Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Para buruh di sebuah pabrik sepatu untuk pasar ekspor di kota Huainan, Provinsi Anhui, Tiongkok.   Foto ilustrasi: STR / AFP

Para buruh di sebuah pabrik sepatu untuk pasar ekspor di kota Huainan, Provinsi Anhui, Tiongkok. Foto ilustrasi: STR / AFP

EUI: Pemulihan Pascapandemi Berlanjut, PDB Global Berpeluang Tumbuh 4,1%

Senin, 7 Februari 2022 | 04:56 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Lembaga riset Economist Intelligence (EIU) memperkirakan pemulihan pascapandemi akan berlanjut pada 2022 dan produk domestik bruto (PDB) global kemungkinan dapat meningkat sebesar 4,1%. Rebound ini kemungkinan akan mampu menutupi ketimpangan kecepatan pemulihan di berbagai negara.

“Kami juga melacak sejumlah skenario yang dapat menggagalkan pemulihan setelah pandemi dan telah berdampak pada operasi bisnis global,” katanya dalam laporan yang dirilis pekan lalu.

Advertisement

Memburuknya hubungan Amerika Serikat dan (AS) Tiongkok untuk mendapatkan pengaruh global. Presiden AS Joe Biden mencoba meyakinkan negara-negara yang berpikiran sama, yang kebanyakan adalah negara Barat untuk secara kolaboratif menekan Tiongkok.

Secara ekstrem, skenario ini dapat menyebabkan sikap netral menjadi penghalang pemulihan ekonomi bagi negara ketiga serta dapat membagi ekonomi pendukung untuk Tiongkok atau untuk AS.

Baca juga: Efek Omicron, Bank Dunia Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Global 2022 Jadi 4,1%

Berikutnya, pengetatan moneter yang cepat dan tidak terduga dapat mengarah pada kehancuran pasar saham AS. Gangguan rantai pasokan, harga energi yang lebih tinggi, kebijakan moneter yang sangat longgar, dan pemulihan ekonomi riil berkontribusi pada kenaikan tajam dalam inflasi AS pada 2021. Meskipun faktor ini cenderung mereda karena ekonomi AS kembali normal dan ada kemunginan lonjakan inflasi tidak bertahan lama, tetap ada alasan bagi The Federal Reserve (The Fed) untuk mulai pengetatan kebijakan moneter secara bertahap dengan mengurangi pembelian asetnya.

Namun jika pengetatan moneter gagal mengendalikan inflasi jangka menengah, kenaikan suku bunga pada pertengahan 2022 mungkin diperlukan. Percepatan kenaikan suku bunga cukup untuk memulai penyesuaian pasar saham yang tajam.

Sementara itu, penurunan sektor properti di Tiongkok menyebabkan perlambatan ekonomi yang tajam. Raksasa properti Tiongkok, Evergrande, telah melewatkan beberapa pembayaran utang dengan total sekitar US$ 300 miliar. Eksposur perusahaan di sebagian besar ekonomi Tiongkok tergolong besar, sehingga potensi gagal bayar (default) menjadi risiko serius dan akan mempengaruhi keuangan di sektor lain.

Baca juga: Lima Ancaman Terhadap Ekonomi Global di 2022

Jika sentimen real estat memburuk, maka dapat menyebabkan serangkaian default di seluruh sektor ini dan kondisi menjadi jauh lebih sulit untuk dikendalikan.

Hal ini dapat meruntuhkan harga properti dan mendorong pertumbuhan PDB riil Tiongkok jauh di bawah norma 6-7% dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan yang lemah dapat memicu penurunan ekonomi global dan permintaan menurun.

Pasar Berkembang

Berikutnya, kata EIU, kondisi keuangan domestik dan global yang lebih ketat dapat melemahkan pemulihan di pasar Negara berkembang. Tekanan inflasi yang berasal dari rebound harga komoditas telah menyebabkan beberapa negara berkembang pasar, termasuk Brasil,Meksiko, Rusia, Sri Lanka, dan Ukraina mengetatkan kebijakan moneter pada 2021.

Baca juga: Wamenkeu: Ketidakpastian Masih Bayangi Pemulihan Ekonomi Global

Normalisasi suku bunga akan menambah biaya utang yang lebih tinggi bagi pemerintah. Ini bisa meningkatkan tekanan untuk konsolidasi fiskal pro siklus agresif, yang pada akhirnya menghambat pemulihan ekonomi negara-negara berkembang Risiko akan meningkat, terutama di negara-negara yang memiliki utang luar negeri yang sangat tinggi seperti di Argentina dan Turki, di mana penjualan obligasi dapat memicu krisis mata uang dan/ atau krisis utang.

Sementara itu, muncul varian baru Covid-19 yang terbukti resisten terhadap vaksin. Salah satu risiko utama untuk pemulihan global adalah jika Covid-19 baru yang lebih agresif terbukti resisten terhadap vaksin yang ada.   

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN