Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Warga berlindung di ruang bawah tanah sebuah sekolah tempat mereka tinggal selama sebulan, di sepanjang distrik garis depan Kharkiv pada 27 Maret 2022. Pasukan Rusia berkemah beberapa kilometer dari sekolah, menjarah tempat itu setiap hari. (FOTO: ARIS MESSINIS / AFP)

Warga berlindung di ruang bawah tanah sebuah sekolah tempat mereka tinggal selama sebulan, di sepanjang distrik garis depan Kharkiv pada 27 Maret 2022. Pasukan Rusia berkemah beberapa kilometer dari sekolah, menjarah tempat itu setiap hari. (FOTO: ARIS MESSINIS / AFP)

Pembicaraan Ukraina-Rusia Akan Dilanjutkan, Demikian Situasi Lengkapnya

Senin, 28 Maret 2022 | 09:30 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

KYIV, investor.id – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan pemerintahnya berhati-hati mempertimbangkan permintaan pemerintah Rusia atas netralitas Ukraina. Ini menjadi poin utama perdebatan, saat para perunding kedua belah pihak bersiap untuk putaran pembicaraan baru yang bertujuan mengakhiri perang brutal selama satu bulan. Demikian situasi lengkapnya.

“Poin negosiasi ini dapat saya mengerti sedang dibahas, sedang dipelajari dengan cermat,” kata Zelensky selama wawancara dengan beberapa organisasi berita independen Rusia, Minggu (27/3).

Advertisement

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan bahwa setidaknya 1.100 warga sipil telah tewas dan lebih dari 10 juta telah mengungsi dalam perang. Konflik berlangsung jauh lebih lama dari yang diperkirakan para pemimpin Rusia.

Baca juga: Kim Jong Un Janjikan Kekuatan Militer Luar Biasa, Kata Media Pemerintah

Pembicaraan baru akan dimulai di Turki di awal pekan ini, menurut laporan. Sebelumnya tentara Rusia mengatakan akan mulai fokus pada Ukraina timur, dalam sebuah langkah yang oleh beberapa analis dilihat sebagai pengurangan ambisi Rusia.

Pernyataan Mengejutkan

Tetapi Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mempertanyakan interpretasi itu. Menurut laporan, ia mungkin telah mengacaukan pembicaraan yang akan datang dengan mengatakan di Warsawa, Polandia, bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tidak bisa tetap berkuasa.

Pernyataan dadakan itu memicu kemarahan di Rusia dan menebar kekhawatiran luas di AS dan luar negeri. Ini tampaknya melemahkan upaya Biden dalam kunjungan Eropa untuk menggarisbawahi koalisi yang dibuat dengan hati-hati dalam mendukung Ukraina.

Baca juga: Ukraina Minta Dunia Tingkatkan Produksi Sumber Daya Energi

“Tidak,” tegas Biden, ketika ditanya apakah dia telah menyerukan perubahan rezim. Kanselir Jerman Olaf Scholz juga mengatakan kepada media bahwa itu bukan tujuan aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), juga bukan tujuan presiden AS.

Tetapi Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan bahwa setiap eskalasi dalam kata-kata atau tindakan dapat membahayakan upayanya dalam pembicaraan dengan Putin. Pertemuan ini diharapkan dapat menyepakati evakuasi warga sipil dari kota pelabuhan Mariupol yang hancur.

Mengubah Arah Operasi

Baik diplomasi yang intens maupun sanksi yang terus meningkat tidak meyakinkan Putin untuk menghentikan perang.

Tetapi ketika pemerintah Rusia menghadapi masalah taktis dan logistik yang serius, kepala intelijen Ukraina Kyrylo Budanov mengatakan Putin mungkin berusaha untuk membagi negara itu dengan cara seperti Korea. Yakni untuk memaksakan garis pemisah antara wilayah yang diduduki dan tidak diduduki.

“Setelah kegagalan untuk merebut Kyiv dan menghapus pemerintah Ukraina, Putin mengubah arah operasional utamanya. Ini adalah (blok) selatan dan timur. Ini akan menjadi upaya untuk mendirikan Korea Selatan dan Utara di Ukraina,” tulisnya di media sosial Facebook.

Pemerintah Rusia mungkin mencoba untuk membangun zona quasi-state (negara independen) yang diduduki dengan mata uangnya sendiri, katanya, sambil menambahkan bahwa pasukan Ukraina dapat menggagalkan rencana tersebut.

Ukraina Netral?

Tuntutan utama dari Putin, bahkan sebelum pasukannya masuk ke Ukraina pada 24 Februari 2022, adalah agar Ukraina membatalkan niat bergabung dengan NATO.

Pemerintah Rusia di awal bulan ini mengatakan bahwa Swedia dan Austria menawarkan model netralitas yang bisa diadopsi Ukraina.

Otoritas Ukraina menolak usulan tersebut. Dalam wawancaranya dengan wartawan Rusia, Zelensky menuduh Putin menyeret negosiasi dan memperpanjang konflik.

Perjanjian NATO pada 1949 memberikan hak kepada setiap negara Eropa untuk mengajukan keanggotaan. Wakil Menteri Luar Negeri (Menlua) AS Wendy Sherman mengatakan pada Januari 2022 bahwa pihaknya tidak akan menutup pintu pada kebijakan pintu terbuka NATO.

Baca juga: Pasukan Ukraina Berhasil Merangsek ke Kyiv Timur

Tetapi anggota NATO mengatakan bahwa keanggotaan Ukraina adalah bukanlah pilihan terbaik. Jika Ukraina bergabung dengan aliansi Barat yang beranggotakan 30 orang, NATO akan berkomitmen untuk membantu mempertahankannya dari serangan apa pun di masa depan.

Pengepungan Mariupol Berlanjut

Putaran baru pembicaraan terjadi ketika Rusia memiliki kendali de facto atas republik Donetsk dan Lugansk, daerah separatis, di wilayah Donbas di timur Ukraina. Kepala wilayah separatis Lugansk Ukraina mengatakan akan mengadakan referendum untuk menjadi bagian dari Rusia, namun ditolak oleh pemerintah Ukraina.

Saat pasukan Rusia melanjutkan pengepungan Mariupol yang menghancurkan, penduduknya menceritakan tentang kehancuran dan kematian yang mengerikan. Kota tersebut menjadi hambatan utama bagi ambisi pemerintah Rusia untuk mendapatkan kendali tak terputus, dari Donbas hingga Semenanjung Krimea.

Sementara itu, pemerintah Ukraina membuat dorongan baru untuk mengevakuasi warga sipil pada Minggu dengan perjanjian rute bantuan bagi orang-orang untuk pergi dengan mobil atau bus, kata Wakil Perdana Menteri Ukraina Iryna Vereshchuk.

Beberapa upaya sebelumnya untuk menetapkan rute aman bagi 170.000 warga sipil yang terperangkap masih tidak berhasil. Kedua negara saling tuding atas kegagalan itu.

Macron pada Minggu mengatakan bahwa dirinya akan berbicara dengan Putin dalam dua hari ini. Ia mengharapkan gencatan senjata dan penarikan total pasukan Rusia dengan cara diplomatik, untuk memungkinkan evakuasi penuh.

“Jika kita ingin melakukan itu, kita tidak dapat meningkatkannya dengan kata-kata atau tindakan (menyulut),” katanya kepada penyiar France 3, bergerak untuk meredam kata-kata Biden yang blak-blakan terhadap Putin.

Serangan Balik

Harapan awal pemerintah Rusia untuk menyapu seluruh Ukraina tanpa terpengaruh telah memudar, karena militernya hanya melihat sedikit kemajuan dalam merebut kota-kota utama. Tentara Rusia juga meluncurkan serangan yang semakin mematikan terhadap warga sipil.

Dengan senjata yang dipasok Barat, tentara Ukraina terus menahan atau bahkan mendorong balik militer Rusia yang jauh lebih besar.

Di kota selatan Mykolaiv, yang telah diserang Rusia selama berminggu-minggu, pengeboman tampaknya mereda. Garis depan tampaknya telah surut dari Mykolaiv, dengan serangan balasan yang dipasang di Kherson, sekitar 80 kilometer (km) ke tenggara.

Penembakan menewaskan dua orang di sebuah desa dekat Kherson, satu-satunya kota penting yang diklaim telah direbut oleh tentara Rusia. Di kota itu, sekitar 500 orang bergabung dalam demonstrasi anti Rusia pada Minggu.

Kyrylo, seorang paramedis yang berbicara dengan AFP melalui panggilan telepon, mengatakan bahwa Rusia membubarkan demonstrasi damai dengan gas air mata dan granat kejut.

Boikot

Kementerian Pertahanan Ukraina mengatakan bahwa pasukannya juga telah merebut kembali Trostianets, kota di dekat perbatasan Rusia. Penembakan juga menghantam Oskil, desa dekat Kharkiv, menewaskan tujuh orang termasuk dua anak-anak kata kantor kejaksaan pada Minggu.

Pemboman berlanjut di Irpin, serta daerah lain di sekitar Kyiv, kata pihak berwenang Ukraina.

Sementara itu para pemimpin Ukraina mendorong pertarungan di bidang ekonomi.

Menlu Ukraina Dmytro Kuleba menyerukan boikot terhadap peritel Prancis Auchan, yang terus melakukan bisnis di Rusia. “Jika Auchan mengabaikan 139 anak Ukraina yang dibunuh selama bulan serangan Rusia ini, mari kita abaikan Auchan dan semua produk mereka,” tulisnya di media sosial Twitter.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : AFP

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN