Menu
Sign in
@ Contact
Search
Gubernur Federal Reserve AS Jerome Powell berbicara selama konferensi pers di Washington, DC, AS pada 4 Mei 2022. (FOTO: JIM WATSON / AFP)

Gubernur Federal Reserve AS Jerome Powell berbicara selama konferensi pers di Washington, DC, AS pada 4 Mei 2022. (FOTO: JIM WATSON / AFP)

Fed Siap Serang Inflasi dengan Kenaikan Suku Bunga

Rabu, 27 Juli 2022 | 09:53 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

WASHINGTON, investor.id – Federal Reserve (Fed) akan mengumumkan kenaikan suku bunga besar lainnya pada Rabu (27/7), yang keempat tahun ini. Ini adalah pertempuran berkelanjutan untuk mengurangi inflasi yang telah menekan keluarga di Amerika Serikat (AS).

Para bankir sentral AS berharap bahwa sikap agresif mereka akan mulai mendinginkan inflasi yang mencapai 9,1% pada Juni 2022, tertinggi dalam lebih dari 40 tahun, tanpa menggelincirkan ekonomi terbesar dunia itu.

Presiden AS Joe Biden membayar biaya politik untuk melonjaknya harga, yang sebagian besar ia tuduhkan pada perang Rusia di Ukraina. Ini telah membuat harga pangan dan energi global melonjak, katanya.

Baca juga: BI Proyeksikan The Fed Kerek Lagi Suku Bunga 75 Bps

Biden menegaskan bahwa ekonomi AS akan menghindari resesi. Bahkan ketika peringkat persetujuan untuk presiden menurun, Biden mendukung The Fed dalam pertempuran untuk memadamkan inflasi.

Gubernur Fed Jerome Powell dan yang lainnya telah memperjelas bahwa mereka bersedia mengambil risiko penurunan dan akan terus menaikkan suku bunga, sampai ada bukti yang jelas bahwa inflasi bergerak kembali ke sasaran 2%.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang menetapkan kebijakan secara luas diperkirakan akan mengumumkan kenaikan tiga perempat poin persentase lagi atau 75 basis poin (bps) untuk suku bunga acuan pada akhir pertemuan kebijakan dua hari pada 1800 GMT.

Dari level nol pada awal tahun, Fed telah menaikkan suku bunga pinjaman ke kisaran 1,5% hingga 1,75%. Kebijakan ini mendorong suku bunga hipotek lebih tinggi dan memperlambat penjualan perumahan selama lima bulan berturut-turut.

Para ekonom mengatakan bahwa ini telah menjadi siklus pengetatan Fed yang paling agresif sejak 1980-an. Saat itu, stagflasi yang adalah spiral harga upah dan pertumbuhan stagnan sempat melumpuhkan ekonomi AS.

Tantangan bagi regulator adalah untuk memadamkan inflasi sebelum menjadi berbahaya, tetapi tanpa mengirim ekonomi terbesar dunia ke dalam resesi yang akan bergema di seluruh dunia.

Sementara harga terus naik, dengan harga rumah mencapai rekor baru, ada tanda-tanda laju kenaikan itu mulai melambat. Jika demikian, akan memungkinkan bank sentral mengurangi kenaikan suku bunganya.

Harga minyak global cenderung turun, dengan benchmark AS WTI jatuh ke bawah level US$ 95 per barel dari puncaknya lebih dari US$ 123 pada Maret 2022. Sementara harga bahan bakar di SPBU telah turun 69 sen dari rekor hanya di atas US$ 5 per galon pada pertengahan Juni 2022.

Risiko Resesi

Sementara itu pasar kerja tetap kuat dan permintaan konsumen tidak turun drastis, sedangkan survei menunjukkan ekspektasi inflasi di bulan-bulan mendatang mulai menurun.

Regulator ingin merekayasa pendaratan lunak (soft landing), menjinakkan inflasi tanpa menyebabkan penurunan. Tetapi para ekonom memperingatkan bahwa mereka menghadapi jalan yang semakin sempit menuju kesuksesan dan akan mudah untuk melampauinya dengan menjadi terlalu agresif.

“The Fed sekarang terjebak di antara batu dan tempat yang sulit, tanpa jalan keluar yang mudah tanpa ekonomi merasakan sakit,” kata kepala ekonom KPMG Diane Swonk dalam sebuah analisis. Ia mencatat bahwa Powell telah mulai menggarisbawahi kenyataan itu dengan mengakui resesi bisa terjadi.

Faktanya, jarang bank sentral bergerak begitu tegas tanpa menyebabkan penurunan. Di sisi lain, ada tanda-tanda kekhawatiran di antara anggota regulator Fed.

Baca juga: Fed Powell Akui Kemungkinan Resesi Setelah Kenaikan Suku Bunga

Presiden Fed Kansas City Esther George tidak setuju pada pertemuan Juni 2022. Ia mengatakan bahwa dirinya lebih suka kenaikan suku bunga setengah poin persentase atau 50 bps yang lebih kecil. George memperingatkan bahwa kenaikan terlalu cepat bisa mengganggu dan meningkatkan kekhawatiran resesi.

Produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I-2022 berkontraksi 1,6%, sementara proyeksi pertama pada periode April-Juni 2022 akan dirilis Kamis (28/7). Meskipun perkiraan konsensus menyerukan pertumbuhan moderat, banyak ekonom memperkirakan penurunan.

Dua perempat pertumbuhan negatif umumnya dianggap sebagai resesi, meskipun itu bukan kriteria resmi.

Tetapi Gubernur Fed Christopher Waller mengatakan bahwa dirinya siap untuk bergerak lebih cepat, dengan kenaikan poin penuh yang belum pernah terjadi sebelumnya jika inflasi terus meningkat.

“(The Fed) berada di perairan yang belum dipetakan (jadi) ketidakpastian dan ketidaksepakatan tentang arah kenaikan suku bunga adalah konsekuensi alami,” kata Swonk.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : AFP

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com