Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Rudal jelajah peluncuran udara berpemandu presisi AGM-84H SLAM-ER. ( Foto Ilustrasi: AirTimeImages.com )

Rudal jelajah peluncuran udara berpemandu presisi AGM-84H SLAM-ER. ( Foto Ilustrasi: AirTimeImages.com )

AS Setujui Penjualan 100 Sistem Pertahanan Pantai ke Taiwan

Rabu, 28 Oktober 2020 | 07:05 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan telah memberikan persetujuan atas penjualan 100 sistem pertahanan pantai Harpoon ke Taiwan yang bernilai US$ 2,4 miliar. Langkah tersebut kembali menuai kemarahan Tiongkok yang sempat mengecam kesepakatan penjualan rudal senilai US$ 1 miliar pada pekan lalu.

Pengumuman ini muncul selang beberapa jam setelah Pemerintah Tiongkok menyatakan bakal menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan AS yang terlibat dalam penjualan senjata sebelumnya ke Taiwan.

“Usulan penjualan sistem Harpoon akan membantu meningkatkan keamanan penerima dan membantu dalam menjaga stabilitas politik, keseimbangan militer, dan kemajuan di kawasan itu,” demikian pernyataan dari Departemen Luar Negeri (Deplu AS) pada Senin (26/10), seperti dilansir AFP.

Kesepakatan baru itu melibatkan 100 Sistem Pertahanan Pantai Harpoon (Harpoon Coastal Defense Systems/HCDS), yang mencakup 400 rudal yang diluncurkan di permukaan (surface-launch missiles) RGM-84L-4 Harpoon Block II dengan jangkauan sekitar 125 kilometer. Rudal-rudal, yang diproduksi oleh Boeing, tersebut dapat ditempatkan di platform tetap atau dipasang di truk.

Kantor Presiden Taiwan Tsai Ing Wen kemudan merilis pernyataan ucapan terima kasih kepada Amerika Serikat atas penjualan tersebut. Menurut pernyataan, penjualan tersebut akan meningkatkan kemampuan perang asimetris.

Sebagai informasi, Taiwan yang demokratis dan memiliki pemerintahan sendiri terus-menerus hidup di bawah ancaman invasi oleh Tiongkok yang otoriter. Bahkan para pemimpin di Negeri Tirai Bambu tersebut memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayah mereka, dan berjanji suatu hari akan merebutnya, kalau perlu dengan kekerasan.

Pemerintah Tiongkok telah meningkatkan tekanan diplomatik dan militer terhadap Taiwan sejak terpilihnya Tsai pada 2016. Presiden Tsai memandang Taiwan sebagai negara berdaulat de facto dan bukan bagian dari kebijakan “satu Tiongkok”.

Dalam beberapa bulan terakhir, pesawat-pesawat jet tempur dan pembom Tiongkok dilaporkan telah memasuki zona pertahanan udara Taiwan dengan frekuensi luar biasa. Film-film propaganda sudah menunjukkan serangan simulasi di wilayah, seperti Taiwan dan pangkalan AS di Guam.

Menanggapi penjualan senjata AS, Tiongkok menyatakan dengan tegas menentang langkah Negeri Paman Sam. Mereka mendesak AS untuk membatalkan rencana penjualan senjata yang relevan ke Taiwan, agar tidak menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada hubungan Tiongkok-AS, dan perdamaian serta stabilitas di seluruh Selat Taiwan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Wang Wenbin mengatakan, Tiongkok akan mengambil tindakan yang tepat dan perlu, untuk secara tegas menjaga kedaulatan nasional dan kepentingan keamanannya.

Strategi Ambigu

Di sisi lain, AS secara diplomatis mengakui Tiongkok atas Taipei. Tetapi juga terikat oleh tindakan Kongres untuk menjual senjata Taiwan demi mempertahankan diri.

Berbeda dengan perjanjian sekutu, seperti Jepang, Korea Selatan dan Filipina, AS tidak pernah secara terbuka berkomitmen membela Taiwan jika diserang sehingga memunculkan kebijakan yang dikenal sebagai strategi ambigu.
Meski begitu, AS menegaskan bahwa setiap perubahan status masa depan Taiwan tidak boleh dilakukan dengan paksa.

Militer Taiwan sendiri berada dalam kondisi dikerdilkan oleh Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok. Sebagian besar peralatannya, termasuk armada jet tempurnya, sudah ketinggalan zaman dan tua.

Pemerintah AS baru-baru ini mewaspadai penjualan senjata besar-besaran ke Taiwan karena takut memprovokasi Beijing. Tetapi Presiden AS Donald Trump tidak terlalu ambil pusing mengingat telah menandatangani banyak penjualan bernilai miliaran dalam beberapa tahun terakhir karena bentrok dengan Tiongko tentang sejumlah masalah.

Pada Rabu (21/10), AS mengatakan telah menyetujui penjualan 135 rudal jelajah peluncuran udara berpemandu presisi AGM-84H SLAM-ER senilai US$ 1 miliar. Alat ini tidak seperti Harpoon yang memiliki jangkauan yang lebih besar dari lebar Selat Taiwan yang memisahkan pulau dari daratan Tiongkok.

Menanggapi hal itu, Tiongkok pada Senin (26/10) mengatakan akan menjatuhkan sanksi pada Lockheed Martin, divisi pertahanan Boeing dan perusahaan AS lainnya yang terlibat dalam penjualan senjata.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian menyebutkan, sanksi itu untuk melindungi kepentingan nasional, dan akan berlaku bagi mereka yang berperilaku buruk dalam proses penjualan senjata ke Taiwan. Namun, Zhao tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang bagaimana sanksi itu akan dijalankan.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN