Menu
Sign in
@ Contact
Search
Orang-orang tengah memilih sayuran di sebuah supermarket di Beijing, Tiongkok, pada 10 Februari 2021. (FOTO: Wang Zhao / AFP)

Orang-orang tengah memilih sayuran di sebuah supermarket di Beijing, Tiongkok, pada 10 Februari 2021. (FOTO: Wang Zhao / AFP)

Morgan Stanley: Inflasi Asia Sudah di Puncaknya Dibandingkan AS dan Eropa

Selasa, 16 Aug 2022 | 10:46 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

NEW YORK, investor.id – Inflasi di Asia telah mencapai puncaknya dibandingkan dengan ekonomi utama lainnya seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa, menurut kepala ekonom Asia di Morgan Stanley.

“Tentu saja, inflasi telah mencapai puncaknya jika Anda melihat data yang sudah menunjukkan hal itu. Lebih penting lagi, ke depan, kami pikir Anda akan melihat risiko penurunan inflasi,” kata Chetan Ahya dari bank investasi, dilansir dari CNBC pada Selasa (16/8).

“Inflasi rata-rata Asia mencapai puncaknya pada 5,5% dan sudah turun sekitar setengah persen dari tingkat puncak itu. Dan itu dibandingkan dengan AS, yang mencapai puncaknya pada 9% serta di Eropa yang juga sekitar 8,5% dan 9%,” tambahnya.

Baca juga: Bambang Soesatyo: Cegah Hiperinflasi, Pemerintah Diminta Jaga Inflasi

Advertisement

Ahya mengatakan ada sedikit tanda-tanda permintaan yang terlalu panas di Asia, terutama karena pertumbuhan ekonomi masih di bawah level pra pandemi Covid-19 untuk sebagian besar negara.

“Cara saya menggambarkan keadaan pemulihan di Asia adalah ... sebagian besar ekonomi berada pada tahap pertengahan siklus. Saya pikir itulah alasan paling penting mengapa kami berpikir inflasi akan terkendali dan bank sentral tidak perlu mengambil kebijakan suku bunga ke wilayah yang sangat ketat,” jelas Ahya.

Pekan lalu, Gubernur Bank Sentral Thailand (BoT) Sethaput Suthiwartnarueput mengatakan tidak perlu bagi bank sentral untuk melakukan kenaikan suku bunga yang sangat besar. Sebabnya, ekonomi negara itu hanya diperkirakan akan kembali ke tingkat sebelum pandemi pada akhir tahun ini.

Ekonom Morgan Stanley juga mengatakan permintaan barang merupakan pendorong utama inflasi secara global, terutama di Asia.

“Permintaan barang telah mengalami peningkatan besar-besaran karena pandemi di AS dan menyebabkan ketidakseimbangan permintaan-penawaran. Tapi itu semua sembuh sekarang, permintaan turun,” kata dia.

Dengan rantai pasokan yang membaik dan persediaan yang meningkat, bank memperkirakan permintaan barang akan menyusut di bulan-bulan mendatang. Selain itu pasar tenaga kerja Asia tidak ketat seperti di AS, sehingga telah membantu kawasan itu menahan tekanan inflasi.

Baca juga: Inflasi Produsen di AS juga Melambat

Pertumbuhan Ekspor yang Lemah

Sementara gambaran inflasi Asia mungkin tampak relatif terkendali, ekonom bank utama Wall Street tersebut menilai prospek ekspor Asia masih tetap lemah.

“Apa yang perlu kita lihat dari sudut pandang ekonomi, dalam hal implikasi pertumbuhan, angka riil dan angka volume riil telah melambat menjadi sekitar 1% hingga 3% pada basis tahun ke tahun,” jelas Ahya.

“Dulu ini tumbuh sekitar 10% plus, hanya sekitar 12 bulan yang lalu. Kami telah melihat perlambatan besar dan kami pikir prospek ekspor yang baik untuk Asia tidak terlihat bagus,” tambah ekonom tersebut.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : CNBC

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com