Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deretan botol vaksin Covid-19 buatan berbagai negara yang berada di pusat vaksinasi Beograd di Serbia, (kiri-kanan): Covishield India buatan Oxford-AstraZeneca, vaksin Pfizer Inc. dan BioNTech SE, vaksin Sputnik V buatan Rusia, dan vaksin Sinopharm Group Co. ( Foto: OLIVER BUNIC / AFP )

Deretan botol vaksin Covid-19 buatan berbagai negara yang berada di pusat vaksinasi Beograd di Serbia, (kiri-kanan): Covishield India buatan Oxford-AstraZeneca, vaksin Pfizer Inc. dan BioNTech SE, vaksin Sputnik V buatan Rusia, dan vaksin Sinopharm Group Co. ( Foto: OLIVER BUNIC / AFP )

AS Mendukung Pelepasan Hak Paten Vaksin

Jumat, 7 Mei 2021 | 06:44 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

WASHINGTON, investor.id - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengumumkan dukungan terhadap rencana untuk melepaskan proteksi paten global atas vaksin Covid-19. Jika rencana ini terwujud akan membawa harapan bagi negara-negara miskin yang sekarang kesulitan mendapatkan vaksin tersebut, karena akan lebih banyak produsen yang dapat membuat dan menyediakannya.

India, yang terus mencatatkan rekor jumlah kasus dan kematian lokal, telah memimpin perjuangan di dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) agar ada lebih banyak produsen vaksin untuk memproduksi vaksin Covid-19. Namun langkah tersebut masih ditentang oleh raksasa-raksasa farmasi global.

Perwakilan Dagang AS Katherine Tai mengatakan, sementara hak kekayaan intelektual untuk bisnis tergolong penting, Pemerintah AS mendukung pencabutan proteksi atas vaksin Covid-19 demi mengakhiri pandemi yang sudah berlangsung setahun lebih ini.

"Ini adalah krisis kesehatan global dan keadaan luar biasa dari pandemi Covid-19 membutuhkan tindakan yang juga luar biasa," katanya dalam sebuah pernyataan, Rabu (5/5), yang dikutip AFP.

Biden berada di bawah tekanan kuat untuk mengesampingkan perlindungan bagi produsen vaksin, terutama di tengah kritik bahwa negara-negara kaya sedang menimbun dosis.

Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut keputusan AS itu bersejarah dan mengatakan itu menandai momen monumental dalam perang melawan Covid-19.

Namun Tai mengingatkan bahwa negosiasi akan memakan waktu karena sifat keputusan WTO yang berlandaskan konsensus.

Karena jaminan pasokan untuk seluruh warga AS sudah ada, pemerintahan Biden akan melanjutkan upaya untuk memperluas manufaktur dan distribusi vaksin, tambah Tai, dan akan bekerja meningkatkan bahan mentah yang dibutuhkan untuk memproduksi vaksin tersebut.

Selama berbulan-bulan WTO telah menghadapi seruan agar perlindungan atas hak kekayaan intelektual vaksin Covid-19 itu untuk sementara dilepaskan. Apa yang dikenal sebagai pelepasan TRIPS ini mengacu pada kesepakatan tentang Hak Kekayaan Intelektual Terkait Aspek Perdagangan.

Tetapi gagasan itu telah ditentang keras oleh raksasa-raksasa farmasi dan negara tuan rumah mereka. Pihaknya bersikeras paten bukanlah penghalang utama untuk meningkatkan produksi dan memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat menghambat inovasi.

"Pengesampingan adalah jawaban yang sederhana tetapi salah untuk masalah yang kompleks," kata Federasi Internasional Produsen dan Asosiasi Farmasi (IFPMA) yang berbasis di Jenewa, Swiss.

Dukungan dan Tentangan

Kelompok lobi tersebut menggambarkan langkah pemerintah AS mengecewakan. Meski demikian, negara-negara seperti Selandia Baru menyambut baik pengumuman AS. Sedangkan Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyebut langkah itu berita luar biasa dan menambahkan bahwa itu akan membantu negaranya memproduksi vaksin mRNA secara lokal.

Pemerintah Prancis, di sisi lain, mengatakan menentang pengabaian dan menyatakan lebih memilih berbasis donasi untuk membantu negara-negara miskin mengatasi kekurangan vaksin.

Di London, Inggris, para menteri luar negeri dari kelompok negara demokrasi kaya G-7 berkomitmen untuk mendukung program berbagi vaksin, Covax, secara finansial. Namun belum ada pengumuman langsung tentang pendanaan baru.

Di sisi lain, pemerintah Jerman menyatakan siap untuk mengadakan pembicaraan tentang usulan yang didukung AS untuk melepaskan hak paten pada vaksin Covid-19. Hal ini dikatakan Menlu Jerman Heiko Maas mengatakan.

Menurut Maas, pemerintahnya akan bergabung dalam diskusi tentang langkah seperti itu mengingat situasi luar biasa dari wabah virus corona global.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN