dari kantor pusat WEF di Cologny, dekat Jenewa, Swiss, Senin (17/1). Foto: Investor Daily/Fabrice COFFRINI / AFP

Pendiri dan Executive Chairman World Economic Forum (WEF) Klaus Schwab mendengarkan pidato Presiden Tiongkok Xi Jinping via layar TV, pada pembukaan sesi virtual WEF Davos dari kantor pusat WEF di Cologny, dekat Jenewa, Swiss, Senin (17/1). Foto: Investor Daily/Fabrice COFFRINI / AFP

WEF VIRTUAL

Tiongkok Konfrontasi Global Mengundang Konsekuensi Bencana

Selasa, 18 Januari 2022 | 09:34 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BEIJING, investor.id  - Presiden Tiongkok Xi Jinping mengingatkan bahwa konfrontasi antara kekuatan besar dapat menyebabkan konsekuensi bencana. Hal ini disampaikan dalam pidato Senin (17/1) kepada para pemimpin dunia di forum Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, yang digelar virtual sepenuhnya.

Untuk tahun kedua berturut -turut, pertemuan tatap muka para pemain politik dan kekuatan korporat di Pegunungan Alpen Swiss harus berlangsung secara virtual, karena pandemic virus corona yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda dalam waktu dekat.

Xi membuka prosesi dengan pidato yang hampir sama dengan yang disampaikannya tahun lalu. Ia menggembar-gemborkan Tiongkok, tempat virus corona pertama kali muncul pada akhir 2019, sebagai kisah sukses pandemi yang langka dan satu-satunya ekonomi utama yang terus membukukan pertumbuhan kuat. Xi menampilkan diri sebagai pembela multilateralisme dan juga memberikan peringatan serius untuk masa depan, ketika hubungan antara negara-negara besar merosot.

“Dunia kita saat ini jauh dari ketenangan. Retorika yang memicu luapan kebencian dan prasangka. Sejarah telah membuktikan berkali-kali bahwa konfrontasi tidak menyelesaikan masalah. Itu hanya mengundang konsekuensi bencana,” katanya, menurut terjemahan resmi pidato yang disiarkan secara online, Senin.

Presiden Tiongkok Xi Jinping menyampaikan pidato dalam upacara peringatan 70 tahun masuknya Tiongkok ke dalam Perang Korea, di Balai Besar Rakyat Beijing pada 23 Oktober 2020. ( Foto: NOEL CELIS / AFP )
Presiden Tiongkok Xi Jinping   Foto: NOEL CELIS / AFP

Pemerintah Tiongkok tetap berpegang pada kebijakan ketat untuk menargetkan nol kasus Covid-19, setelah sempat menghentikan penyebaran wabah di gelombang awal pandemi. Perbatasannya sebagian besar tetap tertutup bagi orang luar, tetapi tetap menjadi basis manufaktur vital dunia selama pandemic Covid-19.

Dalam pidatonya, Xi mengatakan dunia telah berjuang keras melawan pandemi yang terjadi sekali dalam seabad. Tetapi dia mengatakan pandemi membuktikan masa ini masih belum berlalu, dengan varian baru menyebar lebih cepat dari sebelumnya. Kondisi ini memperdalam tantangan bagi ekonomi global.

“Rantai pasokan industri global terganggu. Harga komoditas terus naik, pasokan energi tetap ketat,” kata Xi dengan nada peringatan.

Ia menambahkan bahwa pemerintah Tiongkok tertarik untuk pertukaran people to people. “Dalam upaya memfasilitasi perdagangan lintas batas, menjaga rantai pasokan industri tetap aman dan lancar, serta mempromosikan kemajuan yang stabil dan solid dalam pemulihan ekonomi global,” jelasnya. Tetapi tidak ada pengumuman dalam pidato itu tentang kapan atau apakah pemerintah Tiongkok akan melonggarkan control perbatasannya yang ketat.

Saat ini negara tersebut tetap relatif bebas dari virus corona, meskipun sedang berjuang melawan serentetan wabah lokal di beberapa provinsi dan kota-kota utama. Ini terjadi hanya beberapa minggu sebelum menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin di Beijing.

Xi juga bergerak untuk mengamankan masa jabatan ketiga pada pertemuan besar Partai Komunis pada musim gugur ini. Ia sempat menunjukkan bahwa stabilitas tetap menjadi prioritas.

Krisis Demografi

Di sisi lain, angka kelahiran Tiongkok anjlok ke rekor terendah tahun lalu, menurut data resmi Senin. Analis memperingatkan bahwa penuaan yang lebih cepat dari perkiraan dapat memperdalam kekhawatiran terkait pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah Tiongkok telah bergulat dengan krisis demografi yang membayangi. Negara tersebut menghadapi angkatan kerja yang menua dengan cepat, ekonomi yang melambat, dan pertumbuhan populasi terlemah dalam beberapa dekade terakhir.

Tingkat kelahiran ekonomi terbesar kedua di dunia itu turun menjadi 7,52 kelahiran per 1.000 orang, menurut data Biro Statistik Nasional (NBS). Angka tersebut turun dari 8,52 kelahiran per 1.000 orang pada 2020. Level ini merupakan yang terendah sejak pencatatan dimulai pada 1949, ketika Komunis Tiongkok didirikan, kata data NBS.

Ini juga menandai angka terendah yang dicatat dalam data Buku Tahunan Statistik tahunan Tiongkok, yakni penilaian tahunan ekonomi negara itu sejak 1978. (afp)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com