Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

'Jalan Tengah' Pilihan Terbaik untuk Tibet

Kamis, 26 April 2012 | 14:57 WIB
Antara

CHICAGO-Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet di pengasingan, mengatakan Rabu dia tidak akan mengubah pencariannya tanpa kekerasan bagi otonomi Tibet yang lebih besar, bahkan setelah Beijing mempersalahkan dirinya karena mengobarkan gelombang kerusuhan.

Total 34 warga Tibet, banyak diantara mereka pendeta dan biarawati Buddha, dilaporkan telah mencoba bunuh diri dengan membakar diri di wilayah China berpenduduk Tibet sejak awal 2011 memrotes kekuasaan China.

Banyak pemrotes -- yang mengritik Beijing akibat apa yang mereka anggap sebagai represi budaya mereka -- dilaporkan telah tewas karena luka bakar parah.

Beijing telah berulang kali menuduh Dalai Lama menghasut pengorbanan diri dalam upaya untuk memisahkan kawasan Himalaya yang luas dari negara itu, tuduhan yang disangkalnya.

"Belakangan segalanya menjadi sangat, sangat sulit namun pendirian kami -- tidak berubah," kata Dalai Lama pada Pertemuan Puncak Dunia para Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian.

"Kemerdekaan, kemerdekaan penuh tidak realistis -- bukan itu masalahnya," kata Dalai Lama, mengatakan "Jalan Tengah" tanpa kekerasannya untuk mengupayakan perubahan dari Beijing masih didukung 90 persen warga Tibet.

"Jadi kita bisa melanjutkan," katanya dalam konferensi pers pada penutupan pertemuan puncak itu.

Kepemimpinan Tibet dalam pengasingan di India tetap komit dengan "pembicaraan yang bermakna" dengan pemerintah China untuk menciptakan "otonomi yang bermakna" bagi minoritas warga Tibet, katanya.

Pengorbanan diri terakhir oleh dua warga muda Tibet terjadi minggu lalu di perfektur Aba di wilayah terjal provinsi Sichuan, kata kelompok-kelompok hak asasi Tibet.

China telah menerapkan pengamanan ketat guna mencegah ketidakpuasan yang medidih di wilayah-wilayah Tibet sejak 2008, ketika kerusuhan mematikan menentang kekuasaan China pecah di ibu kota Tibet Lasha dan menyebar ke wilayah-wilayah tetangga berpenduduk Tibet.

Banyak warga Tibet di China mengeluhkan represi religius dan erosi bertahap budaya mereka yang dipersalahkan karena membludaknya mayoritas China Han memasuki tanah leluhur mereka.

China menyangkal represi apapun dan mengatakan telah meningkatkan kehidupan warga Tibet dengan investasi di bidang infrastruktur, sekolah dan perumahan serta dengan memacu pertumbuhan ekonomi.

Dua belas pemenang Nobel termasuk Uskup Agung Afrika Selatan Desmond Tutu telah mendesak presiden China agar melanjutkan pembicaraan dengan Dalai Lama, namun pendeta Buddha itu mengatakan hingga kini, negosiasi tidak produktif.

"Kadang-kadang saya menggambarkan rezim totalitarian sebagai tidak punya telinga, hanya mulut," katanya pada pertemuan puncak sambil tertawa.

Para pejabat China "menguliahi kami, tidak pernah benar-benar mendengarkan" dan marah bahwa "saya tidak berlaku seperti 'menteri yes man'," katanya.

"Pendekatan kami gagal membawa sejumlah hasil kongkrit atau positif dari pemerintah, namun publik China, atau para intelektual China, atau para mahasiswa yang belajar di negara-negara asing -- mereka mulai mengetahui realitasnya," katanya.

"Itu, saya rasa, segi yang positif, hasil yang signifikan."

Dalai Lama juga mengungkapkan perlunya kesabaran dalam perjuangan panjang berpuluh tahun ini.

"Kadang-kadang orang mendapat kesan (ini adalah) suatu krisis yang baru saja tejadi," katanya.

"Saya bertemu dengan beberapa orang China. Mereka frustrasi. Sangat bermusuhan. Kemudian saya menceritakan kepada mereka cerita panjang... cerita sepanjang 60 tahun. Kemudian mereka paham, oh -- masalah Tibet itu sungguh masalah yang sangat, sangat rumit." (ant/hrb)

Editor : herry barus (herrybarus@yahoo.com.au)

BAGIKAN