Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung The Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat. ( Foto: AFP )

Gedung The Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat. ( Foto: AFP )

Fed: Kenaikan Suku Bunga Maret akan Tergantung Pada Data

Rabu, 23 Februari 2022 | 05:00 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

WASHINGTON, investor.id - Pejabat Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat (AS) memperkirakan, inflasi tinggi masih akan berlanjut, setidaknya hingga paruh pertama 2022. Karena itu, ia mendukung kenaikan suku bunga pada Maret 2022, meskipun besaran kenaikan masih akan bergantung pada data.

"Saya mendukung kenaikan suku bunga dana federal pada pertemuan kami berikutnya pada Maret," kata Gubernur Michelle Bowman, Selasa (22/2).

Bowman menekankan, jika ekonomi berkembang seperti yang diharapkan maka kenaikan suku bunga tambahan sudah tepat dalam beberapa bulan mendatang. ia tidak merinci seberapa besar kenaikan yang diharapkan saat ini.

Baca juga: G20 Bahas Normalisasi The Fed, Apa Hasilnya?

"Saya akan mengamati data dengan cermat untuk menilai ukuran kenaikan yang tepat," katanya saat berpidato di Konferensi Perbankan Komunitas Asosiasi Bankir Amerika. Saat ini Bowman menjabat sebagai anggota Dewan Gubernur dan mengepalai subkomite di bank-bank kecil.

Inflasi AS berada di level tertinggi dalam empat dekade. Kenaikan tersebut menekan popularitas Presiden AS Joe Biden dan memberikan pukulan berat bagi rumah tangga maupun bisnis di ekonomi terbesar dunia.

Pasar sudah mengantisipasi kenaikan pertama suku bunga dari perkiraan beberapa kali kenaikan. Publik memperkirakan rencana ini akan disampaikan pada pertemuan kebijakan 15-16 Maret 2022. Beberapa ekonom bahkan memperkirakan kenaikan kuat hingga 50 basis poin, dua kali lipat dari jumlah biasanya.

Bowman mengantisipasi inflasi tinggi yang tidak nyaman akan bertahan setidaknya hingga paruh pertama 2022. "Kita mungkin melihat tanda-tanda penurunan inflasi pada paruh kedua tahun ini, tetapi ada risiko substansial bahwa inflasi yang tinggi dapat berlanjut," katanya, dengan nada peringatan.

Baca juga: Risalah Pertemuan Sebut The Fed Segera Naikkan Suku Bunga dan Susutkan Neraca

Dia juga mengatakan kondisi pasar tenaga kerja saat ini konsisten, sementara Fed menyasar angka pekerjaan penuh di AS. Tingkat pengangguran mencapai 4% pada Januari 2022, sementara pengusaha secara signifikan menghadapi masalah kekurangan tenaga kerja.

Ukuran lain yang akan membantu memperlambat inflasi adalah pengurangan neraca Fed. Bank sentral tersebut sejak November 2021 telah mengurangi pembelian (tapering) obligasi dan sekuritas bulanan yang dimaksudkan untuk membantu ekonomi mengatasi penurunan akibat pandemi Covid-19. Pembelian aset ini akan dikurangi menjadi nol pada Maret 2022.

"Ini akan menghapus sumber lain dari stimulus yang tidak dibutuhkan untuk perekonomian. Dalam beberapa bulan mendatang, kita perlu mengambil langkah berikutnya, yaitu mulai mengurangi neraca Fed dengan menghentikan reinvestasi surat berharga yang sudah jatuh tempo, yang disimpan dalam portofolio," kata Bowman.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : AFP

BAGIKAN