Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Foto yang diambil penumpang pesawat komersial menunjukkan asap dari kebakaran hutan menyelimuti Gunung Shasta di California utara, pada 15 September 2020. ( Foto: BRYAN DENTON / NEW YORK TIMES )

Foto yang diambil penumpang pesawat komersial menunjukkan asap dari kebakaran hutan menyelimuti Gunung Shasta di California utara, pada 15 September 2020. ( Foto: BRYAN DENTON / NEW YORK TIMES )

Asap Kebakaran AS Mencapai Eropa

Kamis, 17 September 2020 | 07:52 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

PARIS, investor.id – Asap kebakaran yang meluluhlantakkan sebagian besar Pesisir Barat Amerika Serikat (AS) telah mencapai Eropa. Demikian menurut layanan pemantauan iklim Uni Eropa (UE) pada Rabu (16/9), yang menilainya sebagai peristiwa kebakaran luar biasa.

Data satelit dari Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) menunjukkan, kebakaran hutan yang saat ini berkecamuk di Negara Bagian California, Oregon dan Washington, puluhan hingga ratusan kali lebih intens daripada rata-rata kejadian serupa baru-baru ini.

Berkat sistem tekanan yang kuat, asap dari kebakaran dapat ditahan selama berhari-hari di sepanjang bagian barat Amerika Utara. Namun menyebabkan kualitas udara berpotensi berbahaya di kota-kota besar seperti Portland, Oregon dan Vancouver dan San Francisco.

Sementara itu perubahan cuaca pada Senin (14/9), membawa asap berembus menuju timur. Situs laman NY Metro Weather melaporkan pada Selasa, bahwa aliran asap sempat terlihat di langit di atas New York.

Menurut hasil pelacakan CAMS, partikel asap dari kebakaran telah terbawa sejauh 8.000 kilometer menuju timur sampai ke Eropa utara.

Diperkirakan asap yang ditimbulkan kobaran api – yang secara signifikan lebih mungkin terjadi saat planet memanas – telah mengeluarkan lebih dari 30 juta ton karbon dioksida sejak pertengahan Agustus.

“Skala dan besarnya kebakaran ini berada pada tingkat yang jauh lebih tinggi, daripada 18 tahun lalu yang dihimpun oleh data pemantauan kami, sejak 2003. Fakta bahwa kebakaran ini mengeluarkan begitu banyak polusi hingga ke atmosfer. Kita masih bisa melihat asap tebal lebih dari 8.000 kilometer jauhnya mencerminkan betapa dahsyatnya kebakaran itu dalam hal besaran dan durasinya,” demikian penjelasan Mark Parrington, ilmuwan senior CMAS dan pakar kebakaran, yang dikutip AFP.

Terkait Iklim

Sebagai informasi, kobaran api telah menghanguskan hampir dua juta hektar di seluruh bagian Barat AS. Api membakar daerah dengan kisaran luas seukuran negara bagian New Jersey dan menimbulkan kekhawatiran bahwa jumlah korban tewas sebanyak 35 jiwa akan meningkat.

Bencana kebakaran tersebut telah membawa isu pemanasan global ke garis depan wacana politik AS, dalam hitungan minggu menjelang pemilihan presiden (pilpres).

Meskipun secara historis sulit untuk membuktikan hubungan antara peristiwa cuaca ekstrim individu dan perubahan iklim, ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa kobaran api seperti yang terjadi di AS tidak dapat begitu kuat dan meluas tanpa peningkatan pemanasan 1 derajat Celcius yang disebabkan umat manusia selama era industri.

Secara umum, perubahan iklim telah terbukti memperparah kekeringan di beberapa daerah, menciptakan kondisi ideal terjadinya kebakaran hutan luas tak terkendali, dan menimbulkan kerusakan material dan lingkungan luar bisa.

Dengan menggunakan area penelitian yang dikenal sebagai "ilmu atribusi", para ahli menyimpulkan bahwa kebakaran hutan yang melanda Australia timur pada awal tahun ini setidaknya 30% lebih mungkin terjadi karena pemanasan global.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN