Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Botol-botol vaksin Covid-19 Sputnik V buatan Rusia, di Kota Gaza pada 22 Maret 2021. ( Foto: MOHAMMED ABED / AFP )

Botol-botol vaksin Covid-19 Sputnik V buatan Rusia, di Kota Gaza pada 22 Maret 2021. ( Foto: MOHAMMED ABED / AFP )

60 Juta Dosis Vaksin Sputnik akan Diproduksi di Tiongkok

Selasa, 30 Maret 2021 | 06:57 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

MOSKOW, investor.id – Pemerintah Rusia menyetujui kesepakatan produksi lebih dari 60 juta dosis vaksin Sputnik V di Tiongkok mulai Mei 2021.

Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF), yang telah mendanai pengembangan vaksin tersebut, pada Senin (29/3) menyatakan pihaknya dan Shenzhen Yuanxing Gene-tech Co telah membuat kesepakatan tersebut.

"Telah setuju untuk bekerja sama dalam produksi lebih dari 60 juta dosis (Sputnik V di Tiongkok),” jelas perwakilan RDIF, yang dikutip AFP.

RDIF selaku lembaga investasi negara Rusia menyatakan bahwa jumlah vaksin dua dosis akan cukup untuk memvaksinasi sekitar 30 juta orang. Pihaknya menambahkan, produksi itu akan dimulai Mei mendatang.

"Kerja sama dengan Shenzhen Yuanxing Gene-tech akan memungkinkan kami memproduksi Sputnik V di Tiongkok, sehingga meningkatkan kapasitas untuk memberikan jumlah tambahan karena kami melihat peningkatan permintaan untuk vaksin Rusia secara global," ujar CEO RDIF Kirill Dmitriev.

Presiden Rusia Vladimir Putin pada Minggu (28/3) meminta warganya untuk divaksin Covid-19. Karena vaksinasi Covid-19 di Rusia tetap lamban dan keraguan di tengah masyarakat tetap tinggi.

Berbicara di televisi negara, Putin yang menerima suntikan pekan lalu tersebut mengatakan vaksinasi diperlukan.

Jika seseorang ingin merasa percaya diri, tidak ingin sakit dan menimbulkan akibat yang serius setelah sakit, maka lebih baik mendapatkan vaksin ini, tentu saja," kata Putin seperti dikutip kantor berita Rossiya-1.

Presiden berusia 68 tahun itu menerima dosis pertamanya pada Selasa (23/3), tetapi tidak mengungkapkan suntikan mana dari tiga yang dikembangkan di Rusia, Sputnik V, EpiVacCorona, atau CoviVac. Tidak seperti banyak pemimpin dunia, Putin juga memilih untuk divaksinasi tidak di depan publik.

Pemerintah Rusia memulai kampanye vaksinasi pada awal Desember 2020. Tetapi hanya sekitar empat juta dari 144 juta orang sejauh ini yang telah menerima dua dosis vaksin, sementara dua juta lainnya telah menerima dosis pertama.

Skeptisisme vaksin semakin tinggi di Rusia, dengan jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan kurang dari sepertiga orang bersedia melakukan suntikan. Selebihnya, hampir dua pertiga mengatakan mereka percaya virus corona adalah senjata biologis buatan manusia.

Negara ini termasuk yang paling terdampak oleh Covid-19. Jumlah kasusnya sudah mencapai lebih dari 4,5 juta.

Data resmi juga menunjukkan, Rusia telah mencatat lebih dari 200.000 kematian terkait Covid-19.

Pemerintah Rusia telah mencabut hampir semua tindakan epidemiologis melawan virus corona. Otoritas kesehatan negara mengatakan pandemi terburuk telah berlalu selama musim dingin.

Putin mengatakan, Rusia akan dapat mengakhiri sisa pembatasan setelah sekitar 70% orang dewasa Rusia divaksinasi. Dia meramalkan hal itu akan tercapai pada akhir musim panas.

Belum Disetujui EMA

Sementara itu, pemerintah Jerman pekan lalu menyatakan terbuka untuk menggunakan vaksin Sputnik V jika telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat-obatan Eropa (EMA).

"Persetujuan EMA, yang belum dimiliki Sputnik V, akan membuka jalan bagi penggunaan vaksin tersebut dalam kampanye vaksinasi di Eropa dan kemudian akan layak dipertimbangkan untuk Jerman," kata juru bicara Kanselir Angela Merkel, Steffen Seibert.

Sebelumnya, Merkel secara langsung merujuk pada vaksin Sputnik V dan mengatakan pemerintah Jerman akan menggunakan vaksin apa pun yang telah disetujui oleh EMA.

EMA bulan ini meluncurkan tinjauan bergulir Sputnik V, sebuah langkah penting untuk disetujui sebagai yang vaksin virus coronan non-Barat pertama yang akan digunakan di seluruh blok 27 negara.

Diduga Propaganda

Sebelumnya, negara-Barat menuduh pemerintah Tiongkok dan Rusia menggunakan vaksinnya sebagai alat untuk memenangkan pengaruh geopolitik.

Sebaliknya pemerintah Tiongkok dan Rusia menolak klaim pihaknya berusaha menggunakan vaksin virus corona untuk memperluas pengaruhnya dan menuduh negara-negara Barat menimbun vaksin yang merugikan negara-negara miskin.

Vaksin Sputnik V telah terdaftar di 57 negara, dengan total populasi lebih dari 1,5 miliar orang.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN