Menu
Sign in
@ Contact
Search
Seorang pria memegang uang kertas pound Lebanon di Beirut, Lebanon pada 27 Oktober 2021. (FOTO: REUTERS/Issam Abdallah)

Seorang pria memegang uang kertas pound Lebanon di Beirut, Lebanon pada 27 Oktober 2021. (FOTO: REUTERS/Issam Abdallah)

Lebanon yang Dilanda Krisis Mendevaluasi Mata Uang

Kamis, 29 September 2022 | 06:34 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

BEIRUT, investor.id – Pemerintah Lebanon akan melemahkan nilai tukar resmi untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade, kata seorang pejabat bank sentral. Ini menjadi bagian dari upaya untuk mengatasi krisis keuangan yang melumpuhkan ekonomi negara.

Nilai tukar telah secara resmi dipatok pada 1.507 pound Lebanon terhadap dolar sejak 1997. Tetapi nilainya akan turun menjadi 15.000 pound Lebanon terhadap greenback pada akhir Oktober 2022, jelas pejabat itu dengan syarat anonim.

Perdagangan pound Lebanon telah di atas 38.000 terhadap dolar di pasar gelap, mendekati rekor terendah. Para analis kini skeptis bahwa langkah baru pemerintah dapat menstabilkan mata uang yang telah jatuh bebas selama tiga tahun.

Baca juga: Macron Gagas Bantuan Darurat US$ 350 Juta untuk Lebanon

Pound Lebanon telah kehilangan lebih dari 95% valuasinya di pasar gelap sejak awal krisis keuangan Lebanon 2019. Kondisi ini dicap oleh Bank Dunia sebagai salah satu penurunan terburuk di planet ini di zaman modern.

Keputusan untuk mendevaluasi mata uang tersebut menyusul kunjungan oleh delegasi dari Dana Moneter Internasional (IMF) pekan lalu, yang mendesak pemerintah agar menerapkan reformasi untuk membuka pinjaman miliaran dolar.

Penyatuan beberapa nilai tukar negara dan pembentukan sistem moneter serta nilai tukar yang kredibel dan transparan adalah salah satu tuntutan IMF.

Namun, para analis mencatat bahwa devaluasi ke 15.000 per dolar Lebanon masih jauh dari yang diperlukan untuk menciptakan nilai tukar terpadu.

“Akibatnya, dengan mendeklarasikan tarif baru, kami menambah keragaman tarif yang sudah ada,” kata ekonom Nasser Saidi, dilansir Kamis (29/9).

Pekan ini parlemen menyetujui rancangan anggaran 2022 yang terlambat, sebuah langkah yang juga diminta oleh IMF.

Salah satu nilai tukar yang tercantum dalam anggaran bergantung pada nilai 15.000 pound Lebanon terhadap dolar.

Lebanon berada di bawah tekanan IMF untuk menerapkan serangkaian reformasi sebelum masa jabatan Presiden Michel Aoun berakhir pada akhir Oktober 2022, kata Menteri Ekonomi Amin Salam kepada AFP.

Baca juga: Johnson & Johnson Rilis Nama Baru Produk Kenvue Jelang Spin Off

Tidak adanya konsensus tentang pengganti Aoun membuat proses pemilihan kepala negara baru bisa menghadapi penundaan, yang kerugiannya tidak dapat ditanggung oleh negara tersebut. Adapun Aoun ditunjuk pada 2016 setelah vakum lebih dari dua tahun.

Krisis ekonomi terburuk Lebanon telah membuat tingkat kemiskinan meningkat hingga mencapai lebih dari 80% populasi, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sementara itu harga pangan telah meningkat 2.000% sejak 2019, kata Program Pangan Dunia (WFP).

Saidi, mantan menteri dan wakil gubernur bank sentral, menilai nilai tukar baru dapat menambah kesengsaraan keuangan.

“Bagi orang biasa ini berarti inflasi tambahan (dan) karenanya (ada) kenaikan harga,” tandasnya.

Editor :

Sumber : AFP

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com