Menu
Sign in
@ Contact
Search
Kombinasi foto: (kiri) Presiden Rusia Vladimir Putin saat berpidato dalam peringatan 220 tahun Kementerian Kehakiman di Moskow pada 20 September 2022, dan (kanan) Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky saat mengikuti upacara pengibaran bendera di kota Izyum, wilayah Kharkiv pada 14 September 2022 (kanan). ( Foto: GRIGORY SYSOYEV / SPUTNIK / AFP dan STR / UKRAINIAN PRESIDENTIAL PRESS SERVICE / AFP )

Kombinasi foto: (kiri) Presiden Rusia Vladimir Putin saat berpidato dalam peringatan 220 tahun Kementerian Kehakiman di Moskow pada 20 September 2022, dan (kanan) Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky saat mengikuti upacara pengibaran bendera di kota Izyum, wilayah Kharkiv pada 14 September 2022 (kanan). ( Foto: GRIGORY SYSOYEV / SPUTNIK / AFP dan STR / UKRAINIAN PRESIDENTIAL PRESS SERVICE / AFP )

Rusia Akan Caplok Sebagian Ukraina via Referendum Separatis

Rabu, 21 Sep 2022 | 13:14 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Sejumlah wilayah separatis yang didukung Rusia di Ukraina akan menggelar referendum akhir bulan ini untuk bergabung dengan Rusia. Referendum ini bakal menjadi pembuka jalan untuk pencaplokan petak-petak wilayah di Ukraina oleh Rusia.

Anggota parlemen Rusia, mantan presiden dan perdana menteri, sekaligus sekutu Presiden Vladimir Putin, Dmitry Medvedev, menyampaikan rencana pemungutan suara itu pada Selasa (20/9).

Menyusul kekalahan di medan tempur di bagian timur laut Ukraina selama hampir 7 bulan berperang, Putin kini tampaknya merenungkan langkah-langkah berikut dalam menghadapi konflik yang telah memicu konfrontasi terbesar dengan Barat, sejak Krisis Rudal Kuba pada 1962.

Baca Juga: Tiongkok dan Rusia Menantang Tatanan Dunia

Advertisement

Diungkapkan oleh Medvedev – yang menjabat presiden pada periode 2008-2012 dan sekarang menjadi wakil ketua Dewan Keamanan Rusia – referendum akan mengubah jalan sejarah Rusia dan memungkinkan Kremlin lebih banyak pilihan untuk membela apa yang disebutnya bakal menjadi wilayah Rusia.

“Perambahan ke wilayah Rusia adalah kejahatan yang memungkinkan Anda untuk menggunakan semua kekuatan pertahanan diri. Inilah mengapa referendum sangat ditakuti di Kyiv dan Barat. Sama pentingnya bahwa setelah amandemen konstitusi negara kita, tidak ada pemimpin masa depan Rusia, tidak ada pejabat yang dapat membalikkan keputusan ini,” ujar Medvedev dalam pernyataan yang di-posting di Telegram, yang dilansir Reuters.

Menurut laporan, para pejabat yang didukung Rusia di 15% wilayah Ukraina – yang luasnya seukuran Hongaria atau Portugal – telah mengantre meminta digelar referendum untuk bergabung dengan Negeri Beruang Merah.

Tentara Ukraina mengendarai kendaraan lapis baja di Novostepanivka, wilayah Kharkiv pada 19 September 2022. ( Foto: YASUYOSHI CHIBA / AFP )

Kurang dari 24 jam sejak Senin (19/9), Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Luhansk – yang diakui Putin sebagai negara independen sebelum invasi – serta wilayah Kherson dan Zaporizhzhia telah meminta diadakan pemungutan suara untuk bergabung ke Rusia.

Ketua Majelis Rendah Parlemen Rusia (Duma) Vyacheslav Volodin juga mengatakan bakal mendukung penutupan bagian-bagian Ukraina yang memilih untuk bergabung dengan Rusia.

Apabila Rusia secara resmi mencaplok sebagian besar tambahan wilayah Ukraina maka Putin pada dasarnya telah menantang Amerika Serikat (AS) dan sekutu-sekutu Eropanya untuk mengambil risiko konfrontasi militer langsung dengan Rusia – yang memiliki kekuatan nuklir terbesar di dunia.

Konflik Lebih Besar

Namun pada Maret, Presiden AS Joe Biden telah memperingatkan bahwa konfrontasi langsung antara aliansi militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Rusia berarti pecah Perang Dunia III. Baik Biden dan para pemimpin NATO memilih berhati-hati untuk mengatakan bahwa tidak ingin pasukan NATO berkonflik langsung dengan pasukan Rusia.

Tetapi, Putin dan para jenderal dan pejabat senior di Rusia terlanjut menganggap konfliknya dengan Ukraina sebagai kontes yang lebih luas dengan Barat. Pasalnya, Barat telah mengirim persenjataan canggih ke Ukraina serta membantu memandu pasukan Ukraina dengan data intelijen dan pelatihan yang pada akhirnya membunuh pasukan Rusia.

Putin sendiri pada Jumat (16/9) telah menepis serangan kilat balasan Ukraina dalam beberapa pekan terakhir. Ia menyebut konflik itu sebagai upaya untuk mencegah hal yang disebutnya sebagai persekongkolan Barat untuk memecah dan menghancurkan Rusia.

Baca Juga: Ukraina Rebut Kembali Wilayah Setara Dua Pertiga New York

Sebagai informasi, konflik yang meletus di Ukraina timur dimulai pada 2014 setelah presiden pro-Rusia digulingkan dalam Revolusi Maidan Ukraina dan Rusia mencaplok Krimea. Sementara itu, kelompok separatis yang didukung Rusia di Donbas – yang terdiri atas Donetsk dan Luhansk – berupaya melepaskan diri dari kendali Ukraina.

Di samping itu, Pemerintah Ukraina menyataan tidak akan berhenti sampai setiap tentara Rusia diusir dari wilayahnya. Pihak berwenang Ukraina juga mengatakan tidak akan pernah menerima kendali Rusia atas wilayahnya, dan telah meminta Barat untuk memasok senjata yang lebih banyak serta lebih baik guna melawan pasukan Rusia.

Di sisi lain, tidak diketahui dengan jelas bagaimana pelaksanaan referendum separatis akan berhasil dalam situasi perang. Apalagi pasukan yang didukung Rusia hanya menguasai sekitar 60% wilayah Donetsk, sedangkan pasukan Ukraina berusaha merebut Luhansk kembali.

Baca Juga: PBB Akan Amankan Pembangkit Nuklir Ukraina yang dikuasai Rusia

Pasukan Rusia sebenarnya telah merebut seluruh wilayah Luhansk pada awal perang. Tapi para pejabat Ukraina mengatakan pada Senin, telah merebut kembali sebuah desa di wilayah itu dalam serangan balasan yang sedang berlangsung. Ukraina juga diketahui masih menguasai wilayah Kherson dan Zaporizhzhia.

“Referendum di Donbas sangat penting, tidak hanya untuk perlindungan sistematis penduduk LPR, DPR, dan wilayah yang dibebaskan lainnya, tetapi juga untuk pemulihan keadilan bersejarah,” tutur Medvedev.

Referendum 23-27 September

Kantor berita TASS melaporkan pada Selasa, bahwa kelompok separatis yang didukung Rusia di Republik Rakyat Luhansk akan mengadakan referendum untuk bergabung dengan Rusia antara 23-27 September. Demikian pernyataan yang dikutip dari wakil ketua separatis parlemen wilayah tersebut.

Parlemen separatis yang didukung Rusia itu pun telah mengesahkan undang-undang pada Selasa pagi, yang berisi rincian pemungutan suara yang diusulkan. Hanya saja dokumen itu tidak menyebutkan tanggal pemungutan suara.

Baca Juga: HUT Ukraina: Zelensky Janji Ukraina akan Berjuang Sampai Akhir

Para pejabat yang ditunjuk Rusia di beberapa wilayah Ukraina, yang telah direbut oleh pasukan Rusia telah meningkatkan upaya-upayanya untuk memberikan suara demi bergabung dengan Rusia dalam gerakan terkoordinasi.

Namun Kremlin belum mengomentari prospek pemungutan suara untuk memasukkan wilayah tersebut ke Rusia. Sebelumnya beredar kabar bahwa pemungutan suara adalah isu dari pejabat setempat yang ditempatkan di Rusia dan orang-orang yang tinggal di wilayah tersebut. 

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com