Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Ketegangan Amerika Serikat-Tiongkok. ( Foto: Colourbox )

Ilustrasi Ketegangan Amerika Serikat-Tiongkok. ( Foto: Colourbox )

Arus Investasi AS-Tiongkok Berada di Titik Terendah

Sabtu, 19 September 2020 | 07:37 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BEIJING, investor.id – Perusahaan riset dan konsultasi Rhodium Grup menyampaikan laporan bahwa nilai investasi atau penanaman modal asing (PMA), dan kesepakatan-kesepakatan modal usaha antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok mengalami penurunan hingga ke level terendah hampir sembilan tahun. Hal ini turut dipengaruhi oleh guncangan pandemi virus corona Covid-19 dan meningkatnya ketegangan AS-Tiongkok.

Riset Rhodium menyebutkan pada Kamis (17/9) waktu setempat, kesepakatan senilai US$ 10,9 miliar untuk periode Januari-Juni adalah yang tercatat paling rendah sejak semester kedua 2011. Penurunan tersebut melanjutkan tren dalam tiga tahun terakhir sehingga membalikkan kesibukan merger dan akuisisi oleh konglomerat Tiongkok di AS, yang mencakup pembelian hotel Waldorf Astoria di New York.

Kedua negara disebutkan memiliki peranan dalam perkembangan tren penurunan. Pemerintah Tiongkok telah berusaha untuk membatasi arus keluar modal, sedangkan Presiden AS Donald Trump – yang berusaha terpilih kembali dalam pemilihan umum (pemilu) November – semakin meningkatkan pengawasan terhadap pembelian aset Amerika oleh Tiongkok.

Menurut analisis Rhodium, total divestasi Tiongkok yang diumumkan di AS berjumlah US$ 76 miliar dalam 20 tahun terakhir, yang mana sebagian besar terjadi dalam dua tahun terakhir.

Di sisi lain, proses tawar-menawar TikTok dipandang sebagai sinyal terbaru dari perubahan pembuatan kesepakatan antara AS dengan Tiongkok. Mengacu pada kasus itu, sepertinya daripada membeli satu sama lain, perusahaan-perusahaan mungkin akan segera mencari untuk menjual kepemilikan mereka secara lintas batas.

Kasus terbaru paling penting yang sedang berlangsung melibatkan ByteDance, yang berbasis di Beijing. Perusahaan itu dilaporka mengakuisisi aplikasi video pendek Musical.ly pada akhir 2017, dan menggabungkan para pengguna start-up yang berfokus di AS ke dalam satu aplikasi bernama TikTok – yang kepopulerannya booming di seluruh dunia.

Seiring dengan kekhawatiran tentang keamanan data pada TikTok, Trump kemudian mengeluarkan perintah eksekutif pada Agustus yang meminta ByteDance untuk melepaskan kepentingannya di AS.

Menurut sumber kepada CNBC, setelah menolak tawaran dari Microsoft, TikTok diprediksi mendaftarkan operasi globalnya secara publik di bursa saham AS di mana perusahaan perangkat lunak AS Oracle dan raksasa ritel Walmart akan mengambil alih saham.

Di sisi lain, kemungkinan bakal ada lebih banyak tekanan politik yang dirasakan para pemangku kepentingan Tiongkok untuk menjual ke perusahaan Amerika.

Laporan Rhodium mencatat, Komite Investasi Asing di AS atau Committee on Foreign Investment in the United States (CFIUS) telah meningkatkan pengawasannya terhadap investasi Tiongkok di Negeri Paman Sam untuk memasukkan peninjauan retroaktif atas transaksi yang tidak diserahkan secara sukarela.

Sementara itu, perusahaan-perusahaan masih enggan untuk mengejar kesepakatan lintas batas pada semester pertama tahun ini.

Menurut laporan Rhodium, penanaman modal asing (PMA) lengkap AS ke Tiongkok turun 31% menjadi US$ 4,1 miliar. Sedangkan investasi Tiongkok ke AS akan jatuh jika bukan karena saham minoritas Tencent senilai US$ 3,4 miliar di Universal Music. Dengan pembelian raksasa teknologi itu, bisnis Tiongkok melengkapi PMA ke AS sebesar US$ 4,7 miliar pada semester pertama tahun ini, atau naik dari US$ 3,4 miliar pada tahun lalu.

“Arusnya tidak mungkin pulih di semester kedua mengingat kekhawatiran sistemik dan politik pemilihan presiden (pilpres) AS yang masih ada,” demikian laporan yang tertulis.

Para penulis laporan mengatakan, meskipun diperkirakan beberapa tekanan akan mereda setelah pilpres, kekhawatiran sistematis yang mendorong kehati-hatian pada investasi Tiongkok dalam hal teknologi tinggi, infrastruktur penting, dan aset data pribadi tidak akan mereda.

“Kampanye sirkulasi internal baru Tiongkok menunjukkan, bahwa Beijing pnya firasat untuk mengurangi keterlibatan dua arah dengan dunia, terutama AS, di tahun-tahun mendatang,” demikian menurut para penulis.

Mata uang yuan Tiongkok. ( Foto: AFP/FILE )
Mata uang yuan Tiongkok. ( Foto: AFP/FILE )

Memilih Tiongkok

Dalam laporan terpisah yang dirilis bersamaan pada pekan ini oleh Rhodium Group, Pemerintah Tiongkok juga meningkatkan pengawasan terhadap arus masuk.

Hal itu terttuang dalam kajian triwulanan tentang kemajuan Tiongkok dalam reformasi ekonomi yang disebut The China Dashboard, dan dirilis oleh Institut Kebijakan Masyarakat Asia (Asia Society Policy Institute) dan Grup Rhodium.

Para analis dalam laporan tersebut menuturkan, regulator telah secara tidak proporsional menargetkan perusahaan asing dalam tinjauan mergernya dalam tiga bulan pertama tahun ini. “Kesepakatan-kesepakatan yang melibatkan asing yang ditinjau ulang melonjak menjadi 32%, rekor tertinggi,” demikian isi laporan.

Ditambahkan bahwa terdapat kurang dari 10% kesepakatan domestik yang menghadapi pengawasan seperti itu. Tercatat, kesepakatan-kesepakatan yang terkait dengan perusahaan luar negeri merosot 17% year-on-year (yoy) menjadi 151, sementara kesepakatan domestik turun 9% yoy menjadi 324 sebagai akibat dari pandemi virus korona.

Di depan umum, para pemimpin tertinggi Pemerintah Tiongkok dan berbagai departemen telah menekankan upaya-upaya guna mendukung PMA ke negara tersebut. Data dari Kementerian Perdagangan menunjukkan penggunaan aktual modal asing naik 15% yoy pada Agustus dan membawa perubahan dari tahun ke tahun mendekati titik impas di negatif 0,3%.

“Kami memiliki akses luar biasa ke kepemimpinan Tiongkok selama sebulan terakhir,” ujar Presiden Kamar Dagang Uni Eropa atau European Union Chamber of Commerce di Tiongkok, kepada wartawan pekan lalu.

Pernyataan ini secara khusus merujuk pada percakapan sehari sebelumnya dengan Wakil Perdana Menteri Tiongkok Hu Chunhua, bersama dengan perwakilan dari Kamar Dagang Amerika atau American Chamber of Commerce di Tiongkok, dan kelompok-kelompok bisnis asing lainnya di Beijing.

Asosiasi-asosiasi bisnis Amerika dan Eropa juga mencatat, bahwa para anggotanya umumnya tetap ingin tinggal di Tiongkok untuk mengakses pasar domestik yang besar.

Laporan Rhodium tentang arus lintas batas menunjukkan, sektor pertanian dan pangan Tiongkok menjadi industri populer baru untuk investasi AS tahun ini. Bahkan banyak kesepakatan penting Amerika untuk perusahaan Tiongkok di industri seperti keuangan dan energi, yang tetap berjalan sesuai rencana.

“Secara khusus, belanja modal dari konstruksi greenfield yang sedang berlangsung, bakal berlangsung selama beberapa tahun ke depan, sehingga penurunan cepat seperti yang telah kami lihat di arah lain tidak mungkin terjadi pada PMA AS di Tiongkok,” kata laporan itu. 

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN