Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tampak luar gedung Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington DC.    Foto: DANIEL SLIM / AFP

Tampak luar gedung Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington DC. Foto: DANIEL SLIM / AFP

IMF: Suku Bunga Naik, Pasar Hadapi Potensi Turbulensi-Turbulensi

Jumat, 28 Januari 2022 | 11:18 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan potensi turbulensi lebih lanjut di pasar keuangan, seiring pemerintah di seluruh dunia beralih ke mode pemulihan.

Langkah bank-bank sentral untuk mengetatkan kebijakan moneter dan meredam kenaikan inflasi juga dapat mendorong saham semakin dalam ke zona merah. Sekalipun para pembuat kebijakan menjanjikan transisi yang mulus.

Advertisement

“Kita tentu bisa melihat pengetatan lebih lanjut dari kondisi keuangan, dan itu berarti aset berisiko seperti ekuitas dapat dijual lebih lanjut,” ujar Tobias Adrian dari IMF, penasihat keuangan dan direktur pasar moneter dan modal, kepada Geoff Cutmore dari CNBC, Kamis (27/1).

Adrian menambahkan, reaksi dari sebagian besar pasar akan bergantung pada kemampuan bank sentral untuk mengomunikasikan rencananya.

Ia juga mendesak adanya transparansi. Seperti diketahui bahwa pada Rabu (26/1) waktu setempat The Federal Reserve (The Fed) mengisyaratkan dapat menghentikan program pembelian aset dan mulai menaikkan suku bunga pada Maret 2022.

“Mudah-mudahan ini tidak menimbulkan gejolak, tapi berjalan lancar. Semisal, jika pengetatan lebih lanjut di luar dugaan mencapai 50 basis poin, akan terjadi aksi jual besar-besaran di pasar ekuitas,” katanya.

Gangguan seperti itu, lanjut Adrian, dapat merembet juga ke pasar kripto yang telah semakin berkorelasi dengan kondisi di pasar keuangan tradisional, karena belakangan mengalami aksi jual besar-besaran.

Adrian menyampaikan pernyataan ketika IMF merilis laporan Stabilitas Keuangan Global (Global Financial Stability) pada Kamis waktu setempat. Laporan ini menyusul Prospek Ekonomi Dunia (World Economic Outlook) yang dirilis awal pekan ini, yang mana IMF menurunkan pertumbuhan global menjadi 4,4% pada 2022.

Meskipun ada tekanan menurun dari kenaikan suku bunga, laporan Kamis mencatat bahwa pendapatan perusahaan diperkirakan melampaui tingkat pra-pandemi pada 2022 di sebagian besar sektor. Sementara itu, spread obligasi yaitu metrik utama untuk mengukur harga sekelompok obligasi – tetap di bawah level rata-rata 2019. (sumber lain)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN