Menu
Sign in
@ Contact
Search
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menghadiri pemakaman mantan Menteri Pertama Irlandia Utara David Trimble, salah satu perantara perdamaian utama Perjanjian Jumat Agung di Gereja Presbyterian Harmony Hill Lisburn, Irlandia Utara pada 1 Agustus 2022. (FOTO: Reuters/Johanna Geron)

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menghadiri pemakaman mantan Menteri Pertama Irlandia Utara David Trimble, salah satu perantara perdamaian utama Perjanjian Jumat Agung di Gereja Presbyterian Harmony Hill Lisburn, Irlandia Utara pada 1 Agustus 2022. (FOTO: Reuters/Johanna Geron)

Inggris Luncurkan Sistem Dagang untuk Negara Berkembang

Selasa, 16 Agustus 2022 | 17:53 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

LONDON, investor.id – Pemerintah Inggris telah meluncurkan skema untuk memperpanjang pemotongan tarif atas ratusan produk, seperti pakaian dan makanan, dari negara-negara berkembang. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Inggris pasca Brexit yang mengatur sistem untuk menggantikan sistem ekonomi yang dijalankan oleh Uni Eropa (UE).

Pada Juni 2022, Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson mengatakan dirinya ingin memulai sistem perdagangan baru untuk mengurangi biaya dan menyederhanakan aturan bagi 65 negara berkembang. Skema ini akan menggantikan Sistem Preferensi Umum UE, yang menerapkan bea masuk dengan tarif yang lebih rendah.

Baca juga: Ucapan Selamat HUT RI dari Presiden AS kepada Jokowi

Menteri Perdagangan Anne-Marie Trevelyan mengatakan skema Perdagangan Negara Berkembang (DCTS) akan memperpanjang pemotongan tarif ke ratusan produk yang diekspor dari negara berkembang. Ini dikatakan merupakan sistem yang lebih detail dari skema UE.

“Sebagai negara perdagangan independen, kami mengambil kembali kendali atas kebijakan perdagangan kami dan membuat keputusan yang mendukung bisnis Inggris, membantu biaya hidup, dan mendukung ekonomi negara-negara berkembang di seluruh dunia,” kata Trevelyan dalam pernyataan resmi, Selasa (16/8).

“Bisnis Inggris dapat berharap untuk mengurangi birokrasi dan biaya yang lebih rendah, mendorong perusahaan untuk mengimpor barang dari negara berkembang,” lanjutnya.

Baca juga: Jokowi: Ketidakpastian Global Bukan Alasan Untuk Pesimistis

DCTS mencakup 65 negara berisi sistem yang menyederhanakan aturan seperti aturan asal, yang menentukan berapa proporsi produk yang harus dibuat di negara asalnya. Sistem baru ini juga akan menghapus beberapa tarif musiman, seperti membuat hasil alam seperti mentimun bebas tarif di musim dingin.

Adapun total perdagangan barang dan jasa (ekspor ditambah impor) antara Inggris dan Indonesia adalah £ 2,9 miliar dalam empat kuartal hingga akhir kuartal I-2022, meningkat 17,8% atau £ 438 juta dari empat kuartal hingga akhir kuartal I-2021.

Indonesia adalah mitra dagang terbesar ke-53 Inggris dalam empat kuartal hingga akhir kuartal I-2022 menyumbang 0,2% dari total perdagangan Inggris, menurut angka Kantor Statistik Nasional (ONS) Inggris.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : REUTERS

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com