Menu
Sign in
@ Contact
Search
Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. ( Foto: NICHOLAS KAMM / AFP )

Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. ( Foto: NICHOLAS KAMM / AFP )

AS Diyakini Sudah Melewati Puncak Inflasi

Kamis, 11 Agustus 2022 | 11:21 WIB
Iwan Subarkah (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Tingkat Inflasi konsumen tahunan di Amerika Serikat (AS) naik 8,5% pada Juli 2022. Melambat dibandingkan rekor 9,1% pada Juni karena didorong turunnya harga BBM. Data ini disambut gembira pasar saham di Wall Street maupun pasar saham global pada perdagangan Rabu (10/8). Karena AS diyakini berarti sudah melewati puncak inflasi dan The Federal Reserve (The Fed) berpeluang untuk mengurangi agresivitasnya dalam menaikkan suku bunga.

Secara bulanan, harga-harga konsumen pada Juli mendatar karena harga energi secara umum turun 4,6% dan harga BBM jatuh 7,7%. Hal itu mampu menutupi kenaikan harga makanan 1,1% dan biaya tempat tinggal yang naik 0,5%.

Pasar saham melonjak setelah mengetahui data inflasi inti menunjukkan penurunan laju kenaikan harga-harga melebihi perkiraan sebelumnya. Kalangan ekonom yang disurvei Dow Jones sebelumnya memperkirakan inflasi tahunan mencapai 8,7% dan secara bulanan naik 0,2%.

Baca Juga: Top! Pasar Kripto Positif Reli Kencang Didorong Data Inflasi AS

Alhasil, indeks Dow Jones melonjak 513 poin atau 1,6% saat berita ini diturunkan. Sedangkan S&P 500 menguat 1,7% ke level tertinggi sejak awal Mei 2022 dan Nasdaq melonjak lebih dari 2%.

Bursa global juga ikut menguat. Pasar saham Eropa naik pada sesi perdagangan siang, setelah pada sesi pagi turun. Indeks FTSE 100 London menguat 0,1%, DAX Frankfurt 0,9%, dan CAC 40 Paris 0,5%.

The Fed dipastikan menimbang laporan inflasi ini dan data-data ekonomi lain. Menjelang rapat kebijakan September 2022, yang mana bank sentral AS hampir dipastikan menaikkan lagi suku bunga acuan.

“Penurunan laju indeks harga konsumen untuk Juli bakalan sangat melegakan bagi The Fed, terutama karena The Fed sebelumnya berkukuh bahwa kenaikan inflasi sifatnya sementara dan ternyata itu salah. Jika inflasi ini terus menunjukkan penurunan, The Fed bakalan mulai melambatkan laju pengetatan moneternya,” ujar Nancy Davis, pendiri Quadratic Capital Management, seperti dikutip CNBC.

Baca Juga: Inflasi AS Melambat, S&P 500 Capai Level Tertinggi dalam 3 Bulan

The Fed sudah empat kali menaikkan suku bunga acuan di tahun ini. Termasuk secara berturut-turut sebesar 75 basis poin (bps) dalam dua rapat kebijakan terakhirnya. Suku bunga acuan AS itu sekarang berada di kisaran 2,25% dan 2,5% dan masih ada peluang dinaikkan lagi cukup besar karena laju inflasi di mata The Fed masih sangat tinggi.

“Pasar saham sudah bangkit dengan mulus dari level terendah di pertengahan Juni, sebagian karena didorong keyakinan bahwa The Fed akan berpindah lebih cepat ke posisi kebijakan yang lebih bersahabat (bagi pasar),” ujar Patrick J O'Hare, analis dari Briefing.com, kepada AFP.

Sudah Melewati

Lebih dari itu, menurunnya laju kenaikan inflasi itu juga menyiratkan bahwa AS sudah melewati puncak inflasi.

“Pasar tampaknya lega karena fakta ini mengindikasikan kita sudah melalui puncak inflasi dan seharusnya terus turun di sepanjang semester kedua,” ujar Brian Price, direktur manajemen investasi Commonwealth Financial Network, seperti dilansir CNBC.

Tampaknya, tambah dia, peluang suku bunga naik lagi 75 bps sudah turun tajam karena laporan inflasi tersebut. Ia memperkirakan kenaikannya sebesar 50 bps pada September.

Baca Juga: Komitmen The Fed Naikkan Suku Bunga Acuan Membebani Emas

“Jika harga energi terus turun, saya perkirakan data inflasi akan terus turun juga dalam bulan-bulan mendatang. Dinamika ini harusnya mendukung aset-aset berisiko dan kita akan melihat suku bunga jangka panjang juga akan turun,” tutur Price.

Indikasi bahwa AS telah melewati puncak inflasi juga dikemukan oleh investor Jim Cramer kepada CNBC. Ia menyebut harga energi, BBM, dan biaya perjalanan sudah turun.

“Kita jelas sekali sudah melewati puncak inflasi. Yang penting di sini menurut saya adalah angka-angka tersebut yang diinginkan oleh (Gubernur The Fed Jerome) Powell,” kata Cramer.

Baca Juga: AS Resesi, Kebijakan The Fed Ditaksir Tak Lagi Agresif

Ia juga memperkirakan suku bunga acuan dinaikkan 50 bps pada bulan depan. Bukan 75 bps seperti perkiraan sebelumnya. Cramer juga berpendapat bahwa turunnya laju inflasi itu menunjukkan bahwa The Fed berhasil mengendalikan kenaikan harga-harga lewat langkah agresif menaikkan suku bunga.

Presiden AS Joe Biden menyambut gembira data inflasi terbaru itu. Berbicara di Gedung Putih, Washington, ia mengatakan perlambatan laju inflasi itu telah mengendurkan tekanan kenaikan harga-harga dari para keluarga di Amerika.

“Kita sudah melihat pasar tenaga kerja makin kuat, jumlah lapangan kerja terus meningkat, rakyat Amerika pada bekerja, dan sekarang kita melihat tanda-tanda bahwa inflasi mulai moderat,” kata Biden. 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com