Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Jet tempur Jas 39 Gripen E angkatan udara Swedia terbang di atas Pulau Gotland di Laut Baltik pada 11 Mei 2022. (FOTO: HENRIK MONTGOMERY / TT NEWS AGENCY / AFP)

Jet tempur Jas 39 Gripen E angkatan udara Swedia terbang di atas Pulau Gotland di Laut Baltik pada 11 Mei 2022. (FOTO: HENRIK MONTGOMERY / TT NEWS AGENCY / AFP)

Ini Kemungkinan Reaksi Rusia Sekarang atas NATO

Selasa, 17 Mei 2022 | 08:42 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

WASHINGTON, investor.id – Pemerintah Rusia telah mengatakan akan bereaksi terhadap perluasan infrastruktur militer aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) ke Swedia dan Finlandia sekarang, meskipun bersikeras pihaknya tidak memiliki masalah dengan negara-negara tersebut. Ada beberapa kemungkinan reaksi Rusia, menurut perkiraan pengamat.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pada Senin (16/5) bahwa perluasan NATO adalah masalah. Ia mengklaim bahwa langkah itu untuk kepentingan Amerika Serikat (AS), dalam komentar yang dilaporkan oleh Reuters.

Advertisement

Baca juga: Simak! Ketua SEC Bicara soal Perlindungan Investor Kripto

Komentar Putin muncul setelah pejabat tinggi Kremlin lainnya menyesalkan ekspansi NATO di masa depan. Salah satu pejabat menggambarkannya sebagai kesalahan besar dengan konsekuensi global.

Sebelumnya pemerintah Finlandia dan Swedia sama-sama mengumumkan tawaran mereka untuk bergabung dengan aliansi militer Barat NATO, walaupun belum ada keputusan kesepakatan apapun. Ini bisa mengakhiri sejarah militer non-blok selama beberapa dekade, semua mata tertuju pada Rusia dan bagaimana reaksinya.

Kondisi ini dinilai masih dapat diatasi. Namun para pakar geopolitik melihat ke depan dan menilai kemungkinan langkah pembalasan yang dapat dilakukan Putin.

1. Lebih Banyak Provokasi Terhadap NATO

Selama bertahun-tahun, pemerintah Rusia telah melakukan serangan provokatif berulang kali di dekat atau ke wilayah udara sekutu NATO dan ini tampaknya telah meningkat frekuensinya dalam beberapa tahun terakhir. Para ahli percaya aliansi tersebut harus mempersiapkan diri untuk lebih banyak provokasi dari Rusia.

“Ini mengubah lingkungan keamanan untuk seluruh Laut Baltik dan Arktik,” ujar pensiunan Letnan Jenderal Ben Hodges, mantan komandan jenderal Angkatan Darat AS di Eropa, kepada CNBC pada Senin.

2. Serangan Siber dan Tentara

Pemerintah Swedia dan Finlandia sama-sama bersikeras bahwa bergabung dengan NATO bukanlah langkah melawan Rusia. Tetapi keduanya mengakui bahwa keputusan itu diambil sehubungan dengan serangan militer Rusia yang tidak beralasan ke Ukraina.

Perdana Menteri Swedia, Magdalena Andersson, mengatakan kepada CNBC pada Minggu (15/5) bahwa negaranya menilai keanggotaan NATO adalah hal terbaik untuk keamanannya. “Pembalasan macam apa yang bisa dilakukan terserah Putin, kami melihat mungkin ada serangan siber dan serangan hibrida dan lainnya. Tetapi semuanya terserah mereka,” katanya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Swedia Ann Linde mengatakan ada masa transisi sebelum Swedia maupun Finlandia menjadi anggota penuh NATO dan akan terjadi peningkatan ketegangan. “Lami memperkirakan lebih banyak pasukan militer di dekat perbatasan kami,” tutur Linde.

3. Perang Energi

Ruang potensial lain untuk pembalasan, dan kemungkinan hukuman Rusia untuk ekspansi NATO, bisa datang di bidang energi.

Pemerintah Rusia masih memegang kartu kuat di bidang ini karena secara tradisional menyumbang sekitar 40% dari impor gas Uni Eropa (UE). Sementara Eropa berebut sumber energi alternatif untuk mengurangi ketergantungannya pada Rusia sebagai penyedia minyak dan gas, blok itu masih bergantung padanya.

Gilles Moec, kepala ekonom kelompok di AXA Investment Managers, mengatakan dalam sebuah catatan Senin bahwa selalu ada kemungkinan pemerintah Rusia mematikan keran pasokannya ke UE. Meskipun ia mencatat bahwa, sejauh ini, Rusia telah membatasi diri untuk mengeringkan pasokan. Ini mencerminkan ketergantungan negara itu pada sumber daya keuangan ini.

Baca juga: Uni Eropa Gagal Sepakati Embargo Minyak Rusia

Adapun pemerintah Rusia telah lama waspada dengan keberadaan NATO serta telah lama menentang ekspansinya. Antipati Rusia dinilai tidak mengherankan, mengingat aliansi itu didirikan pada 1949 oleh AS, Kanada, dan beberapa negara Eropa Barat untuk memberikan keamanan kolektif terhadap Uni Soviet saat itu.

Menjelang serangan pada 24 Februari 2022 ke Ukrainam pemerintah Rusia telah mengeluarkan daftar tuntutan ke Barat, termasuk bahwa Ukraina tidak akan pernah diizinkan untuk bergabung dengan NATO.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : CNBC

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN