Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Warga Tiongkok sedang membeli perhiasan di sebuah toko di Beijing. (Foto AFP)

Warga Tiongkok sedang membeli perhiasan di sebuah toko di Beijing. (Foto AFP)

Konsumsi Barang Mewah Tiongkok Melonjak 36%

Senin, 24 Januari 2022 | 21:37 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

BEIJING, Investor.id – Penjualan barang-barang mewah pribadi di daratan Tiongkok naik 36% menjadi 471 miliar yuan (US$ 73,59 miliar) pada 2021 dibandingkan tahun sebelumnya. Angka itu dua kali lipat lebih besar dari pengeluaran barang mewah pada 2019 sebesar 234 miliar yuan, sebelum pandemi.

Berdasarkan laporan tahunan perusahaan konsultan asal AS, Bain & Company yang dirilis baru-baru ini, konsumen Tiongkok berbelanja barang mewah lebih banyak. Permintaan di dalam negeri meningkat, meskipun warga Tiongkok tidak dapat dengan mudah bepergian ke luar negeri karena pembatasan pandemi.

Pertumbuhan itu tergolong tinggi, meskipun penjualan ritel Tiongkok secara keseluruhan merosot sejak pandemi dimulai pada 2020. “Data itu juga mencerminkan pertumbuhan pasar domestik Tiongkok sebagai pasar tujuan merek internasional,” jelas Bain dalam laporannya.

Menurut Bain, pangsa pasar daratan Tiongkok untuk barang mewah secara global naik menjadi sekitar 21% pada 2021, meningkat dari sekitar 20% pada 2020. “Kami mengantisipasi pertumbuhan terus berlanjut. Ini menempatkan negara tersebut di jalur yang tepat untuk menjadi pasar barang mewah terbesar di dunia pada 2025, terlepas dari pola perjalanan (travel) internasional di masa depan,” papar laporan itu.

Bain menyebutkan,  Tiongkok tetap menjadi kisah konsumen terbaik di dunia. “Kenaikan rata-rata pendapatan pribadi (disposable income) tetap lebih tinggi daripada inflasi,” demikian analis Bain, mengenai kelas menengah yang tumbuh di negara itu.

Bain menambahkan, penjualan barang-barang berbahan kulit tumbuh sekitar 60% dan merupakan kategori dengan pertumbuhan tercepat, diikuti pertumbuhan sekitar 40% dalam mode dan gaya hidup.

Toko Bebas Pajak

Bain & Company menyatakan, pendorong utama pasar barang mewah lokal adalah pertumbuhan toko bebas bea (duty free) di Hainan, sebuah provinsi pulau di Tiongkok selatan. Dalam dua tahun terakhir, pemerintah telah memberlakukan kebijakan pemotongan pajak dan memperkenalkan langkah-langkah ramah bisnis lainnya.

“Tujuannya untuk mengubah kawasan itu menjadi pelabuhan perdagangan bebas dan pusat konsumsi internasional,” jelas Bain.

Bahkan, menurut Bain & Company, sebelum pembatasan perjalanan, merek-merek mewah sudah pindah ke Hainan dan bagian lain dari daratan Tiongkok dari Hong Kong. Pemindahan ini terkait protes kekerasan di wilayah semi-otonom tersebut.

Penjualan barang-barang mewah di toko bebas pajak Hainan telah membukukan pertumbuhan tahunan sebesar 85% pada 2021, mencapai 60 miliar yuan. Kenaikan ini menyusul peningkatan 122% dari tahun ke tahun (yoy) pada 2020. Toko-toko tersebut menyumbang 13% dari pasar barang mewah pribadi di daratan Tiongkok tahun lalu, naik dari 9% pada 2020 dan 6% pada tahun-tahun sebelumnya.

Namun, analis Bain mengatakan, pendorong terbesar keberhasilan duty free Hainan adalah diskon tajam yang melampaui penghematan pajak. Kesenjangan harga yang signifikan antara harga resmi yang terdaftar dan di Hainan berkontribusi pada pertumbuhan yang lambat di saluran penjualan barang lain, setidaknya untuk beberapa produk.

Analis The Economist Intelligence Unit memperkirakan kebijakan pemerintah baru untuk membantu pasar duty free domestik Tiongkok menjadi hampir empat kali lipat menjadi 258 miliar yuan antara 2021-2025.

Bain memperkirakan pengeluaran global untuk barang-barang mewah mencapai 283 miliar euro (US$ 320,6 miliar) pada 2021, mulai pulih dari kemerosotan pada 2020. Angka ini melampaui 2019 sebesar 281 miliar euro dalam penjualan barang mewah.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

BAGIKAN