Menu
Sign in
@ Contact
Search
Seorang pria berjalan melewati kantor Grab di Singapura pada 26 Maret 2018. (Foto: Reuters/Edgar Su)

Seorang pria berjalan melewati kantor Grab di Singapura pada 26 Maret 2018. (Foto: Reuters/Edgar Su)

Grab: Tidak Ada PHK Besar Meski Pasar Lemah

Minggu, 25 Sep 2022 | 17:45 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

SINGAPURA, investor.id – Grab tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal seperti yang dilakukan beberapa perusahaan pesaingnya. Perusahaan transportasi dan pengiriman makanan terbesar di Asia Tenggara itu secara selektif merekrut, sambil mengekang ambisi layanan keuangannya.

COO Grab Alex Hungate mengatakan bahwa awal tahun ini Grab telah khawatir tentang resesi global. “Sangat berhati-hati dan bijaksana tentang perekrutan apa pun,” kata Hungate (56) kepada Reuters, Minggu (25/9). Sebagai hasilnya, Grab tidak sampai pada titik pembekuan atau PHK massal.

“Sekitar pertengahan tahun, kami melakukan semacam reorganisasi khusus. Tetapi saya tahu perusahaan lain telah melakukan PHK massal, jadi kami tidak melihat diri kami dalam kategori itu,” tegas Hungate dalam wawancara pertamanya sejak bergabung dengan Grab Holdings Ltd. Berbasis Singapura pada Januari 2022.

Baca juga: Mulai Minggu Dini Hari, Grab Naikkan Tarif 5 Layanannya

Advertisement

Perusahaan sedang merekrut untuk peran dalam ilmu data, teknologi pemetaan, dan bidang khusus lainnya meskipun setiap perekrutan adalah keputusan yang jauh lebih besar daripada sebelumnya, katanya.

“Anda ingin memastikan bahwa kami menghemat modal. Rintangan untuk merekrut pasti telah meningkat,” kata dia.

Grab yang berusia satu dekade memiliki sekitar 8.800 staf pada akhir 2021. Seperti para pesaingnya, Grab telah diuntungkan dari ledakan layanan makanan selama pandemi Covid-19 sementara layanan transportasi daring mengalami penurunan.

Saat ekonomi terbuka, permintaan pengiriman makanan menurun sementara bisnis ride hailing belum sepenuhnya pulih. Valuasi teknologi turun secara dramatis, ditambah inflasi, pertumbuhan yang melambat, dan kenaikan suku bunga muncul sebagai risiko.

Dalam beberapa pekan terakhir, perusahaan e-commerce terbesar di Asia Tenggara yakni Shopee memangkas pekerjaan di berbagai negara dan menutup beberapa operasi di luar negeri. Induk usahanya Sea Ltd. melaporkan kerugian yang semakin besar dan membatalkan perkiraan e-commerce tahunannya.

Hungate, seorang veteran di sektor jasa keuangan, logistik, dan makanan, telah mempelopori dorongan dari lini bisnis dengan margin rendah saat Grab berlomba untuk menghasilkan keuntungan.

Baca juga: Respons Grab Indonesia soal Kenaikan Harga BBM

Kerugian kuartal II-2022 perusahaan menyempit menjadi US$ 572 juta dari US$ 801 juta setahun sebelumnya. Tapi bulan lalu pihaknya memangkas prospek volume gross merchandise untuk tahun ini, menyalahkan dolar yang kuat dan surutnya permintaan pengiriman makanan.

“Area lain di mana kami benar-benar memperketat niat strategis kami adalah dalam layanan keuangan di mana kami menumbuhkan pembayaran, dompet, dan pinjaman keuangan non bank cukup signifikan di luar platform dan di dalam platform kami,” kata Hungate.

Grab mereorganisasi unit teknologi keuangan (fintech) tahun ini untuk fokus pada area yang lebih menguntungkan dan Reuters melaporkan keluarnya beberapa eksekutif senior.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : REUTERS

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com