Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Investasi Industri Pengolahan Terus Melejit

Kamis, 23 Januari 2014 | 13:19 WIB
Laporan Esther Nuky dari Davos, Swiss

DAVOS - Investasi industri pengolahan di Indonesia terus melejit, dengan kebijakan  pemerintah mengerem atau melarang ekspor barang mentah, antara lain lewat pemberlakuan bea keluar (BK). Kebijakan ini membuat industri pengolahan kakao bertumbuh menjadi empat kali lipat, dari 100.000 ton kapasitas per tahun menjadi 400.000 ton. Sedangkan larangan ekspor bahan tambang mentah membuat banyak perusahaan sedang dan akan membangun smelter dengan total investasi Rp 150 triliun. Industri biodiesel sawit juga diperkirakan akan meningkat investasinya.

Kepala BKPM Mahendra Siregar mengatakan, sekitar empat tahun lalu, BK sawit, kakao, dan karet diberlakukan. Saat menghadiri pertemuan investasi kakao Eropa, banyak yang mempertanyakan mengapa Pemerintah Indonesia melakukan kebijakan itu. Indonesia diramalkan merugi karena tidak akan mampu mengolah dan BK membuat kakao menjadi mahal sehingga tak bisa dijual.

"Nah, dalam acara WEF besok akan kami laporkan kepada mereka, setelah 3,5 tahun, kapasitas pemrosesan kakao melonjak dari 100.000 ton menjadi 400.000 ton lebih. Memang kini tidak lagi bisa ekspor kakao, tapi karena habis dipakai industri dalam negeri, bukan karena kakao menjadi mahal sehingga tidak laku dijual," kata Mahendra di Davos, Swiss, Rabu (22/1).

World Economic Forum (WEF) Annual Meeting adalah acara tahunan para pemimpin negara dan pebisnis dunia. Pertemuan orang-orang penting dunia tersebut, tahun ini, berlangsung 22-25 Januari di Davos, Swiss.

Ia menjelaskan, BKPM kini sudah mengeluarkan izin pembangunan smelter 28 perusahaan, dengan total investasi sekitar Rp 150 triliun hingga 2-3 tahun ke depan. Sebanyak  tiga perusahaan tahun ini sudah selesai pabriknya, yakni smelter bauksit, nikel, dan bijih besi.

Sedangkan di sektor sawit juga bisa ditingkatkan hilirisasinya dengan kini pasar di dalam negeri diperbesar, dengan didorong menggunakan biodiesel. Lewat mandatori penggunaan biodiesel, industri pengolahan akan meningkat investasinya. Saat ini, minyak sawit mentah (CPO) masih lebih banyak diekspor karena pasar dalam negeri belum berkembang sepenuhnya.

"Sisi rantai pasokan ke depan dan belakangnya juga harus dibenahi. Jika  tak dibenahi, tak akan berkelanjutan. Kakao jika tidak diperbaiki perkebunannya, dua tahun lagi kita impor biji kako, padahal hilirisasi sukses. CPO juga, pertambangan juga," tandasnya.

Ia menjelaskan, kunci pembangunan industri pengolahan adalah menerapkan kebijakan yang konsisten. Pihak asing belum tentu mendukung, tapi akan menyesuaikan dan investasi, misalnya di sektor tambang untuk mendapatkan akses pemurnian dan pengolahan. Ini kesempatan baik bagi Indonesia.

"Dalam forum WEF, kehadiran pemimpin pemerintahan, bisnis, dan organisasi lain bisa untuk menjelaskan perspektif kita. Indonesia kini semakin diperhatikan dan industri pengolahan kita akan menjadi sangat besar. Para pengusaha papan atas dunia ini sudah tahu, namun jika dijelaskan langsung di  forum seperti WEF bahwa kita menerapkan kebijakan secara konsisten, mereka akan lebih percaya," kata Mahendra.

Ia menjelaskan, industri pemrosesan komoditas dan tambang akan menarik investasi yang sangat besar jumlahnya. Ini jelas merupakan kontribusi penting untuk pertumbuhan ekonomi ke depan. Investasi di sektor lain juga tinggi.

"Tahun 2013 kita meraih investasi sekitar Rp 398 triliun. Investasi yang sudah pipeline juga membesar. Tahun ini, investasi bisa mencapai Rp 456-457 triliun atau 15% kenaikannya. Sedangkan pertumbuhan ekonomi tahun ini sekitar 5,8% cukup bagus, sehingga tidak menimbulkan ketidakseimbangan dan memang sebaiknya lebih cepat membangun infrastruktur sehingga tidak bottlenecking yang menyebabkan inefisiensi," katanya. (en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN