Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo Grab terlihat di Money 20/20 Asia Fintech Trade Show di Singapura, beberapa waktu lalu. (FOTO: REUTERS/Anshuman Daga/File Photo)

Logo Grab terlihat di Money 20/20 Asia Fintech Trade Show di Singapura, beberapa waktu lalu. (FOTO: REUTERS/Anshuman Daga/File Photo)

Sumber: Dua Eksekutif Senior Bisnis Fintech Grab Mundur untuk Batasi Kerugian

Rabu, 25 Mei 2022 | 18:30 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

SINGAPURA, investor.id – Dua eksekutif puncak di bisnis teknologi finansial (fintech) Grab Holdings mundur dari jabatan, menambah kemunduran senior lainnya dalam beberapa bulan terakhir. Perusahaan jasa transportasi dan pengiriman Asia Tenggara itu mengganti unit kunci di grup yang merugi, kata dua sumber.

Chris Yeo, yang mengepalai bisnis pembayaran dan penghargaan Grab dan telah bersama perusahaan selama hampir enam tahun. Ia mundur bersamaan dengan Jeffrey Goh, yang memimpin bisnis alat pembayaran (payment gateway), sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada Reuters.

Baik Yeo dan Goh bekerja di unit GrabFin Financial Group (GFG), yang menyediakan layanan pembayaran digital, pembiayaan, asuransi, penghargaan, dan manajemen kekayaan. Ini merupakan bagian penting dari strategi pertumbuhan regional Grab.

Baca juga: TotalEnergies Beli 50% Saham Perusahaan Energi Terbarukan AS Clearway

Mundurnya eksekutif ini mulai terlihat ketika kerugian Grab naik menjadi US$ 3,6 miliar pada 2021 dari US$ 2,7 miliar pada tahun sebelumnya. Sementara pendapatan naik 44% dengan investor berfokus pada bagaimana perusahaan berencana membendung kerugian.

Grab mempersempit kerugiannya di kuartal I-2022.

Sejak terdaftar di Nasdaq pada Desember 2021 setelah rekor merger senilai US$ 40 miliar dengan perusahaan akuisisi bertujuan khusus (SPAC) atau perusahaan cek kosong, saham Grab telah merosot tiga perempat nilainya dengan latar belakang jatuhnya saham teknologi dan kerugian yang berkelanjutan.

“Banyak grup bisnis di dalam GrabFin yang mendapat perhatian dengan metrik kinerja yang signifikan. Ada fokus yang kuat untuk mencapai profitabilitas,” kata salah satu sumber kepada Reuters, Rabu (25/5).

Yeo dan Goh, direktur pelaksana di Grab, yang menghitung Vision Fund SoftBank Group Corp. dan Uber sebagai pemegang saham terbesarnya, sedang menjalani periode pemberitahuan mereka, kata sumber tersebut. Dua sumber menolak disebutkan namanya karena mereka tidak berwenang untuk berbicara kepada media.

Kabar kepergian mereka dan perubahan organisasional di GrabFin belum pernah dipublikasikan sebelumnya.

Bulan lalu kepala pinjaman Grab, mantan bankir Ankur Mehrotra, yang memainkan peran penting dalam ekspansi unit fintech berhenti setelah bertugas selama enam tahun.

Tahun ini, salah satu eksekutif teknologi senior Grab juga mundur untuk memimpin perusahaan game cryptocurrency. Sementara kepala asuransi dan kekayaan Grab pergi untuk membentuk perusahaan rintisan (startup).

Grab menolak berkomentar secara khusus tentang kepergian para eksekutif. Tidak ada tanggapan langsung dari Yeo dan Goh atas permintaan Reuters.

Pada tanggapan email kepada Reuters, Grab mengatakan pihaknya fokus pada perluasan ekosistem fintech regional dan melihat peluang signifikan di Asia Tenggara di semua bisnisnya. Dikatakan, operasional fintech sekarang akan dipimpin oleh tim negara.

Grab pekan lalu memperkirakan rebound dalam bisnis tumpangan (ride share) dan pengiriman makanan andalannya, karena ekonomi Asia Tenggara pulih dari kemerosotan yang disebabkan oleh pandemi.

Baca juga: Japan Investment Corp Pertimbangkan Akuisisi Toshiba

Anthony Tan, salah satu pendiri dan CEO Grab, mengatakan kepada para analis bahwa Grab mendorong profitabilitas melalui manajemen biaya yang disiplin.

GrabFin merampingkan tim regional dan negaranya dengan tujuan fokus pada area yang menguntungkan, kata sumber tersebut. Salah satu sumber mengatakan perusahaan sedang berusaha mengurangi kerugian di banyak area tempat GrabFin beroperasi.

Grab, yang beroperasi di 480 kota di delapan negara di Asia Tenggara, memiliki lebih dari lima juta pengemudi terdaftar dan dua juta lebih pedagang di platform miliknya. Perusahaan melihat GFG sebagai bisnis dengan potensi pertumbuhan yang sangat besar.

Bisnis perbankan digital regional Grab, yang mencakup usaha patungan (joint venture/ JV) perbankan digital di Singapura dan Malaysia, juga merupakan bagian dari GFG. Grab juga mengakuisisi saham minoritas di sebuah bank Indonesia tahun ini.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN