Menu
Sign in
@ Contact
Search
Credit Suisse. (Foto: Thomson Reuters 2022)

Credit Suisse. (Foto: Thomson Reuters 2022)

Apakah Benar Credit Suisse Bakal seperti Lehman Brothers?

Kamis, 6 Oktober 2022 | 19:42 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

LONDON, investor.id – Credit Suisse telah dirumorkan seperti Lehman Brothers, tetapi kepanikan mungkin berlebihan. Ibarat cuaca mendung, situasinya tidak hujan, melainkan hanya turun gerimis. Sebab itu, kepanikan soal Credit Suisse ini dinilai bukanlah momen seperti Lehman Brothers, yang memicu krisis keuangan global pada 2008.

Meski demikian, harga saham Credit Suisse telah terpuruk ke level terendah baru sepanjang masa, yang menyebabkan saham salah satu bank terbesar di Swiss ini di bawah nilai bukunya. Sebab terjadi lonjakan credit default swaps (CDS) atau semacam instrumen yang digunakan investor untuk mengukur potensi gagal bayar dari sebuah institusi.

Bukan Momen 'Lehman Brothers'

Belakangan ini, desas-desus yang beredar bahwa Credit Suisse juga bersiap untuk menjaring investor untuk permodalan.

Lantas, apakah kepanikan itu berlebihan? Mungkin saja. Sebab bank investasi ini memiliki posisi modal yang cukup kuat dan tidak ada bandingannya dengan pemberi pinjaman yang kolaps atau perlu diselamatkan selama krisis keuangan global.

Baca juga: Swiss National Bank Pantau Situasi Credit Suisse

Itu pula sebabnya mengapa berbagai komentator pasar bersusah payah untuk menekankan bahwa ini tampaknya bukan apa yang disebut sebagai momen 'Lehman Brothers'.

Credit Suisse memang merugi empat kuartal, tapi bank ini dilaporkan masih memiliki capital buffer hampir US$ 100 miliar yang dapat menutup kerugian. Aset yang dikelolanya masih tergolong besar mencapai US$ 1,47 triliun per kuartal II-2022. Aset tersebut di atas Lehman Brothers yang saat itu sebesar US$ 600 miliar.

Credit Suisse sendiri menangkis kekhawatiran banyak pihak mengenai kesehatan keuangan perusahaan, termasuk soal ketakutan yang mencoba menyamakan bank ini dengan Lehman Brothers.

Tersandung Skandal

Bank terbesar kedua di Swiss itu telah tersandung dari satu krisis ke krisis lainnya dalam beberapa tahun terakhir. Ada skandal mata-mata perusahaan tiga tahun lalu di mana bank ini dituduh mempekerjakan seorang detektif swasta, setelah salah satu mantan eksekutifnya membelot ke kompetitor.

Tak lama setelah itu, Credit Suisse kehilangan US$ 5,5 miliar dari eksposurnya terhadap manajer dana lindung nilai (hedge fund manager) yang runtuh, yaitu Archegos Capital. Sementara itu, Credit Suisse juga menderita kerugian terkait dengan kejatuhan kelompok keuangan rantai pasok, Greensill Capital.

Baca juga: Credit Suisse Rugi US$ 4,7 M terkait Gagal Bayar Archegos

Hal memalukan lainnya adalah serangkaian denda yang ditanggung karena memberikan pinjaman palsu, yang kemudian dijuluki ‘obligasi tuna’, kepada pemerintah Mozambik antara 2012 dan 2016.

Kerap Berganti Kepemimpinan

Setelah berbagai kemunduran ini, tampaknya telah terjadi kudeta yang cukup besar di Credit Suisse. Pada April 2021, perusahaan mempekerjakan Antonio Horta-Osorio, mantan kepala eksekutif Lloyds Banking Group yang sangat dihormati, untuk menjadi ketua baru. Investor senang ketika ia berjanji untuk membangun kembali reputasi bank.

Sayangnya, pada Januari tahun ini, ia terpaksa mengundurkan diri setelah penyelidikan internal mengungkapkan bahwa Horta-Osorio telah melanggar aturan karantina Covid-19 untuk menghadiri kejuaraan tenis Wimbledon.

Saham Jatuh

Bank ini telah melaporkan kerugian dalam lima dari tujuh kuartal terakhir dan masing-masing dari tiga kuartal terakhir, terutama karena masalah di divisi perbankan investasinya.

Ulrich Korner, kepala eksekutif yang dijuluki 'Uli the Knife' karena kehebatannya dalam memangkas biaya, seharusnya mewakili pemutusan hubungan dengan masa lalu. Sayangnya, menurut Financial Times, ia tampaknya telah menghabiskan sebagian besar akhir pekan lalu bersama dengan eksekutif senior lainnya di bank. Pihaknya mencoba meyakinkan klien dan investor tentang kesehatan keuangan bank.

Baca juga: CDS Credit Suisse Turun karena Kegelisahan ‘Momen Lehman’ Mereda

Korner mengirim memo internal kepada rekan-rekannya pada Jumat sore (30/9), yang kemudian bocor. Dalam memo itu, ia mendesak para rekan untuk tetap fokus di tengah banyak cerita yang dibaca di media. Ia meminta mereka untuk tidak membingungkan kinerja harga saham bank yang melemah. “Dengan basis modal dan posisi likuiditas yang kuat,” tulisnya, Jumat lalu. Saham Credit Suisse telah turun 61,5% sepanjang tahun ini, menyusul penurunan 5% pada Rabu (6/10).

Itu tampaknya tidak menenangkan saraf atas kesehatan keuangan Credit Suisse.

Biaya Dana Naik

Faktanya sekarang biaya pendanaan Credit Suisse telah meningkat dan menggerogoti profitabilitas, menyusul penurunan peringkat kreditnya.

Ironisnya adalah bahwa Gottstein dan pendahulunya di Credit Suisse, mantan kepala eksekutif Prudential yang sangat dihormati Tidjane Thiam, telah melakukan banyak pekerjaan untuk mencoba dan membentuk kembali Credit Suisse setelah krisis keuangan.

Baca juga: AS Kecam OPEC+ karena Kurangi Produksi Minyak Besar-Besaran

Sebuah keputusan sadar diambil, dengan dukungan dari pemerintah Swiss, untuk mengurangi divisi bank investasi Credit Suisse dan fokus pada manajemen kekayaan.

Tapi skandal terus datang. Sesaat sebelum Gottstein mengundurkan diri, bank ini menjadi pemberi pinjaman domestik Swiss pertama yang didenda karena kejahatan korporasi. Hukumannya berkaitan dengan kegagalan menghentikan pencucian uang oleh pengedar narkoba Bulgaria antara 2004-2008.

Terlalu Besar untuk Gagal

Kesengsaraan bank ini penting. Credit Suisse, yang duta besarnya termasuk superstar tenis Roger Federer, adalah salah satu dari hanya 30 pemberi pinjaman dalam daftar 'Bank Penting Secara Sistemik Global' yang diterbitkan oleh Dewan Stabilitas Keuangan (badan multinasional yang mempromosikan stabilitas keuangan global). Ini berarti, Credit Suisse terlalu besar untuk gagal.

Baca juga: Morgan Stanley: Inflasi Asia Sudah di Puncaknya Dibandingkan AS dan Eropa

Credit Suisse juga merupakan perusahaan besar di Inggris. Dari 45.000 karyawan bank secara global, sekitar 6.000 ada di Inggris, sebagian besar bekerja di kantor Canary Wharf. Gedung ini juga merupakan rumah bagi koleksi seni yang mencerminkan perlindungan mewah bank terhadap sektor tersebut.

Tampaknya sangat mungkin bahwa jika restrukturisasi yang direncanakan oleh Korner tergolong radikal seperti yang dikabarkan. Ini bisa saja seradikal yang dituntut oleh para pemegang saham, yang mungkin diserap untuk mendapatkan uang tunai. Jika demikian, maka bank tersebut mungkin mempekerjakan lebih sedikit orang di London dan New York dalam waktu dekat.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : Sky News

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com