Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Eksterior gedung Dana Moneter Internasional (IMF), dengan logo IMG, di Washington, DC, Amerika Serikat (AS). Foto: OLIVIER DOULIERY / AFP

Eksterior gedung Dana Moneter Internasional (IMF), dengan logo IMG, di Washington, DC, Amerika Serikat (AS). Foto: OLIVIER DOULIERY / AFP

IMF Pangkas Prospek Pertumbuhan Global 2022

Rabu, 26 Januari 2022 | 09:01 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa (25/1) memangkas perkiraan produk domestik bruto (PDB) dunia untuk 2022 menjadi 4,4% atau 0,5 poin lebih rendah dari proyeksi Oktober tahun lalu.

Penurunan ini dipicu hambatan -hambatan yang disebabkan oleh wabah terbaru Covid-19, yang diprediksi mulai pudar pada kuartal II tahun ini.

Menurut lembaga kreditur internasional yang bermarkas di Washington itu, virus corona Covid-19 varian Omicron telah menciptakan rintangan bagi ekonomi global dan akan memperlambat pertumbuhan tahun ini, khususnya di Amerika Serikat (AS) dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

“Ekonomi global memasuki tahun 2022 dalam posisi yang lebih lemah dari yang proyeksi sebelumnya,” kata IMF dalam laporan pembaruan triwulanan World Economic Outlook (WEO), yang dilansir AFP.

Laporan IMF menambahkan, kemunculan varian Omicron pada akhir November tahun lalu telah mengancam membalikkan jalur tentative menuju pemulihan.

Sementara itu, kenaikan harga energi dan gangguan pada pasokan telah mengakibatkan inflasi lebih tinggi dan lebih luas ketimbang yang diantisipasi. Yang mana diproyeksikan tahan lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.

Setelah mencapai pemulihan solid pada tahun lalu, yakni ketika ekonomi global tumbuh sekitar 5,9% maka IMF memangkas proyeksi hampir setiap negara – kecuali India. Tetapi penurunan peringkat untuk Amerika Serikat dan Tiongkok menimbulkan dampak terbesar.

“Hambatan-hambatan itu diperkirakan membebani pertumbuhan Kuartal I-2022. Dampak negatifnya diperkirakan memudar mulai Kuartal II, dengan asumsi bahwa lonjakan global dalam kasus infeksi Omicron mereda dan virus tidak bermutasi menjadi varian baru yang memerlukan pembatasan mobilitas lebih lanjut,” demikian isi laporan IMF.

IMF pun sekali lagi menekankan soal pentingnya penge ndalian pandemic bagi prospek ekonomi dan mendesak vaksinasi lebih luas di negara- negara berkembang, yang telah gagal. Sementara di negara-negara maju bergerak memperluas pemberian vaksin booster di antara populasi mereka yang sudah mendapat vaksinasi lengkap.

“Tanpa upaya dari seluruh dunia ini, virus akan lebih mungkin bermutasi lebih jauh dan memperpanjang cengkeraman global pandemi,” kata IMF.

AS dan Tiongkok Melambat

Hal terpenting pada prospek global adalah isu perlambatan tajam di AS dan Tiongkok, termasuk faktor-faktor di luar dampak virus. Semisal rencana anggaran belanja sosial besar-besaran Presiden AS Joe Biden yang mandek di Kongres, dan mendorong IMF menurunkan dampak perkiraan pertumbuhan dari program tersebut terhadap perekonomian.

Masalah gangguan rantai pasokan yang melanda bisnis dan manufaktur

 Amerika, tambah IMF, turut menjadi faktor yang memicu pemangkasan 1,2 poin persentase dari PDB – yang sekarang diperkirakan meningkat 4% di tahun ini.

Meskipun secara historis itu adalah angka tinggi untuk negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia, catatan tersebut jauh lebih lambat dari ekspansi 5,6% pada 2021.

Di samping itu, aturan karantina atau lockdown baru di Tiongkok telah berkontribusi pada perlambatan konsumsi swasta. Kesulitan yang melanda sektor real estat Negeri Tirai Bambu juga mendorong penurunan 0,8 poin dari pertumbuhan yang diharapkan yang kini diproyeksikan di kisaran 4,8%.

“Ketika Covid-19 varian baru Omicron menyebar, negara-negara telah menerapkan kembali pembatasan mobilitas. Kenaikan harga energi dan gangguan pasokan juga mengakibatkan inflasi lebih tinggi dan lebih luas daripada yang diantisipasi, terutama di Amerika Serikat. Di Tiongkok, gangguan yang disebabkan oleh pandemi terkait dengan kebijakan tanpa toleransi Covid-19, dan tekanan keuangan yang berkepanjangan di antara para pengembang properti telah menyebabkan penurunan peringkat 0,8 poin persentase,” demikian laporan IMF.

Negara-negara dengan kekuatan ekonomi besar lainnya juga dilaporkan mengalami penurunan tajam di tengah gangguan pandemi yang sedang berlangsung, termasuk penurunan 0,8 poin untuk Jerman serta pemangkasan 1,2 poin untuk Brasil dan Meksiko.

Sedangkan India, tambah IMF, memperlihatkan peningkatan 0,5 poin menjadi 9%, dan Jepang menunjukkan peningkatan lebih sedikit dengan pertumbuhan 3,3%.

“Prospek untuk 2023 agak membaik, namun tidak cukup untuk menutupi kerugian karena penurunan peringkat pada 2022. Pertumbuhan global kumulatif selama 2022 dan 2023 diproyeksikan menjadi 0,3 poin persentase lebih rendah dari perkiraan sebelumnya,” lapor IMF.

Inflasi dan Suku Bunga Naik

Tantangan utama berikut yang dihadapi ekonomi global adalah lonjakan harga. Fenomena ini diperkirakan mendorong tindakan yang lebih agresif oleh bank-bank sentral utama, seperti The Federal Reserve (The Fed) AS. Yang mana langkah-langkahnya bakal meningkatkan biaya pinjaman di seluruh dunia, menghambat upaya pemulihan, terutama di Negara berkembang yang memiliki utang.

“Inflasi yang meningkat diperkirakan bertahan lebih lama dari yang dibayangkan dalam WEO Oktober. Apalagi ditambah dengan gangguan rantai pasokan yang sedang berlangsung dan harga energi yang tinggi berlanjut pada 2022. Jika pandemi meredakan cengkeramannya, dan harga energy meningkat moderat maka inflasi akan turun secara bertahap akibat ketidakseimbangan tawaran-permintaan yang berkurang pada 2022, dan respons kebijakan moneter di negara-negara besar,” kata IMF.

Baseline WEO mengasumsikan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali pada tahun ini, dan tiga kali pada 2023. Tingkat inflasi diperkirakan 3,9% di negara maju serta 5,9% di pasar Negara berkembang dan ekonomi berkembang pada 2022, sebelum mereda pada 2023. (afp)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN