Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kantor pusat Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt am Main, Jerman barat,   Foto: Daniel Roland / AFP

Kantor pusat Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt am Main, Jerman barat, Foto: Daniel Roland / AFP

Inflasi Semakin Menekan Tapi ECB Pertahankan Kebijakan 

Jumat, 4 Februari 2022 | 09:57 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

FRANKFURT, investor.id - Bank sentral Eropa (ECB) mempertahankan kebijakan moneter uang longgar pada Kamis (3/2), meskipun zona euro mencatatkan rekor inflasi pada bulan lalu sehingga bank sentral yang berbasis di Frankfurt, Jerman itu semakin dalam tekanan untuk meresponsnya.

Tingkat inflasi di zona euro secara tak terduga naik menjadi 5,1% pada Januari 2022, menurut data resmi Eurostat yang dirilis Rabu (2/2). Angka tersebut merupakan rekor tertinggi sejak data inflasi mulai dicatatkan untuk zona euro pada 1997. Angka inflasi itu juga 0,1 poin lebih tinggi dari angka Desember 2021 dan jauh di atas target 2% yang ditetapkan ECB.

Kenaikan tajam harga yang terlihat secara global telah mendorong bank sentral lain untuk bertindak. Bank sentral Inggris (BoE) telah mengumumkan kenaikan suku bunga acuan hingga seperempat poin menjadi 0,5% pada pertemuan di hari yang sama.

Baca juga: ECB Tidak Akan Naikkan Suku Bunga pada 2022

The Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat (AS) diperkirakan segera mengikuti langkah yang sama, setelah memberi sinyal untuk menaikkan suku bunga beberapa kali di tahun ini. Tetapi para pembuat kebijakan ECB membiarkan suku bunganya pada rekor terendah. Yakni suku bunga deposito negatif, yang membebani lembaga keuangan untuk memarkirkan uang mereka.

Meski pasar sudah memperkirakan keputusan mempertahankan kebijakan, tekanan pada ECB untuk mengetatkan kebijakan akan meningkat sepanjang tahun ini. Hal ini disampaikan Fritzi Koehler-Geib, kepala ekonom di lembaga pemberi pinjaman publik Jerman KfW.

Dalam konferensi persnya, Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan bahwa laju inflasi akan tetap meningkat. Lebih lama dari perkiraannya. Tapi pada akhirnya akan menurun. Dan penurunan itu akan terjadi di tahun ini juga.

Baca juga: ECB Pertahankan Stimulus di Tengah Meningkatnya Inflasi

“Faktor pendorong utama kenaikan inflasi adalah harga makanan dan energi. Dibandingkan ekspektasi kami pada Desember, prospek inflasi tetap meningkat, terutama dalam jangka pendek. Jika tekanan harga mendorong kenaikan upah lebih tinggi atau kegiatan ekonomi meningkat jauh lebih pesat, inflasi akan menjadi lebih tinggi,” tutur Lagarde.

Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde saat menyampaikan konferensi pers hasil pertemuan kebijakan dewan gubernur ECB di Frankfurt, Jerman, Kamis (3/2) yang mana bank sentral zona euro tersebut mempertahankan kebijakan moneter walau dihadapkan pada rekor inflasi bulan lalu. Foto: Investor Daily/Michael Probst / POOL / AFP
Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde saat menyampaikan konferensi pers hasil pertemuan kebijakan dewan gubernur ECB di Frankfurt, Jerman, Kamis (3/2) yang mana bank sentral zona euro tersebut mempertahankan kebijakan moneter walau dihadapkan pada rekor inflasi bulan lalu. Foto: Investor Daily/Michael Probst / POOL / AFP

Ekonomi zona euro mencapai level sebelum pandemi virus corona pada kuartal IV-2021. Tetapi pengetatan kebijakan yang dilakukan terlalu cepat dapat mengancam menggagalkan pemulihan.

“(ECB harus menapaki garis tipis antara) menurunnya kebutuhan untuk terus merangsang ekonomi dan benar -benar menurunkan inflasi yang lebih tinggi,” kata Carsten Brzeski, kepala analis makro di bank ING.

Lonjakan inflasi di Eropa telah didorong oleh berbagai faktor. Tetapi sebagian besar kenaikan harga terjadi di sisi pasokan dibandingkan dari sisi permintaan.

Di sektor ini, tidak banyak yang dapat dilakukan ECB untuk mempengaruhi perubahan. Kekurangan bahan mentah dan komponen utama terjadi di tingkat global, mulai dari kayu hingga semikonduktor.

Baca juga: Tekanan kepada ECB Meningkat Merespons Lonjakan Inflasi

Kondisi ini telah membebani produksi dan menambah tekanan kenaikan harga. Selain itu, harga energi telah melonjak dan mencapai tertinggi dalam beberapa tahun menjelang akhir tahun lalu.

Di Eropa pasar dipengaruhi sentimen ketegangan yang meningkat antara pemerintah Rusia dengan negara-negara Barat, atas pengerahan pasukan Rusia di perbatasan Negara tersebut dengan Ukraina.

Setiap eskalasi politik dapat menyebabkan harga melonjak lebih jauh. Anggota dewan eksekutif ECB Isabel Schnabel juga memperingatkan bahwa proses menghentikan penggunaan bahan bakar fosil di Eropa dapat menyebabkan inflasi tetap lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Pengetatan kebijakan moneter tidak bisa berbuat banyak untuk menurunkan harga energi atau menghindari konflik di Ukraina. Namun ECB akan mengawasi dampak tak langsung, kata Schnabel kepada harian Jerman Sueddeutsche Zeitung belum lama ini.

Harga energi yang lebih tinggi bisa berarti barang dan jasa menjadi lebih mahal, sedangkan upah mulai naik. (afp)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN