Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Federal Reserve AS Jerome Powell berbicara selama konferensi pers di Washington, DC pada 4 Mei 2022. (FOTO: JIM WATSON / AFP)

Gubernur Federal Reserve AS Jerome Powell berbicara selama konferensi pers di Washington, DC pada 4 Mei 2022. (FOTO: JIM WATSON / AFP)

Fed Powell Akui Kemungkinan Resesi Setelah Kenaikan Suku Bunga

Kamis, 23 Juni 2022 | 08:27 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

WASHINGTON, investor.id – Ekonomi Amerika Serikat (AS) tetap kuat, tetapi serangkaian kenaikan suku bunga agresif yang dimaksudkan untuk mendinginkan inflasi yang melonjak pada akhirnya dapat memicu resesi. Pernyataan ini disampaikan Gubernur Federal Reserve (Fed) Jerome Powell dengan nada memperingatkan.

Powell, yang pernyataanya di hadapan para senator diawasi ketat oleh investor dan analis, juga mengatakan bahwa ekonomi terbesar dunia itu menghadapi lingkungan global yang tidak pasti. Pihaknya juga dapat melihat kejutan inflasi lebih lanjut.

Gubernur Fed tersebut sekali lagi menekankan bahwa regulator memahami kesulitan yang disebabkan oleh kenaikan harga. Ia kembali berkomitmen untuk menurunkan inflasi AS, yang telah mencapai level tertinggi 40 tahun.

Pekan lalu, bank sentral AS tersebut mengumumkan kenaikan suku bunga paling tajam dalam hampir 30 tahun. Pihaknya menjanjikan langkah serupa lebih lanjut untuk memerangi lonjakan harga, ketika biaya bahan bakar dan makanan meroket sementara jutaan orang Amerika berjuang untuk bertahan hidup.

Tetapi ketika dibumbui dengan pertanyaan tentang prospek resesi, Powell mengakui risikonya.

“Ini sama sekali bukan hasil yang kami inginkan, tapi itu pasti kemungkinan,” katanya kepada Komite Perbankan Senat (SBC).

“Dan sejujurnya, peristiwa beberapa bulan terakhir di seluruh dunia telah membuat lebih sulit bagi kami untuk mencapai apa yang kami inginkan, yaitu inflasi 2% dan masih pasar tenaga kerja yang kuat,” lanjut Powell.

Pada sambutan pembukaan, Powell menegaskan bahwa ekonomi AS sangat kuat dan dalam posisi yang baik untuk menangani kebijakan moneter yang lebih ketat.

“Inflasi jelas mengejutkan kenaikan selama setahun terakhir dan kejutan lebih lanjut bisa terjadi,” kata gubernur Fed tersebut dalam pidato semesternya di hadapan Kongres.

Regulator dinilai harus gesit, mengingat ekonomi sering berkembang dengan cara yang tidak terduga.

The Fed menghadapi kritik keras karena dianggap terlalu lambat untuk bereaksi terhadap perubahan ekonomi, yang diuntungkan dari banjir stimulus pemerintah federal.

Keputusan 0,75 poin persentase tambahan pekan lalu untuk suku bunga pinjaman acuan adalah kenaikan ketiga sejak Maret 2022, membuat suku bunga kebijakan naik total 1,5 poin. Powell pada saat itu mengatakan kenaikan serupa kemungkinan terjadi pada Juli 2022.

Skenario yang ideal adalah langkah-langkah untuk cukup mendinginkan ekonomi hingga meredam tekanan inflasi, tanpa menghambat pertumbuhan (soft landing) yang diharapkan.

Masalah Global

Powell mencatat bahwa inflasi adalah masalah global, tidak unik di Amerika Serikat.

Banyak bank sentral besar telah bergabung dengan The Fed untuk mulai memperketat kebijakan moneter, dengan pengecualian bank sentral Jepang.

Powell mengatakan banyak faktor yang mendorong inflasi berada di luar kendali The Fed. Tetapi dia menunjukkan tanda-tanda bahwa kenaikan suku bunga berdampak, karena investasi bisnis melambat dan aktivitas di sektor perumahan tampaknya melemah, sebagian mencerminkan tingkat hipotek yang lebih tinggi.

Rata-rata suku bunga pinjaman rumah melonjak menjadi 5,23% pada Mei 2022 untuk hipotek dengan suku bunga tetap selama 30 tahun, dari 4,98% pada April 2022, menurut Freddie Mac. Sementara harga rata-rata untuk rumah mencapai US$ 400.000 untuk pertama kalinya.

“Pengetatan dalam kondisi keuangan yang telah kita lihat dalam beberapa bulan terakhir akan terus menekan pertumbuhan dan membantu membawa permintaan ke keseimbangan yang lebih baik dengan pasokan,” kata Powell.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : AFP

BAGIKAN