Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden terlihat di layar saat menghadiri KTT para pemimpin tentang iklim melalui konferensi video, di Brussels, Belgia, pada 22 April 2021. ( Foto: JOHANNA GERON / POOL / AFP )

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden terlihat di layar saat menghadiri KTT para pemimpin tentang iklim melalui konferensi video, di Brussels, Belgia, pada 22 April 2021. ( Foto: JOHANNA GERON / POOL / AFP )

AS Targetkan Pangkas Emisi 50% pada 2030

Jumat, 23 April 2021 | 06:19 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Dalam KTT Hari Bumi virtual pada Kamis (22/4), Presiden Joe Biden menyampaikan pengumuman bahwa Amerika Serikat (AS) bakal memangkas emisi – yang dituding sebagai penyebab perubahan iklim – sebesar 50% hingga 52% pada 2030 dibandingkan level 2005. Demikian disampaikan para pejabat.

“Target baru AS itu bertujuan menantang dunia dalam meningkatkan ambisi, dan memerangi krisis iklim,” ujar seorang pejabat pemerintah, tanpa menyebut nama, kepada wartawan, yang dikutip AFP.

Presiden Biden meningkatkan ambisi AS untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, dan menempatkan AS kembali ke garis depan lewat pertemuan puncak yang diharapkan dapat membawa dunia lebih dekat dengan penanganan perubahan iklim.

Dalam tiga bulan pemerintahannya, Biden telah meluncurkan upaya diplomatik besar-besaran dengan menggelar pertemuan tentang iklim selama dua hari, dan menyambut kedatangan 40 pemimpin negara, termasuk presiden Tiongkok, Rusia dan Paus Fransiskus.

Apabila pengumuman Biden digabungkan dengan pengumuman serupa yang disampaikan para pemimpin negara lain, maka pejabat itu menyebutkan bahwa dunia akan lebih dekat – walau belum pada jalurnya – untuk menjaga suhu planet tetap dalam kisaran 1,5 derajat Celcius (C), atau di atas waktu pra-industri, yakni level yang menurut para ilmuwan diperlukan untuk menghindari efek perubahan iklim yang paling parah.

“Lebih dari separuh negara-negara di dunia sekarang bergerak untuk mengurangi emisi pada kecepatan global yang dibutuhkan demi menjaga target 1,5 derajat C tetap dalam jangkauan. Koalisi kami tumbuh,” kata pejabat itu.

Sementara itu, Jepang mengatakan pada Kamis bahwa pihaknya bertujuan menurunkan emisi sebanyak 46% pada 2030. Sedangkan Kanada diperkirakan melakukan pemangkasan yang sama. Kedua negara ini memang telah sejak awal menjalin keterikatan dengan Biden, usai memenangi pemilihan presiden.

Uni Eropa (UE), pada pekan ini telah memastikan tujuan ambisiusnya sendiri. Sementara Inggris, bekas anggota blok UE merilis target paling jauh dibandingkan negara-negara besar mana pun, yakni penurunan emisi 78% dari level 1990 pada 2035 mendatang.

Sebagai informasi, Inggris pada November mendatang akan menjadi tuan rumah pelaksanaan konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Glasgow, Skotlandia yang bertujuan meningkatkan Perjanjian Paris 2015.

Di bawah perjanjian iklim Paris, saat itu mantan presiden Barack Obama mengatakan bahwa AS akan memangkas emisi sebesar 26%-28% pada 2025. Tetapi, target itu diklaim Biden – yang pernah menjadi wakil presidennya – telah meningkat sekarang secara dramatis.

Tanggung Jawab Tiongkok

Di sisi lain, Biden telah meningkatkan tindakanya untuk menekan Tiongkok, yang mana sejauh ini merupakan penghasil karbon terbesar di dunia.

Hubungan Tiongkok dengan AS diketahui memburuk secara tajam dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, Negeri Tirai Bambu itu tetap setuju bekerja sama di bidang iklim, selama lawatan pra-KTT oleh Utusan Iklim Biden, John Kerry – yang pernah menjabat sebagai mantan menteri luar negeri AS.

Tahun lalu, Presiden Xi Jinping berjanji, Tiongkok akan menjadi netral karbon pada 2060. Namun, para pecinta lingkungan mencatat bahwa target itu menjadi lambat (dicapai) atas pengurangan penggunaan batu bara – yang merupakan bentuk energi paling kotor tetapi membawa kepekaan politik karena lapangan pekerjaan di bidang pertambangan.

Sulit untuk membandingkan antara negara-negara dengan kekuatan ekonomi besar, karena Amerika Serikat menggunakan garis dasar 2005. Sedangkan Eropa menggunakan garis dasar 1990, tahun yang ditetapkan dalam Protokol Kyoto yang terkenal.

Dalam analisis Grup Rhodium baru-baru ini, bahwa tujuan pemangkasan emisi oleh Biden, yang telah dinantikan selama berpekan-pekan, kira-kira setara dengan ambisi Uni Eropa – sebagai juara aksi internasional tentang iklim bersejarah ketika menggunakan garis dasar 2005.

Namun, mantan presiden Donald Trump kala itu memutuskan keluar dari Pakta Iklim Paris, karena kesepakatan tersebut diangggap tidak adil bagi para penambang batu bara dan industri energi. Meski demikian, sebagian besar wilayah AS masih berada di jalur yang tepat untuk memenuhi tujuan Obama berkat komitmen dari negara-negara bagiannya, terutama California, dan penurunan tajam produksi industri selama pandemi Covid-19.

Akan tetapi, laporan PBB akhir tahun lalu menunjukkan bahwa dunia sedang menuju tingkat pemanasan 3 derajat Celcius. Pada tingkat ini, planet Bumi akan menyaksikan banyak gletser dan lapisan es yang mencair, daerah-daerah dataran rendah yang terendam, serta kekeringan yang semakin parah, banjir dan bencana yang bisa memicu kelaparan dan migrasi massal.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN