Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden. ( Foto: Nicholas Kamm / AFP )

Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden. ( Foto: Nicholas Kamm / AFP )

AS akan Pasok Lebih Banyak Gas Alam ke UE

Sabtu, 26 Maret 2022 | 21:39 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BRUSSELS, investor.id Presiden Joe Biden menyampaikan pada Jumat (25/3) bahwa Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan memasok lebih banyak gas alam cair (LNG) ke Uni Eropa (UE) untuk membantu mengurangi ketergantungan blok tersebut akan pasokan gas Rusia.

“Hari ini kami telah menyepakati rencana permainan bersama guna meraih tujuan itu sambil mempercepat kemajuan kami menuju masa depan energi bersih yang aman. Inisiatif ini berfokus pada dua masalah inti, satu membantu Eropa untuk mengurangi ketergantungannya pada gas Rusia secepat mungkin, dan kedua mengurangi permintaan gas Eropa secara keseluruhan,” ujar dia, yang dilansir Reuters.

Advertisement

Di sisi lain, Pemerintah Jerman telah secara drastis memangkas pembelian pasokan energi dari Rusia di tengah serangan Negeri Beruang Merah ke Ukraina. Otoritas menambahkan, impor minyak akan dikurangi setengahnya pada Juni dan pengiriman batu bara berakhir pada musim gugur.

Baca juga: AS, UE Bentuk Gugus Tugas untuk Menghentikan Impor Gas Rusia

“Dalam beberapa pekan terakhir, bersama dengan semua pemain terkait, kami telah melakukan upaya-upaya intensif untuk mengimpor lebih sedikit energi fosil dari Rusia dan memperluas basis pasokan kami. Tonggak penting pertama telah dicapai untuk membebaskan kita dari cengkeraman impor Rusia,” kata Menteri Ekonomi Robert Habeck, yang dilansir AFP.

Sebelum Rusia meluncurkan operasi militer khusus ke Ukraina, sekitar sepertiga impor minyak Jerman, 45% pembelian batu bara dan 55% impor gas, kesemuanya berasal dari Rusia. Ketergantungan negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di Eropa terhadap energi Rusia itu pun terungkap sebagai sebuah kelemahan, ketika sekutu-sekutu Barat berjuang menghukum Presiden Vladimir Putin atas perintah serangan ke Ukraina.

“Dengan seruan embargo energi yang semakin keras, perusahaan-perusahan dengan pemasok Rusia akan membiarkan kontrak mereka habis dan beralih ke pemasok lain dengan kecepatan yang gila,” tambah Habeck.

Baca juga: IEA akan Kurangi Impor Gas Rusia ke UE

Sejauh ini, Jerman masih enggan mendukung embargo. Namun AS dan UE pada Jumat mengumumkan satuan tugas yang bertujuan mengurangi ketergantungan blok mata uang tunggal atas bahan bakar fosil Rusia. Sebagai akibat dari peralihan kontrak maka pengiriman minyak dari Rusia sudah terlihat turun 25% atau berkurang setengahnya pada pertengahan tahun, dan sepenuhnya berhenti pada akhir tahun ini.

Demikian halnya dengan perusahaan listrik Jerman yang akan menghentikan kiriman batu bara dari Rusia. “Pada musim gugur, kita bisa mandiri dari batu bara Rusia,” demikian pernyataan Kementerian Ekonomi Jerman.

Tetapi, diakui oleh Habeck bahwa soal impor gas akan menjadi hal yang lebih rumit. Bahkan Jerman diperkirakan baru bisa menghentikan sebagian besar pengiriman Rusia pada pertengahan 2024.

Baca juga: Jerman-AS Capai Kompromi untuk Pipa Gas Rusia

Jerman menyampaikan pada Maret bahwa pihaknya telah membelanjakan anggaran sebanyak 1,5 miliar euro (US$ 1,7 miliar) untuk membeli gas alam cair (LNG) dari para pemasok, seperti Qatar atau AS. Namun, terminal penerima untuk gas tidak tersedia, sehingga tergantung pada terminal negara tetangga.

Selain itu, rencana untuk membangun terminal LNG di darat sedang dipercepat, meskipun kemungkinannya tidak akan selesai sebelum 2026. Kementerian Ekonomi menambahkan, untuk saat ini ada tiga terminal LNG terapung – pada dasarnya berupa kapal besar yang ditambatkan di pelabuhan untuk menerima persediaan – yang bakal dipesan oleh raksasa energi Uniper dan RWE.

Siagakan Keamanan

Koalisi Jerman, yakni Sosial Demokrat, Hijau dan FDP liberal sendiri telah mengamati transisi energi ke energi terbarukan yang akan membuat Jerman netral iklim pada 2045.

Tidak heran bila perusahaanperusahaan berencana mengurangi penggunaan batu baranya, yang akan berakhir pada 2030. Sedangkan penggunaan gas alam diprediksi meningkat untuk sementara sampai peralihan ke energi terbarukan selesai.

Baca juga: Perusahaan Migas Rusia Tawarkan Crude

Tetapi perang di Ukraina telah mengubah perhitungan Jerman, sekaligus mengungkap ketergantungan negara yang menghancurkan terhadap energi Rusia.

Habeck – yang berasal dari partai Hijau – menyadari untuk melakukan pencarian di seluruh dunia agar dapat membeli batu bara. Jerman pun berusaha menjaga pembangkit listrik tenaga batu baranya beroperasi lebih lama sebagai bentuk siaga keamanan.

Di bawah pengumuman gugus tugas AS-UE pada Jumat, Negeri Paman Sam berjanji membantu blok UE mengurangi ketergantungannya pada energi Rusia dengan memasok tambahan 15 miliar meter kubik LNG di tahun ini.

Tetapi mengingat Rusia yang terus melanjutkan perangnya, terlepas sanksi-sanksi luar biasa yang dijatuhkan oleh sekutu-sekutu Barat. Tampaknya tekanan yang meningkat telah mendorong UE untuk memutuskan jalur kehidupan ekonomi Rusia dengan melarang impor energi.

Baca juga: Pertamina Akan Rampungkan Akuisisi Blok Migas Rusia

Walau dihadapkan pada oposisi dari Jerman, sejauh ini UE masih menghindar mengikuti jejak AS yang melarang impor energi Rusia.

Bahkan pada Rabu (23/3), Putin menaikkan taruhan dengan menuntut pembayaran gas dalam bentuk mata uang rubel. Permintaan ini dianggap Jerman sebagai pelanggaran kontrak.

“Terlalu dini untuk embargo energi penuh. Tetapi setiap kontrak yang dihentikan akan merugikan Putin,” ungkap Habeck. (afp/sumber lain)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN