Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berpidato di Sidang Umum ke-76 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, pada 21 September 2021. ( Foto: EDUARDO MUNOZ / POOL / AFP )

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berpidato di Sidang Umum ke-76 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, pada 21 September 2021. ( Foto: EDUARDO MUNOZ / POOL / AFP )

AS Beri Kabar Baik Tentang Kekurangan Dana Iklim US$ 100 M

Rabu, 22 September 2021 | 05:46 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

NEW YORK, investor.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengumumkan apa yang disebutnya kabar baik untuk mengatasi kekurangan dana iklim global sebesar US$ 100 miliar. Seorang pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyampaikan hal ini setelah pertemuan tertutup antara negara-negara di sela Sidang Umum PBB, Senin (21/9).

Biden menyampaikan pidato pertamanya kepada badan dunia sebagai pemimpin Amerika pada Selasa (22/9). Ia diwakilkan oleh utusan iklim AS John Kerry pada pertemuan yang diadakan oleh pemerintah Inggris dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres.

Menjelang kesepakatan Paris, negara-negara maju berjanji untuk memobilisasi US$ 100 miliar per tahun sejak 2020. Tujuannya adalah mendukung negara-negara miskin dengan adaptasi iklim, tetapi saat ini ada kekurangan sekitar US$ 20 miliar.

"Kami memang mendengar dari perwakilan AS di ruangan itu bahwa beberapa kabar baik sudah dekat," pejabat PBB itu mengatakan, Senin (21/9).

Ia menambahkan, ada pandangan dan sinyal yang sangat positif datang dari perwakilan AS. "Kami tidak memiliki detailnya, tentu saja, tetapi mudah-mudahan ini akan membantu memberikan kejelasan tentang bagaimana AS bermaksud untuk meningkatkan dukungan mobilisasi US$ 100 miliar," imbuhnya.

Pengumuman itu menjadi sepotong harapan di bidang iklim, setelah banyak laporan ilmiah baru-baru ini memberikan gambaran suram tentang masa depan planet ini. Pasalnya, pencemar utama dunia terus memuntahkan gas rumah kaca pada tingkat yang mengkhawatirkan.

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson, yang menjadi tuan rumah bersama pertemuan itu, mengarahkan para pemimpin untuk membahas tugas atas kegagalan mereka menghormati janji bersama terkait dana tersebut. Padahal, penghimpunan dana dimaksudkan untuk memberikan US$ 100 miliar setiap tahun dari 2020 hingga 2025. "Semua orang mengangguk dan kita semua setuju bahwa sesuatu harus dilakukan," kata Johnson.

Negaranya akan menjadi tuan rumah konferensi tingkat tinggi (KTT) iklim COP26 yang sangat penting di Glasgow pada November 2021.

Namun saya akui saya semakin frustrasi karena sesuatu yang banyak dari Anda telah putuskan, tidak dilakukan sama sekali," tambahnya.

Pekan lalu, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mengkonfirmasikan bahwa hanya US$ 79,6 miliar yang dimobilisasi pada 2019.

"Kami mendengar dari beberapa negara industri tanda-tanda kemajuan yang samar," kata Johnson kepada wartawan seusai pertemuan, menyebut Swedia dan Denmark.

Kedua negara telah mengumumkan bahwa mereka akan mengalokasikan 50% atau lebih, diambil dari pendanaan iklim negara, untuk adaptasi di negara berkembang. Ini merupakan salah satu tujuan utama PBB. "Mari kita lihat apa yang akan dikatakan presiden Amerika Serikat besok," tambahnya.

Guterres sebelumnya mengingatkan bahwa dunia berada di jalur bencana pemanasan suhu 2,7 derajat Celcius, menyusul laporan mengejutkan terbaru oleh para ilmuwan PBB minggu lalu.

Angka tersebut akan menghancurkan target suhu kesepakatan iklim Paris, yang bertujuan untuk pemanasan jauh di bawah 2 derajat Celcius dan sebaiknya dibatasi pada 1,5 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri.

Sementara mengakui negara-negara berkembang perlu memimpin, Guterres juga meminta beberapa negara berkembang untuk berusaha lebih keras. Ini berarti seruan untuk Tiongkok, India, Brazil, Rusia, Indonesia, dan Afrika Selatan.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN