Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Negara Ukraina. Foto ilustrasi: IST

Negara Ukraina. Foto ilustrasi: IST

Pengerahan Tentara AS Tingkatkan Ketegangan di Ukraina

Rabu, 26 Januari 2022 | 16:21 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

MOSKOW, investor.id – Pemerintah Rusia menuding Amerika Serikat (AS) telah meningkatkan ketegangan di Ukraina pada Selasa (25/1). Pernyataan itu menyusul langkah AS yang menyiagakan ribuan tentaranya yang kemungkinan ditujukan meningkatkan kekuatan Pakta Pertahanan AtlantikUtara (NATO).

Sebaliknya Barat menuduh Rusia telah mengumpulkan 100.000 tentara di perbatasan Ukraina, dan mempersiapkan invasi potensial ke Negara tetangganya yang pro-Barat.

Penambahan pasukan tersebut diklaim memicu krisis terbesar dalam hubungan Timur-Barat, sejak Perang Dingin. Presiden AS Joe Biden pun telah melakukan percakapan panjang dengan para pemimpin Eropa pada Senin (24/1) dan mengaku mencapai suara bulat soal bagaimana menangani Rusia.

Usai menggelar konferensi video selama satu jam 20 menit dengan para pemimpin sekutu dari Eropa dan NATO, Biden menyampaikan kepada wartawan:

“Saya mengadakan pertemuan yang sangat, sangat, sangat baik, mencapai suara bulat dengan semua pemimpin Eropa.”

Hal itu disampaikan ketika Pentagon mengatakan sebanyak 8.500 tentara AS sedang disiagakan, sementara NATO mengungkapkan sudah mengirim kapal dan pesawat jet untuk memperkuat pertahanan di kawasan Eropa timur.

Menanggapi langkah-langkah Negeri Paman Sam, Juru bicara Presiden Rusia Vladimir Putin, Dmitry Peskov menyatakan jika indakan AS hanya tersebut hanya akan memperburuk suasana yang sudah tegang.

“Amerika Serikat sedang meningkatkan ketegangan. Kami menyaksikan tindakan AS ini dengan sangat prihatin,” ujar dia, yang dilansir AFP.

Di samping itu, otoritas Rusia membantah memiliki rencana untuk menyerang Ukraina – sebuah negara di mana Rusia telah merebut semenanjung Krimea pada 2014 dan mendukung pasukan separatis di dua wilayah yang memisahkan diri.

Negeri Beruang Merah itu pun balik menuduh Barat karena meningkatkan ketegangan dengan pengerahan dan memberikan dukungan terhadap Ukraina, bekas republik Soviet. Pihak berwenang Rusia pun mengajukan daftar tuntutan keamanan, termasuk jaminan bahwa Ukraina tidak akan pernah diizinkan bergabung dengan NATO dan meminta pasukan aliansi mundur di negara-negara Eropa Timur, yang bergabung setelah Perang Dingin.

Namun, baik AS dan dan NATO menolak tuntutan tersebut. Mereka sebaliknya meminta Rusia untuk menarik diri dari perbatasan Ukraina danmemperingatkan bahwa serangan akan memicu sanksi ekonomi yang merusak, serta meningkatkan kehadiran NATO di Eropa timur.

Sebagai informasi, serangkaian pembicaraan yang berlangsung di berbagai kota di Eropa pada bulan ini telah gagal meredakan ketegangan. Padahal Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Antony Blinken dan Menlu Rusia Sergei Lavrov sudah sepakat pada pertemuan di Jenewa, Swiss pada Jumat (21/1) untuk melanjutkan pembicaraan.

Barat Terbelah

Di sisi lain, AS berjanji memberikan jawaban tertulis atas tuntutan Rusia pada pekan ini. Namun mereka menolak seruan yang melarang kemungkinan ekspansi NATO sebagai non-starter.

Alhasil, krisis itu menimbulkan perpecahan di Barat. Beberapa anggota Uni Eropa juga tampaknya kurang bersedia mengambil tindakan tegas terhadap Rusia, yang telah memasok sekitar 40% dari pasokan gas alam untuk blok itu.

Sedangkan pemerintahan baru Jerman, khususnya, menuai kritikan dari otoritas Ukraina atas penolakannya untuk mengirim senjata pertahanan ke negara itu serta ragu-ragu atas salah satu sanksi ekonomi paling keras yang sedang dibahas, yaitu memutus Rusia dari sistem pembayaran SWIFT global.

Sementara itu, Kantor Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan telah tercapai persatuan dalam menghadapi meningkatnya permusuhan Rusia. Kanselir Jerman Olaf Scholz pun meminta Rusia untuk melakukan de-eskalasi yang terlihat.

Tampaknya ada harapan untuk meredakan ketegangan setelah Pemerintah Prancis mengumumkan reencana pertemuan para pejabat Rusia dan Ukraina, bersama dengan rekan-rekan Prancis dan Jerman, di Paris pada Rabu (26/1) untuk mencoba menemukan jalan keluar dari kebuntuan.

“Presiden Emmanuel Macron berpikir ada ruang untuk diplomasi, jalan menuju de-eskalasi,” tutur pembantunya.

Baik para pembantu dan Juru bicara Kremlin, Peskov mengatakan Macron akan segera berbicara dengan Putin. Sedangkan di Kyiv – ibu kota Ukraina – para keluarga diplomat AS, Inggris dan Australia telah diperintahkan untuk pergi. Padahal Pemerintah Uni Eropa dan Ukraina mengatakan penarikan personel kedutaan besar asing terlalu dini. Kremlin pun menuduh negara-negara NATO bersikap histeria atas krisis tersebut.

Pada pekan ini mereka mengklaim, bahwa pasukan Ukraina yang memerangi separatis dengan didukung Rusia di timur negara itu dapat melancarkan serangan. Hal ini mendorong kantor Presiden Volodymyr Zelensky untuk mengatakan bahwa Ukraina tidak akan menyerah pada provokasi. Pemerintah AS sendiri sudah memperingatkan bahwa Rusia dapat membuat insiden “bendera palsu” di Ukraina untuk kemudian dapat membingkai invasi sebagai tanggapan yang dibenarkan.

AS pun sudah meningkatkan bantuan keamanan ke Ukraina, melalui unjungan Blinken ke Kyiv pada pekan lalu guna memastikan kembali bantuan sebesar US$ 200 juta.

Menurut pernyataan yang dikeluarkan Kedutaan Besar AS di Kyiv, pengiriman telah tiba pada Sabtu (22/1) dan kiriman lain dijadwalkan tiba pada Selasa, yang isinya mencakup peralatan dan amunisi untuk meningkatkan kapasitas pertahanan angkatan bersenjata Ukraina. (afp)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN