Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Harga Minyak Bervariasi dalam Perdagangan Lesu

Rabu, 17 Oktober 2012 | 08:48 WIB
Antara

NEW YORK-Harga minyak mentah bervariasi dalam perdagangan yang lesu, Rabu pagi (17/10), karena investor mempertentangkan data ekonomi positif terhadap prospek permintaan global yang lemah dan ketegangan di Timur Tengah, kata para analis.

Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI), untuk pengiriman November naik 24 sen dari posisi Senin menjadi ditutup pada 92,09 dolar AS per barel.

Dalam perdagangan di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman November merosot 73 sen menjadi 115,07 dolar AS per barel. Kontrak untuk November berakhir pada penutupan.

"Secara keseluruhan pasar minyak mentah sangat lesu, tanpa banyak gerakan ke satu arah atau lainnya," kata analis BMO Capital Markets.

Kontrak berjangka New York telah mengikuti pasar keuangan yang lebih tinggi karena latar belakang makroekonomi menggembirakan termasuk data produksi industri AS, peningkatan kepercayaan investor Jerman, dan pembicaraan bahwa Spanyol akan segera meminta bantuan Bank Sentral Eropa (ECB), kata Tim Evans di Citi.

"Pasar juga menguat untuk data persediaan mingguan AS," tambahnya.

Menurut analis yang disurvei oleh Dow Jones Newswires, Departemen Energi AS (DoE) pada Rabu diperkirakan melaporkan bahwa stok minyak mentahnya naik sebesar 900 barel pada pekan lalu, setelah melompat 1,7 juta barel minggu sebelumnya.

"Kebanyakan memperkirakan sebuah bangunan dalam persediaan minyak mentah," kata James Williams di WTRG Economics.

Sementara itu, pasar minyak juga mendapatkan dukungan dari berlanjutnya kekhawatiran atas ketegangan di Timur Tengah, khususnya Iran, kata para analis.

"Mendukung minyak adalah sanksi ketat terhadap Iran dari Uni Eropa," kata analis Purvin & Gertz, Victor Shum.

Para menteri luar negeri Uni Eropa pada Senin menyetujui sanksi baru yang keras terhadap Iran, bertujuan untuk memaksa terobosan dalam pembicaraan program nuklir Teheran, dan juga terhadap rezim Suriah yang dilanda perang.

Spanyol tetap menjadi duri dalam sisi pedagang karena dianggap ragu-ragu atas bantuan keuangan Uni Eropa, kata Justin Harper, analis IG Markets Singapura.

"Sementara banyak berharap negara sudah akan memastikan paket dana talangan (bailout), lantai perdagangan membicarakan November sebagai awal pemerintah Spanyol akan meminta dana penyelamatan Eropa." (ant/hrb)

Editor : herry barus (herrybarus@yahoo.com.au)

BAGIKAN