Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdana Menteri Ukraina Denys Shmyhal ditampilkan di layar selama pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G7 negara industri pada 19 Mei 2022 di Petersberg, Koenigswinter, Jerman barat. (FOTO: FEDERICO GAMBARINI / POOL / AFP)

Perdana Menteri Ukraina Denys Shmyhal ditampilkan di layar selama pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G7 negara industri pada 19 Mei 2022 di Petersberg, Koenigswinter, Jerman barat. (FOTO: FEDERICO GAMBARINI / POOL / AFP)

G7 Sepakati US$ 18,4 Miliar untuk Kelanjutan Pemerintahan Ukraina

Jumat, 20 Mei 2022 | 13:43 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

KOENIGSWINTER, investor.id – Para pemimpin keuangan G7 sepakat akan menggelontorkan US$ 18,4 miliar untuk kelanjutan pemerintahan Ukraina, termasuk membantu negara tersebut membayar tagihannya dalam beberapa bulan mendatang. Aliansi tersebut juga menyatakan kesiapan untuk mendukung Ukraina selama perang dengan Rusia dan berbuat lebih banyak jika diperlukan, menurut sebuah pernyataan bersama.

Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS), Jepang, Kanada, Inggris, Jerman, Prancis, dan Italia (negara-negara anggota G7) mengadakan pembicaraan saat Ukraina, yang diserang oleh Rusia pada 24 Februari 2022, sedang berjuang untuk menangkis serangan dan kehabisan uang tunai.

Baca juga: IMF Desak Negara-Negara Asia Waspadai Risiko Pengetatan Kebijakan Moneter

“Pada 2022, kami telah memobilisasi US$ 18,4 miliar dukungan anggaran, termasuk US$ 9,2 miliar komitmen baru-baru ini. Kami akan terus mendukung Ukraina sepanjang perang ini dan seterusnya, serta siap untuk berbuat lebih banyak sesuai kebutuhan,” tulis draf pernyataan bersama yang dilihat oleh Reuters.

Pada rancangan tersebut, negara anggota G7 menyambut usulan Komisi Eropa pada Rabu (18/5) untuk meminjamkan € 9 miliar ke Ukraina. Dikatakan, Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (EBRD) dan Perusahaan Keuangan Internasional (IFC) merencanakan dukungan senilai US$ 3,4 miliar. Tetapi tidak jelas apakah dana ini merupakan bagian dari US$ 18,4 miliar atau terpisah.

Sebelumnya pada Kamis (19/5), Menteri Keuangan Jerman Christian Lindner mengatakan bahwa pemerintah negara tersebut akan memberikan Ukraina € 1 miliar sementara Jepang berjanji akan menggandakan bantuannya menjadi US$ 600 juta untuk membantu menutupi kebutuhan jangka pendek.

Para Menteri Keuangan G7 mengadakan pembicaraan di Koenigswinter, Jerman barat, di bawah kepresidenan Jerman kelompok tersebut tahun ini.

Otoritas Ukraina memperkirakan negara membutuhkan sekitar US$ 5 miliar per bulan untuk menjaga gaji pegawai negeri tetap dibayar. Administrasi juga tetap bekerja terlepas dari kehancuran harian yang dilakukan oleh serangan militer Rusia.

Perang telah menjadi pengubah permainan bagi kekuatan Barat. Kondisi ini memaksa mereka untuk memikirkan kembali hubungan puluhan tahun dengan Rusia tidak hanya dalam hal keamanan, tetapi juga dalam energi, makanan, dan aliansi pasokan global microchip hingga pasokan logam tanah jarang.

Baca juga: Pasangan Muda Perlu Memiliki Perencanaan Keuangan

Secara lebih luas, para pembuat kebijakan G7 bergulat dengan pertanyaan tentang bagaimana menahan inflasi dan meningkatkan tekanan sanksi terhadap Rusia tanpa menyebabkan resesi.

Semakin banyak pejabat yang mengemukakan istilah ‘stagflasi’, kombinasi yang ditakuti dari kenaikan harga yang terus-menerus pada 1970-an ditambah dengan stagnasi ekonomi.

“Bank sentral G7 memantau dengan cermat dampak tekanan harga pada ekspektasi inflasi dan akan terus mengkalibrasi laju pengetatan kebijakan moneter secara tepat dengan cara yang bergantung pada data dan dikomunikasikan dengan jelas, memastikan bahwa ekspektasi inflasi tetap berlabuh dengan baik, sambil berhati-hati untuk menjaga pemulihan dan membatasi limpahan lintas negara yang negatif,” kata rancangan itu.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN