Menu
Sign in
@ Contact
Search
Demonstran meneriakkan slogan dan mengibarkan bendera Sri Lanka selama protes anti pemerintah di dalam gedung kantor perdana menteri Sri Lanka di Kolombo pada 13 Juli 2022. Ribuan pengunjuk rasa anti pemerintah menyerbu ke kantor Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe, beberapa jam setelah dia ditunjuk sebagai penjabat presiden, kata saksi. (FOTO: Arun SANKAR / AFP)

Demonstran meneriakkan slogan dan mengibarkan bendera Sri Lanka selama protes anti pemerintah di dalam gedung kantor perdana menteri Sri Lanka di Kolombo pada 13 Juli 2022. Ribuan pengunjuk rasa anti pemerintah menyerbu ke kantor Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe, beberapa jam setelah dia ditunjuk sebagai penjabat presiden, kata saksi. (FOTO: Arun SANKAR / AFP)

Sri Lanka Harus Akhiri Kekacauan bila Inginkan Bailout IMF

Senin, 25 Juli 2022 | 07:51 WIB
Nasori (redaksi@investor.id)

NEW YORK, investor.id - Sri Lanka perlu keluar dari keadaan kacaunya saat ini sebelum Dana Moneter Internasional (IMF) dapat turun tangan dengan dana talangan (bailout). Ini dikatan oleh profesor dari Universitas Johns Hopkins, Deborah Brautigam.

“IMF tidak dapat… berinteraksi dengan pemerintah ketika keadaan berada dalam mode krisis yang berkelanjutan. Jadi, sampai pemerintah stabil, sampai mereka memiliki menteri keuangan, tidak ada seorang pun untuk diajak bicara oleh IMF,” kata Brautigam kapada CNBC pada Jumat (22/7/2022).

Sri Lanka telah dilanda protes selama berbulan-bulan dan menderita krisis ekonomi terburuk sejak kemerdekaan.

Kini, orang-orang biasa berjuang untuk membeli kebutuhan pokok seperti makanan, obat-obatan, dan bahan bakar, sehingga memicu protes terhadap salah urus pemerintah. Pekan lalu, mantan Presiden Gotabaya Rajapaksa melarikan diri dari negara itu dan mengundurkan diri setelah pengunjuk rasa menyerbu kediamannya.

Para legislator negara itu telah memilih Ranil Wickremesinghe, mantan perdana menteri negara tersebut, sebagai presiden. Pria berusia 73 tahun itu mengambil alih jabatan perdana menteri pada Mei ketika kakak laki-laki Rajapaksa, Mahinda Rajapaksa, mengundurkan diri.

Belum jelas apakah perubahan kepemimpinan ini akan memuaskan para pengunjuk rasa.

Sementara IMF harus dapat bekerja dengan pemerintah Sri Lanka untuk menyusun sebuah program, kata Brautigam, seorang profesor ekonomi politik internasional. “IMF tidak akan meminjamkan ke dalam situasi di mana mereka menganggap uang mereka tidak akan dilunasi,” tambah dia.

Tetapi, Reuters melaporkan, ketidakpastian berlanjut pada hari Jumat, setelah Wickremesinghe mengirim pasukan ke lokasi protes yang sangat populer, dengan tentara menghancurkan tenda dan kamp darurat sehari setelah dia dilantik.

Profesor Johns Hopkins itu juga mengatakan, IMF membutuhkan jaminan dari pemerintah bahwa ia akan mendapatkan “rumah fiskalnya.” Dia mengatakan, IMF akan mencoba untuk memastikan bahwa pendapatan pemerintah dan pengeluaran mereka “bersesuaian lebih baik.”

“Jadi jika Sri Lanka tidak dapat memberikan jaminan, tidak akan ada apa pun dari IMF,” kata Brautigam, seraya menambahkan bahwa Sri Lanka tidak akan dapat memberikan apa yang dibutuhkan “selama krisis masih berlangsung.”’

Dia mengatakan, IMF juga akan mencari jaminan dari kreditur Sri Lanka bahwa mereka akan memberikan bantuan apa pun yang diperlukan untuk membawa utang negara ke tingkat yang berkelanjutan. IMF tidak dapat melanjutkan program untuk negara tanpa jaminan itu, tambahnya.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com