Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. ( Foto: MANDEL NGAN / AFP )

Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. ( Foto: MANDEL NGAN / AFP )

Pertemuan Dimulai, The Fed Perangi Inflasi

Kamis, 27 Januari 2022 | 00:57 WIB
Grace El Dora

WASHINGTON, investor.id – Federal Reserve (The Fed) memulai pertemuan kebijakan dimana para bankir bank sentral Amerika Serikat (AS) tersebut diharapkan memberi sinyal lebih lanjut, senjata mana yang mereka rencanakan untuk melawan inflasi, dan kapan perlu mengubah kebijakan. Pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) selama dua hari ini berlangsung di tengah aksi jual yang melanda Wall Street.

Untuk memerangi inflasi yang pada Desember 2021 mencapai 7%, The Fed dikabarkan siap menaikkan Fed Funds Rate (FFR) hingga empat kali tahun ini, masing-masing sebesar 25 basis poin. Ini bakal menjadi kenaikan pertama FFR sejak 2018. Sementara itu, sekitar 70-80% aksi jual saham di Wall Street disebabkan oleh tight money policy yang mulai diterapkan oleh The Fed tersebut.

Seorang juru bicara bank sentral mengonfirmasi rapat kebijakan telah dimulai dan akan ditutup pada Rabu (26/1) waktu setempat. Bank sentral dijadwalkan memberikan pernyataan komite dan konferensi pers oleh Gubernur The Fed Jerome Powell. Dunia tengah menunggu tanda-tanda kebijakan baru yang akan dilakukan The Fed, yang rencananya akan ditempuh untuk mengatasi lonjakan harga di AS.

Baca juga: BI Proyeksi The Fed Naikkan Suku Bunga 4 Kali

Kekhawatiran kebijakan The Fed yang lebih ketat telah mencengkeram bursa Wall Street dalam beberapa sesi terakhir. Indeks saham menurun sepanjang pekan lalu dan berakhir dengan sedikit kenaikan pada perdagangan Senin (24/1), setelah sesi dimana indeks tenggelam jauh ke zona negatif sebelum terjadi rebound.

Indeks Dow, S&P 500, dan Nasdaq kembali berada di zona merah pada perdagangan Selasa (25/1) pagi waktu setempat. Pasalnya, investor mencerna perkiraan pertumbuhan global yang lebih rendah dari proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) sambil menunggu pengumuman terbaru dari The Fed.

Bank sentral tersebut sebelumnya memotong suku bunga pinjaman menjadi nol. The Fed berjanji untuk mempertahankan tingkat tersebut lebih lama untuk memastikan pemulihan ekonomi, termasuk bagi kelompok yang terpinggirkan. Namun, bank sentral berputar haluan untuk memadamkan inflasi, setelah inflasi di AS naik 7% tahun lalu.

Baca juga: IMF Pangkas Prospek Pertumbuhan Global 2022

Mereka berada di jalur untuk mengakhiri program tapering, yakni pembelian obligasi untuk merangsang pertumbuhan ekonomi, pada Maret 2022 dan kemudian menaikkan suku bunga. Perkiraan individu bankir bank sentral yang dirilis pada pertemuan Desember 2021 memperkirakan tiga kali kenaikan suku bunga acuan tahun ini.

Pernyataan FOMC setelah pertemuan dan konferensi pers Powell akan diikuti oleh dunia, untuk tanda-tanda penyimpangan dari rencana itu. Termasuk, untuk kemungkinan langkah yang lebih agresif terhadap inflasi, atau sinyal keraguan ketika varian Omicron dari Covid-19 kembali menyerang aktivitas bisnis. Namun sebagian besar pasar naik pada perdagangan Rabu (26/1) untuk memberikan jeda dari aksi jual besar-besaran di awal pekan.

Ekonom Optimal Capital Frances Stacy mengatakan kepada Bloomberg Television bahwa Powell akan mencoba mengambil nada yang tidak terlalu hawkish. Ia memperkirakan, kebijakan The Fed akan dipandu oleh data sementara rantai pasokan yang membaik dan inflasi menunjukkan tanda-tanda memuncak. "Saya pikir apa yang akan dilakukan berpotensi meyakinkan pasar bahwa Fed siap, mau, dan mampu. Itu bisa menyebabkan antusiasme yang serius dan tekanan yang singkat," katanya.

Baca juga: Terungkap! Dokumen The Fed soal Kenaikan Suku Bunga

Sementara itu, Michael Hewson dari CMC Markets menambahkan, meskipun tidak ada perubahan kebijakan yang diharapkan, pasar akan mencari petunjuk tentang seberapa khawatir pejabat The Fed tentang headline inflasi konsumen, apakah mereka mungkin condong ke potensi kenaikan 50 basis poin pada Maret 2022. “Mengingat volatilitas minggu ini, indikasi apa pun bahwa pejabat Fed condong ke arah ini akan berisiko," kata Hewson.

Di lain pihak, ahli strategi pasar Louis Navellier melihat tiga kali kenaikan suku bunga tahun ini. Dan, setelah aksi jual baru-baru ini di seluruh pasar, peluang membeli muncul. “Saya sangat nyaman kita akan segera turun di sini. Ingat, pasar sedang ramai," katanya dalam sebuah catatan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : AFP

BAGIKAN