G7 Janji Intensifkan Tekanan Ekonomi Terhadap Rusia

WASHINGTON, investor.id – Para pemimpin negara Kelompok Tujuh ekonomi besar dunia (G7) berjanji untuk mengintensifkan tekanan ekonomi pada Rusia di tengah perangnya melawan Ukraina.
Negara anggota G7 juga berusaha untuk menyediakan sistem pertahanan udara yang sangat dibutuhkan Ukraina, karena mereka tidak melihat bukti pemerintah Rusia berkomitmen untuk upaya perdamaian.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan setelah pertemuan daring, para pemimpin anggota G7 yang meliputi Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Uni Eropa (UE) juga mengatakan mereka bertekad membantu Ukraina memperbaiki dan mempertahankan infrastruktur energi dan air yang rusak akibat serangan Rusia.
Baca juga: G7 Tawarkan US$ 15 Miliar Agar Vietnam Kurangi Pakai Batubara
G7 juga akan membantu Ukraina dalam memenuhi kebutuhan kesiapannya selama musim dingin.
“Hari ini, kami menegaskan kembali dukungan dan solidaritas kami yang tak tergoyahkan dengan Ukraina dalam menghadapi perang agresi Rusia yang sedang berlangsung dan selama diperlukan,” kata pernyataan bersama para pemimpin G7, Rabu (14/12).
Untuk memenuhi kebutuhan penting peralatan militer dalam upaya pertahanan diri Ukraina, pernyataan G7 itu menyebutkan bahwa memasok peralatan pertahanan udara adalah fokus mendesak.
Sementara itu, pemerintah AS menyatakan prihatin dengan meningkatnya kerja sama militer antara Rusia dan Iran. AS menegaskan bahwa pemerintah Iran telah memberi pesawat nirawak (drone) untuk digunakan Rusia di medan perang, termasuk dalam serangan terhadap infrastruktur sipil di Ukraina.
G7 juga akan tetap berkomitmen pada langkah-langkah sanksi terkoordinasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam menanggapi perang Rusia. Pihaknya juga akan mempertahankan dan mengintensifkan tekanan ekonomi terhadap Rusia serta mereka yang menghindari tindakan hukuman, menurut pernyataan bersama itu.
“Kami bertekad bahwa Rusia pada akhirnya harus membayar pemulihan infrastruktur penting yang rusak atau hancur akibat perang brutalnya,” kata pernyataan G7 itu.
Perdana Menteri (PM) Jepang Fumio Kishida mengecam keras serangan Rusia terhadap infrastruktur energi sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan, kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Jepang.
Menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 tahun depan yang akan diadakan di bawah kepresidenan Jepang, para pemimpin negara G7 mengatakan dalam pernyataan mereka bahwa mereka akan tetap bersatu dan berkomitmen untuk upaya menuju masa depan yang damai dan sejahtera bagi semua.
Baca juga: G7 Tuntut Sanksi yang Lebih Keras Terhadap Korut Setelah Pelunduran Rudal
Kishida mengatakan kepada rekan-rekannya bahwa peran G7 telah menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Jepang, sebagai ketua berikutnya, berjanji akan mencari keselarasan diantara anggota kelompok itu untuk membantu Ukraina pulih dari perang.
G7 terdiri dari Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang dan AS, ditambah UE.
Sejak serangan Rusia dimulai pada 24 Februari 2022, G7 telah meluncurkan serangkaian sanksi untuk meminta pertanggungjawaban Rusia atas perang tersebut termasuk pembekuan aset dan pemutusan Rusia dari sistem pembayaran utama internasional.
Pada awal Desember, batas harga minyak mentah Rusia yang disetujui oleh G7 dan Australia akan diberlakukan dalam upaya terbaru untuk memeras sumber pendapatan utama Rusia untuk perangnya.
Batas harga produk minyak bumi Rusia akan mulai berlaku pada awal Februari.
Terkait masalah penanganan perubahan iklim yang dituangkan dalam Perjanjian Paris, para pemimpin G7 mengumumkan pembentukan “Klub Iklim” internasional dan mengundang negara-negara mitra untuk bergabung.
Fokus awal klub itu adalah membuka potensi dekarbonisasi sektor industri, kata dokumen terpisah yang diunggah di situs web pemerintah Jerman, yang saat ini memegang kepresidenan G7.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Dapatkan info hot pilihan seputar ekonomi, keuangan, dan pasar modal dengan bergabung di channel Telegram "Official Investor.ID". Lebih praktis, cepat, dan interaktif. Caranya klik link https://t.me/+ijaEXDjGdL1lZTE1, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Baca Berita Lainnya di GOOGLE NEWS