Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mata uang kripto, bitcoin.  Foto ilustrasi: Getty Images

Mata uang kripto, bitcoin. Foto ilustrasi: Getty Images

Harga Bitcoin dan Ether Merosot dalam 24 Jam

Minggu, 23 Januari 2022 | 08:47 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SINGAPURA, investor.id Harga mata uang kripto (cryptocurrency) bitcoin dan ether dilaporkan merosot pada Kamis (201/) malam, hingga menggerus hampir US$ 150 miliar dari pasar kripto.

Menurut CoinDesk, dalam 24 jam terakhir nilai bitcoin merosot tajam sekitar 7% dan telah mengalami penurunan hingga US$ 38.287 pada periode yang sama.

Ada pun hasil dari transaksi perdagangan terakhirnya pada pukul 04.43 pagi waktu setempat tercatat mencapai US$ 39.010.

Sementara itu pergerakan ether, yang diklaim sebagai mata uang kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, disebut Coin- Desk turun hampir 8% dalam 24 jam terakhir. Ether sendiri terakhir kali diperdagangan di kisaran harga US$ 2.878 pada pukul 04.43 pagi waktu setempat setelah jatuh ke level US$ 2.809,51 dalam 24 jam terakhir.

Menurut Coinmarketcap.com, kondisi itu membuat sekitar US$ 147 miliar hilang dari seluruh pasar kripto dalam 24 jam terakhir. Pelemahan mata uang kripto disebut mengikuti penurunan yang terjadi di Wall Street pada Kamis (20/1). Yang mana Nasdaq turun hampir 5% pada pekan ini, dan S&P 500 mengalami kerugian di pekan ketiga berturut-turut.

Ketika imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun melonjak pada awal pekan ini, kenaikan suku bunga telah mendorong para investor melepaskan posisi mereka dalam kepemilikan aset-aset berisiko. Pergerakan imbal hasil ini berlawanan dengan harga.

Di samping itu, The Federal Reserve (The Fed) juga telah mengindikasikan rencananya untuk mulai mengurangi neraca dan obligasi serta menaikkan tingkat suku bunga. Di sisi lain, masalah investasi umum untuk bitcoin adalah bahwa ia berfungsi sebagai lindung nilai terhadap kenaikan inflasi sebagai akibat dari stimulus pemerintah. Tetapi para analis berpendapat risikonya adalah The Federal Reserve yang lebih hawkish dapat menurunkan bitcoin.

Namun ketika imbal hasil ditarik kembali di akhir minggu, Edward Moya – analis pasar senior perdagangan valuta asing di Oanda – mengatakan sedikit mengecewakan karena tidak melihat bitcoin bereaksi lebih positif terhadap pembalikan imbal hasil obligasi.

Harga Bitcoin telah turun tajam sejak November, jatuh lebih dari 40% dari level tertinggi sekitar US$ 69.000.

Beberapa ahli memperingatkan, pasar kripto dapat segera menuju penurunan karena pengawasan peraturan yang ketat, dan fluktuasi harga intens yang mengurangi prospek bitcoin. Para regulator juga menindak mata uang kripto, bahkan Tiongkok benar-benar melarang semua aktivitas terkait kripto, dan otoritas AS menekan aspek-aspek tertentu dari pasar.

Dalam catatan Kamis, yang dikutip CNBC, Moya telah memperkirakan bahwa bitcoin bisa jatuh di bawah US$ 40.000 karena bank sentral Rusia mengusulkan larangan penggunaan dan penambangan mata uang kripto di Negeri Beruang Merah. Mereka mengklaim mata uang digital menimbulkan risiko terhadap stabilitas keuangan dan kedaulatan kebijakan moneter.

Moya menambahkan bahwa Rusia termasuk di antara tiga Negara teratas untuk penambangan bitcoin. (sumber lain)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN