Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilutrasi Laporan aktivitas mencurigakan (suspicious activity reports/SARs). ( Foto: gfiu.gov.g )

Ilutrasi Laporan aktivitas mencurigakan (suspicious activity reports/SARs). ( Foto: gfiu.gov.g )

Laporan SARs ke FinCen

Ada Kegagalan Sistemik Keuangan dan Industri

Rabu, 23 September 2020 | 07:25 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Laporan aktivitas mencurigakan atau suspicious activity reports (SARs) yang disampaikan kepada Jaringan Penegakan Kejahatan Keuangan Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) atau Financial Crimes Enforcement Network (FinCen) telah mengungkap adanya kegagalan sistemik di seluruh sistem keuangan dan industri dunia.

Bocoran laporan tersebut mengemuka pada Senin (21/9) dan membuat saham perbankan anjlok, karena ada transaksi mencurigakan senilai US$ 2 triliun yang difasilitasi bank-bank besar dan lembaga keuangan global lainnya.

Rachel Woolley, direktur kejahatan keuangan konsultan regulasi Fenergo menyampaikan bahwa SARs telah digunakan sebagai mekanisme pertahanan untuk memberikan tanggung jawab kepada pemangku kepentingan lainnya, mengingat banyak negara yang kekurangan sumber daya untuk secara aktif menyelidiki laporan tersebut. Di sisi lain, laporan SARs ini belum tentu menjadi bukti adanya tindak pidana.

“Denda terus meningkat, lebih dari US$ 40 miliar sejak krisis keuangan. Tetapi apakah ini benar-benar menghalangi lembaga keuangan yang memfasilitasi pencucian uang? Dibandingkan dengan triliunan dolar yang berpindah-pindah secara ilegal, ini terlihat seperti biaya berbisnis yang sederhana,” ujar Woolley dalam surat elektronik kepada CNBC, Senin (21/9). waktu setempat

Dia pun menganjurkan supaya fokus sektor keuangan sekarang harus bergeser ke kepatuhan efektif daripada teknis.

“Hari-hari bersembunyi di balik kerumitan dan pekerjaan birokrasi telah berlalu. Seluruh industri perlu berkolaborasi secara lebih efektif untuk mematuhi kebijakan dan mencegah kejahatan memasuki sistem keuangan,” kata Woolley.

Seperti dilaporkan sebelumnya, bank-bank global dilaporkan terlibat skandal memfasilitasi transaksi mencurigakan senilai US$2 triliun antara 1999 dan 2017. Laporan tersebut dirilis oleh ICIJ, dan berdasarkan bocoran-bocoran dokumen yang diperoleh BuzzFeed News.

Padahal, lembaga-lembaga keuangan telah diwajibkan secara hukum untuk memberi tahu regulator ketika mendeteksi adanya aktivitas-aktivitas mencurigakan, seperti pencucian uang atau pelanggaran sanksi.

Isi dokumen juga menyebutkan Deutsche Bank, JPMorgan, Standard Chartered, HSBC, Barclays, BNY Mellon dan Societe Generale, yang mana kesemuanya telah diidentifikasi. Namun bank-bank itu telah menekankan peningkatan pengeluaran untuk sistem kepatuhan dalam beberapa tahun terakhir dan membantah adanya kesalahan yang disengaja.

Kantor pusat JPMorgan Chase & Co. World di New York City, Amerika Serikat (AS). (Foto: AFP / Johannes EISELE)
Kantor pusat JPMorgan Chase & Co. World di New York City, Amerika Serikat (AS). (Foto: AFP / Johannes EISELE)

Mengancam Masyarakat

Sebelumnya pada Minggu (20/9), Institute for International Finance (IIF) menyuarakan harapan, bahwa temuan tersebut akan memacu para pembuat kebijakan di seluruh dunia memberlakukan reformasi mendesak untuk memerangi kejahatan keuangan, yang menurut Presiden dan CEO IIF Tim Adams menimbulkan ancaman besar bagi masyarakat secara keseluruhan.

“Temuan-temuan dari laporan hari ini, sekali lagi menekankan kebutuhan mengejar perubahan yang dipimpin intelijen untuk manajemen risiko kejahatan keuangan – karena didorong oleh peningkatan yang berarti pada kerja sama sektor publik-swasta dan berbagi informasi lintas batas, ditambah dengan penggunaan teknologi – guna meningkatkan kerangka kejahatan anti-keuangan global,” ujar Adams.

IIF menekankan ada keseimbangan yang harus dicapai antara mengelola risiko kejahatan keuangan, dan memastikan akses ke sistem keuangan untuk pelanggan yang sah. IIF menunjukkan bahwa SARs, sebagai salah satu bagian dari keseimbangan ini, harus bekerja bersama-sama berbagi intelijen operasional dan taktis.

Badan tersebut juga menekankan pentingnya mengidentifikasi pemilik sebenarnya atau individu yang menjalankan kendali dalam hubungan bisnis dengan cara yang andal dan transparan melalui reformasi informasi beneficial ownership.

Denda Finansial

Dalam laporan baru-baru ini, DBRS Morningstar menyoroti peningkatan pengawasan yang ditempatkan pada kontrol internal, dan seringkali ada biaya signifikan yang terkait dengan mengatasi kegagalan kepatuhan secara retrospektif. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah berinvestasi lebih awal akan mengurangi biaya keseluruhan.

“Menurut kami, menetapkan pengendalian internal yang memadai harus menjadi prioritas utama bagi bank. Meskipun ada tekanan pada profitabilitas yang didorong oleh Covid-19 dan suku bunga rendah, bank harus terus berinvestasi dalam memperkuat kontrol risiko operasional mereka,” kata Wakil Presiden Grup Lembaga Keuangan di DBRS Morningstar Tomasz Walkowicz kepada CNBC, Senin.

Walkowicz menambahkan, bahwa saat ini pihaknya melihat peningkatan pengawasan peraturan yang berfokus pada pengawasan risiko operasional bank. “Kami pikir setiap kegagalan berulang di bidang-bidang seperti pencegahan pencucian uang atau pendanaan terorisme dapat menyebabkan sanksi keuangan yang signifikan,” tuturnya.

Sebagai informasi, kebocoran dokumen FinCen merupakan yang terbaru dari serangkaian skandal yang melibatkan sistem keuangan global, menyusul Panama Papers, 1MDB dan Luanda Leaks dalam beberapa tahun terakhir.

Berita tentang dokumen FinCen menyebabkan saham perbankan Eropa merosot pada Senin, di mana indeks sektor Bank Stoxx 600 jatuh 4,6% pada sore hari, dan harga saham HSBC mencapai titik terendah dalam 25 tahun.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN