Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Dua Juta Anak Putus Sekolah karena Konflik Suriah

Senin, 9 September 2013 | 08:53 WIB
Antara

JENEWA, SWISS — Tahun ajaran baru akan segera dimulai Suriah, tetapi  kira-kira  dua juta  anak  terlantar di dalam dan luar Suriah, tidak memperoleh pendidikan. Sekitar 40 persen  dari mereka dari kelas satu sampai 3 SMP, putus sekolah.

Menurut UNICEF,  sekitar separuh dari mereka  melarikan diri dari konflik di Suriah,  dan sekarang menjadi pengungsi di Lebanon, Yordania, Irak dan Turki. Jurubicara  UNICEF, Marixie  Mercado mengatakan, “Sebagian besar anak tidak bisa bersekolah karena banyak alasan," ujar juru bicara UNICEF Marixie Mercado. "Meningkatnya kekerasan di dalam negeri Suriah, tantangan bahasa, akses, keamanan, kemiskinan, dan ketegangan di dalam  masyarakat. Setelah 30 bulan mengalami  konflik, anak-anak menjadi semakin takut, marah dan kecewa. Resiko hilangnya satu generasi menjadi semakin gawat karena  tiap hari anak-anak tidak bisa masuk sekolah."

Di Lebanon terdapat 550.000 anak Suriah usia sekolah, lebih dari separuh jumlah yang bisa ditampung oleh sekolah-sekolah di Lebanon. Di Yordania, menurut UNICEF,  sekitar  dua pertiga  dari 150.000 anak Suriah usia sekolah tidak bersekolah. Di salah satu kamp utama, kurang dari separuh dari 30.000 anak Suriah bersekolah. Para pemimpin agama dan masyarakat berusaha meningkatkan  pendidikan dan pengetahuan di Yordania. Sementara di Irak, 90 persen anak pengungsi putus sekolah.

“Ada 3.000 lebih sekolah yang rusak atau hancur, 900 lebih sekolah  digunakan untuk tempat penampungan bagi keluarga-keluarga yang  meninggalkan rumah-rumah mereka," kata Mercado. "Sekolah-sekolah yang buka tidak mempunyai cukup guru, kekurangan ruang kelas, dan tidak cukup  dana. Kenyataan bahwa  masih ada anak-anak yang pergi ke sekolah adalah luar biasa, dan saya rasa  itu  menunjukkan prioritas luar biasa warga Suriah dalam pendidikan. Para orang tua murid  berbicara tentang  resiko yang mereka hadapi kalau mereka menyekolahkan anak-anak mereka."

Sementara itu negara-negara Uni Eropa (EU) menyerukan tanggapan "keras" terhadap Suriah tetapi tidak mendukung aksi militer,sementara Presiden Amerika Serikat Barack Obama memperingatkan bahaya "mengabaikan" serangan-serangan senjata kimia.

Baru saja pulang dari KTT G-20 di Saint Petersburg, Rusia di mana ia gagal meraih dukungan dari para pemimpin dunia mengenai rencananya, Obama mendesak Kongres mengizinkan satu intervensi internsional atas apa yang dituduhkannya bahwa Presiden Suriah Bashar al-Assad mengguakan senjata-senjata kimia.

"Kita tidak dapat mengabaikan terhadap apa yang terjadi di Suriah," kata Obama dalam pidato mingguannya.(vanews/ant/hrb)

Editor : herry barus (herrybarus@yahoo.com.au)

BAGIKAN