Menu
Sign in
@ Contact
Search
Pemandangan di Tokyo, Jepang yang memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit pada 17 Agustus 2020. (Foto: Charly TRIBALLEAU / AFP)

Pemandangan di Tokyo, Jepang yang memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit pada 17 Agustus 2020. (Foto: Charly TRIBALLEAU / AFP)

Hampir 80% Perusahaan Jepang di Eropa Terdampak Perang Ukraina

Jumat, 25 November 2022 | 08:42 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

TOKYO, investor.id – Sekitar 77% atau hampir 80% perusahaan Jepang di Eropa mengalami operasi yang terdampak serangan Rusia ke Ukraina terutama melalui kenaikan harga energi dan pangan serta gangguan dalam logistik, menurut sebuah survei.

Survei tersebut dilakukan oleh Organisasi Perdagangan Eksternal Jepang (JETRO) secara daring terhadap 1.445 perusahaan pada kurun waktu antara 1-26 September dengan tanggapan valid dari 799 responden.

Menurut survei itu, perusahaan manufaktur merasakan dampak yang lebih besar, dengan 83,7% responden di sektor itu mengatakan bisnis mereka menderita akibat perang di Ukraina.

Baca juga: Jepang Pertimbangkan Bentuk Badan Pertahanan Perangi Serangan Siber

Di antara 605 perusahaan yang menjawab pertanyaan pilihan ganda tentang faktor negatif yang mengganggu bisnis mereka, sebanyak 65,1% menyebutkan kenaikan harga energi, 55,9% mengatakan harga bahan baku dan sumber daya yang lebih tinggi seperti produk plastik dan karet, sementara 54% menyebut peningkatan gangguan dan hambatan dalam logistik.

“Survei ini menunjukkan parahnya dampak perang Ukraina terhadap operasi bisnis,” kata Akiko Ueda, pejabat di JETRO, pada Jumat (25/11).

“Fakta bahwa hampir 80% perusahaan mengaku mereka merasa dampak negatif dari perang Ukraina menunjukkan adanya situasi di mana mereka tidak dapat menghindari kerugian, bahkan jika mereka mempercepat upaya seperti menurunkan harga untuk pelanggan,” ujar Ueda.

Dia menambahkan resolusi untuk konflik Rusia-Ukraina adalah hal penting untuk memperbaiki kondisi bisnis.

Krisis Ukraina, yang dipicu oleh serangan Rusia pada 24 Februari, telah menyebabkan ekspor biji-bijian dari negara Eropa Timur itu terhuyung-huyung, yang kemudian menyebabkan kenaikan harga makanan.

Perusahaan Jepang di industri makanan serta di sektor pengolahan pertanian dan perikanan sangat terpengaruh, kata JETRO.

Baca juga: Warren Buffett Borong Saham di 5 Trading House Raksasa Jepang, Sahamnya Melonjak

Industri otomotif juga menderita karena terpaksa mengurangi atau menghentikan operasi di Rusia dan mengalami kenaikan harga energi, bahan mentah, dan suku cadang, menurut survei organisasi tersebut.

Dari 501 perusahaan yang memberikan jawaban atas pertanyaan tentang penanggulangan, sebanyak 50,5% mengatakan bahwa mereka membebankan biaya yang lebih tinggi kepada pelanggan.

Sekitar 27,5% telah mendiversifikasi basis pasokan mereka, sementara 25,1% mencari pelanggan baru.

Di sektor manufaktur, 29,4% perusahaan mengatakan mereka telah meningkatkan persediaan.

Di antara kekhawatiran lain atas krisis Ukraina, perusahaan-perusahaan Jepang menyebut tentang prospek yang tidak pasti kapan perang akan berakhir dan kapan bisnis mereka di Rusia dapat dilanjutkan, kata survei tersebut.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : ANTARA

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com