Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pemadam kebakaran menangani sebuah rumah yang terbakar terkena roket Grad Rusia di distrik Shevchenkivsky, Kyiv, Ukraina, Rabu (23/3). Pada saat untuk pertama kalinya ada tanda-tanda pasukan Ukraina bergerak ofensif, dengan berhasil merebut kembali sebuah kota kecil dekat Kyiv dan menyerang pasukan Rusia di sebelah selatan negaranya. Foto: Investor Daily/Aris Messinis / AFP

Pemadam kebakaran menangani sebuah rumah yang terbakar terkena roket Grad Rusia di distrik Shevchenkivsky, Kyiv, Ukraina, Rabu (23/3). Pada saat untuk pertama kalinya ada tanda-tanda pasukan Ukraina bergerak ofensif, dengan berhasil merebut kembali sebuah kota kecil dekat Kyiv dan menyerang pasukan Rusia di sebelah selatan negaranya. Foto: Investor Daily/Aris Messinis / AFP

Anggaran Pertahanan AS Bakalan Tidak Jadi Dikurangi

Kamis, 24 Maret 2022 | 12:26 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Sebagian besar anggota Partai Demokrat berpikir bahwa kendali mereka atas Gedung Putih dan Kongres akan memberikan kesempatan untuk mengontrol pengelolaan belanja militer, yang dilaporkan telah melonjak 140% sejak 2000. Lalu anggarannya akan dialihkan untuk meningkatkan program sosial yang terasa sudah diabaikan.

Namun, tank-tank Rusia yang meluncur ke Ukraina telah memberikan tekanan yang kuat untuk meningkatkan secara signifikan anggaran Pentagon atau Departemen Pertahanan (Dephan) AS. Hal ini berpotensi tidak hanya untuk tahun mendatang.

Advertisement

Bulan ini saja, Kongres telah meloloskan kenaikan anggaran belanja pertahanan hampir 6%. Jumlah tersebut diperkirakan terus meningkat meskipun Presiden Joe Biden menarik pasukan Amerika Serikat (AS) dari Afghanistan pada Agustus, setelah 20 tahun perang.

“Dunia tidak bekerja sama,” ujar Senator Demokrat Tim Kaine, yang dilansir Reuters pada Rabu (23/3).

Baca juga: Militer AS Lumpuhkan Pesawat dan Kendaraan Lapis Baja

Kaine juga menambahkan, bahwa Rusia dan Tiongkok sama-sama mengkhawatirkan. “Pengalihan ancaman utama dari organisasi teroris non-negara ke negara- bangsa – dan dua negara yang besar – itu bakal memerlukan investasi yang signifikan, dan beberapa investasi untuk memperlengkapi kembali,” kata Kaine kepada Reuters.

Seperti diketahui, isu pemangkasan anggaran pertahanan selalu menjadi penjualan yang sulit di Kongres. Pasalnya dukungan militer yang kuat sudah lama berada dalam perjanjian bipartisan.

Di samping itu, kontraktor-kontraktor pertahanan memberikan pengaruh kuat sebagai industri terdepan, baik sebagai pengusaha besar dan donor kampanye.

Baca juga: Pangkalan Militer AS di Okinawa Dikarantina

Pada tahun pertamanya menjabat, Biden telah mengajukan anggaran guna menjaga pengeluaran Departemen Pertahanan tidak berubah. Tapi Kongres mendukung peningkatan anggaran, bahkan sebelum pemerintah Presiden Rusia Vladimir Putin menyerang negara tetangga Ukraina pada bulan lalu.

Ketua Komite Angkatan Bersenjata DPR Adam Smith berharap dapat mengurangi anggaran Pentagon yang membengkak. Namun dalam pidatonya di American Enterprise Institute bulan ini, ia mengatakan telah ada perubahan.

“Invasi Rusia ke Ukraina secara fundamental mengubah sikap keamanan nasional kita dan sikap pertahanan kita. Itu membuatnya lebih rumit dan membuatnya lebih mahal,” tuturnya.

Menurut para analis, anggota parlemen dan pembantu kongres anggaran pengeluaran yang lebih tinggi kemungkinan berlanjut, bahkan setelah kekhawatiran paling mendesak tentang ambisi Rusia memudar.

Baca juga: Sistim Pertahanan AS Siap Hadapi Rudal Korea Utara

“Jangan pernah menyia-nyiakan krisis. Gunakan itu sebagai argumen untuk mendapatkan posisi kebijakan yang selalu Anda inginkan,” ujar Valerie Shen, direktur program Keamanan Nasional di lembaga riset Third Way, di Washington.

Kenaikan Permanen

Sebagai informasi, sekutu-sekutu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), seperti Jerman telah meningkatkan belanja militer mereka dalam sebulan terakhir.

Sementara itu, Amerika Serikat diprediksi terus membelanjakan lebih banyak demi mendukung perlawanan Ukraina yang sedang berlangsung, dan mendukung sekutu-sekutu yang paling rentan terhadap ancaman Rusia.

“Saya bisa melihat Amerika Serikat meningkatkan kehadirannya di Eropa. Hal ini bisa berupa peningkatan permanen dalam sikap pertahanan atau penempatan sementara,” kata Todd Harrison, seorang analis anggaran pertahanan di Center for Strategic and International Studies (CSIS).

Baca juga: Atase Pertahanan Asing Kagumi Simulator Alutsista RI

Biden sendiri diperkirakan mengumumkan permintaan anggaran fiskal 2023 pada 28 Maret. Dalam spekulasi Harrison, Kongres – yang mengontrol pengeluaran federal – dapat menambahkan US$ 20 miliar hingga US$ 30 miliar atas segala yang diminta presiden, yang diusung Demokrat. Dengan total anggaran pertahanan nasional AS 2023 yang bakal mencapai US$ 800 miliar, ini jelas menguntungkan pendapatan produsen senjata pasca pandemi Covid-19 yang menghalangi rantai pasokan untuk kedirgantaraan dan microchip serta mengganggu penjualan.

Senator Republik Richard Shelby di Komite Alokasi Senat mengatakan, masih terlalu dini untuk mengetahui jumlah keseluruhan anggaran militer yang mungkin diterima Kongres, terutama mengingat situasi yang tidak menentu di Ukraina.

“Kita seharusnya tidak pernah memunggungi orang-orang yang berjuang untuk kebebasan,” katanya kepada Reuters.

Baca juga: Menteri Pertahanan AS Bela Pembebasan Tentara AS

Indeks Pertahanan AS di Dow Jones, yang melacak saham-saham kontraktor pertahanan, naik hampir 14% sejak 24 Februari – di hari ketika Rusia menyerang Ukraina. Yang menurut Rusia sebagai operasi militer khusus. Sebagai iinformasi, kontraktor pertahanan terbesar yang berbasis di AS adalah Lockheed Martin, Raytheon Technologies, Boeing Co, Northrup Grumman, dan General Dynamics Corp.

Tidak Berhenti Berusaha

Selama setahun terakhir, kelompok Demokrat progresif telah menekan para pemimpin partai untuk menggelontorkan belanja lebih banyak, terutama pada prioritas non-pertahanan seperti memerangi perubahan iklim; membantu keluarga berpenghasilan rendah dengan pengasuhan anak; dan memperluas perawatan kesehatan untuk orang tua.

Sedangkan anggota parlemen yang ingin menekan kenaikan belanja militer mengatakan tidak akan berhenti berusaha, meskipun mereka tidak optimistis.(sumber lain)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN