Menu
Sign in
@ Contact
Search
Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan Presiden TIongkok Xi Jinping di Beijing, Tiongkok pada 4 Februari 2022. (FOTO: Reuters/Aleksey Druzhinin)

Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan Presiden TIongkok Xi Jinping di Beijing, Tiongkok pada 4 Februari 2022. (FOTO: Reuters/Aleksey Druzhinin)

Tiongkok dan Rusia Menantang Tatanan Dunia

Sabtu, 17 Sep 2022 | 13:52 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SAMARKAND, investor.id – Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Xi Jinping mengeluarkan tantangan pada Jumat (16/9) dengan menyerukan perombakan tatanan dunia. Hal ini disampaikan saat keduanya bertemu dengan para pemimpin negara Asia dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organisation/SCO) di Uzbekistan, dengan tujuan menantang pengaruh Barat.

Dalam kesempatan itu, Xi mengatakan kepada para pemimpin yang menghadiri KTT SCO bahwa sudah waktunya untuk membentuk kembali sistem internasional, meninggalkan zero-sum games dan blok-blok politik.

“Para pemimpin harus bekerja sama untuk mempromosikan pengembangan tatanan internasional ke arah yang lebih adil dan rasional,” ujar Xi, yang dilansir AFP.

Baca Juga: Ini Pidato Lengkap Presiden Uzbekistan di KTT SCO Samarkand

Advertisement

Sementara itu, Putin memuji perkembangan pengaruh dari negara-negara di luar Barat, sekaligus mengecam hal-hal yang disebutnya sebagai instrumen proteksionisme, sanksi ilegal dan keegoisan ekonomi.

“Perkembangan peranan dari pusat-pusat kekuatan baru yang bekerja sama satu sama lain telah menjadi semakin jelas,” kata Putin.

Dalam pidato sambutan yang diterbitkan Jumat malam oleh kantor berita Xinhua, Xi mendesak negara-negara anggota untuk terus melakukan latihan kontra-terorisme bersama dan menindak tiga kekuatan yaitu, perdagangan narkoba, siber dan kejahatan terorganisir transnasional.

Umumnya, para pejabat Tiongkok mencirikan “tiga kekuatan” - terorisme, separatisme dan ekstremisme – sebagai ancaman terhadap stabilitas di wilayah barat laut Xinjiang yang kontroversial.

Baca Juga: KTT SCO Samarkand: Dialog dan Kerja Sama di Dunia yang Saling Terhubung

Dikatakan oleh Xi, Tiongkok bersedia bekerja dengan anggota (SCO) untuk mendirikan basis-basis pelatihan bagi para profesional anti-terorisme dan melatih 2.000 staf penegak hukum.

“Saat ini, perubahan besar yang tak terlihat dalam satu abad semakin cepat, dan dunia telah memasuki periode baru turbulensi dan transformasi. Defisit perdamaian, pembangunan, kepercayaan, dan pemerintahan terus berlanjut. Masyarakat manusia berada di persimpangan jalan dan menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” demikian laporan Xinhua mengutip pernyataan Xi, yang merujuk pada pandemi Covid-19, proteksionisme ekonomi dan pembagian dunia ke dalam blok geopolitik.

Xi juga menambahkan, negara-negara harus waspada terhadap revolusi warna yang dipicu kekuatan-kekuatan eksternal dan menentang campur tangan dalam urusan internal negara lain dengan dalih apa pun.

Baca Juga: Kadin Dorong Sinergi Pengusaha Indonesia-Tiongkok

Pertemuan puncak itu diklaim sebagai alternatif atas organisasi-organisasi yang Barat-sentris, di saat meningkatnya tekanan pada Rusia terkait invasinya ke Ukraina dan meningkatnya kemarahan Tiongkok atas dukungan Amerika Serikat (AS) pada Taiwan.

Sebagai informasi, Putin dan Xi melakukan pertemuan tatap muka untuk kali pertama pada Kamis (15/9), sejak dimulainya konflik di Ukraina. Ini juga merupakan lawatan perdana pemimpin Tiongkok itu ke luar negeri sejak hari-hari awal pandemi virus corona Covid-19.

Dalam acara itu, Putin dan Xi juga bertemu dengan para pemimpin negara anggota SCO, yakni India, Pakistan, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, dan Uzbekistan, serta Presiden Iran Ebrahim Raisi dan Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdoga.

Bicara dengan Turkiye

KTT tersebut menjadi lawatan internasional besar pertama Putin sejak Negeri Beruang Merah mengirim pasukan ke Ukraina pada Februari dan memicu konflik yang telah menewaskan ribuan orang serta membuat Rusia terkena gelombang sanksi ekonomi.

Sebelumnya pada Kamis, Xi mengatakan bahwa Tiongkok bersedia bekerja sama dengan Rusia untuk mendukung kepentingan inti masing-masing. Sedangkan Putin menyampaikan, bahwa Tiongkok memiliki keprihatinan atas situasi di Ukraina yang akan ia atasi.

Menurut laporan, SCO didirikan pada 2001 sebagai sebuah organisasi politik, ekonomi dan keamanan yang bertujuan menyaingi institusi-institusi Barat.

Baca Juga: Tak Terbendung, Inflasi Agustus Turki Jebol hingga Tembus 80%

Meski dibentuk sebagai rival Barat, blok SCO masih menunjukkan pertanda jauh dari kata bersatu sepenuhnya. Hal ini terlihat dari bentrokan-bentrokan yang meningkat di sepanjang perbatasan Kirgistan dan Tajikistan pada Jumat, di mana kedua belah pihak saling menuduh bertanggung jawab dan menggunakan senjata berat.

Pada Jumat malam, Putin dijadwalkan bertemu Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Turkiye Erdogan, yang telah menjadi perantara utama dalam kesepakatan Rusia dan Ukraina mengenai masalah-masalah seperti pengiriman biji-bijian.

Baca Juga: Update Perang di Ukraina: Turki Usahakan Pengiriman Biji-Bijian Ukraina Hari Ini

Dalam pertemuan puncak SCO, Erdogan mengungkapkan bahwa “upaya-upaya sedang dilakukan untuk menyelesaikan konflik di Ukraina melalui diplomasi sesegera mungkin.”

Sedangkan pertemuan Xi dengan Erdogan pada Jumat lebih banyak menyerukan untuk saling mempercayai politik" antara kedua negara, dan mendorong lebih banyak kerja sama dalam inisiatif perdagangan global Belt and Road Initiative (BRI).

Xi juga melakukan diskusi tatap muka pertamanya dengan Raisi pada Jumat, usai pemimpin Iran itu bertemu dengan Putin pada Kamis.

Kekhawatiran AS dan Taiwan

Bagi Xi, pertemuan puncak SCO adalah kesempatan untuk menyokong kredensialnya sebagai negarawan global menjelang kongres penting Partai Komunis yang berkuasa pada Oktober. Di mana ia banyak diperkirakan mengamankan masa jabatan ketiga yang belum pernah terjadi sebelumnya sebagai presiden.

Sementara itu bagi Putin, SCO merupakan peluang untuk menunjukkan bahwa dia tidak sepenuhnya terisolasi di kancah global, menyusul situasi bahwa pasukannya di Ukraina sedang menghadapi kemunduran besar di medan perang.

Baca Juga: Tiongkok: Tiongkok dan Rusia Bangun Tatanan Dunia yang “Lebih Adil”

Sedangkan negara-negara lain membunyikan tanda bahaya tentang semakin dalamnya hubungan Rusia dan Tiongkok.

“Tiongkok dan Rusia berbagi visi untuk dunia yang sangat bertentangan dengan visi yang menjadi pusat sistem internasional, visi yang telah menjadi pusat sistem internasional selama delapan dekade terakhir,” tutur juru bicara Departemen Luar Negeri (Deplu) AS Ned Price.

Dia juga mencermati penyebutan Putin soal kalimat “keprihatinan” Tiongkok atas Ukraina dalam pembicaraannya dengan Xi. Menurut Price, pengakuan mencolok ini menunjukkan Rusia tidak memiliki dukungan penuh Tiongkok atas operasi militernya.

Baca Juga: Pemimpin Taiwan Yakin Segera Dapatkan Kesepakatan Dagang AS

Sedangkan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Taiwan menyebut kedua negara itu telah menimbulkan kerugian pada perdamaian, stabilitas, demokrasi dan kebebasan internasional. 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com