Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pemerintah Iran telah mengajukan permohonan untuk menjadi anggota kelompok ekonomi berkembang yang dikenal sebagai BRICS. (FOTO: Morteza Nikoubazl/Reuters)

Pemerintah Iran telah mengajukan permohonan untuk menjadi anggota kelompok ekonomi berkembang yang dikenal sebagai BRICS. (FOTO: Morteza Nikoubazl/Reuters)

Iran Mendaftar untuk Bergabung dengan Kelompok Negara Berkembang BRICS

Selasa, 28 Juni 2022 | 14:29 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

TEHERAN, investor.id – Pemerintah Iran telah mengajukan aplikasi untuk menjadi anggota kelompok ekonomi berkembang yang dikenal sebagai BRICS, kata pejabat Iran.

Keanggotaan Iran dalam kelompok BRICS, yang meliputi Brazil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan akan menghasilkan nilai tambah bagi kedua belah pihak, kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Advertisement

Baca juga: Putin: Rusia Alihkan Rute Perdagangan dan Minyak ke Negara-Negara BRICS

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan secara terpisah bahwa pemerintah Argentina juga telah mendaftar untuk bergabung dengan kelompok tersebut. Pejabat Argentina tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar segera.

Presiden Argentina Alberto Fernandez, yang saat ini berada di Eropa, dalam beberapa hari terakhir menegaskan kembali keinginannya agar Argentina bergabung dengan BRICS.

“Sementara Gedung Putih sedang memikirkan tentang apa lagi yang harus dipadamkan di dunia, dilarang atau dirusak, Argentina dan Iran mengajukan permohonan untuk bergabung dengan BRICS,” tulis Zakharova di aplikasi perpesanan Telegram, Selasa (28/6).

Pemerintah Rusia telah lama mendorong untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Asia, Amerika Selatan, dan Timur Tengah. Tetapi baru-baru ini pihaknya telah mengintensifkan upayanya untuk mengatasi sanksi yang dijatuhkan oleh Eropa, Amerika Serikat (AS), dan negara-negara lain atas serangan Rusia ke Ukraina.

Pada Senin (27/6), pemimpin AS dan negara-negara Barat lainnya menjanjikan dukungan tak tergoyahkan untuk Ukraina setelah 28 warga sipil tewas dalam beberapa serangan Rusia, termasuk serangan rudal di pusat perbelanjaan yang ramai di hari yang sama.

Baca juga: G7 Sebut Serangan Rusia di Mal Ukraina Sebagai Kejahatan Perang

Otoritas Rusia membantah menargetkan warga sipil dalam apa yang disebutnya operasi militer khusus untuk melucuti senjata Ukraina dan melindunginya dari fasis. Pihak berwenang Ukraina dan sekutunya di Barat mengatakan bahwa perang adalah tindakan agresi yang tidak beralasan.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN