Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdana Menteri Australia Scott Morrison tertawa menanggapi kata-kata Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat mengadakan pertemuan di Ruang Oval selama agenda Kunjungan Resmi ke Gedung Putih di Washington, DC, pada 20 September 2019. (Foto: AFP / SAUL LOEB)

Perdana Menteri Australia Scott Morrison tertawa menanggapi kata-kata Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat mengadakan pertemuan di Ruang Oval selama agenda Kunjungan Resmi ke Gedung Putih di Washington, DC, pada 20 September 2019. (Foto: AFP / SAUL LOEB)

AS-Australia Disebut Miliki Hubungan Diplomatik Terkuat

Grace Eldora, Sabtu, 21 September 2019 | 10:07 WIB

WASHINGTON – Pejabat senior di pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menyampaikan bahwa Trump dan Perdana Menteri Australia Scott Morrison telah sepakat untuk membatasi para pencari suaka, menepis ketakutan akan perubahan iklim, menekan Iran, dan mengecualikan Huawei asal Tiongkok dari pasar ponsel 5G.

“Ini adalah salah satu hubungan kami yang terkuat dan bertahan lama di mana pun di dunia,” ujar sumber pada Kamis (19/9) waktu setempat.

Pernyataan tersebut menyusul lawatan Morrison ke Negeri Paman Sam pada Jumat (20/9). Kedatangannya mendapat sambutan meriah mulai dari pengibaran bendera nasional Australia dengan AS yang dipasang berdampingan di Gedung Putih, hamparan karpet merah, penjagaan resmi, konferensi pers bersama, dan jamuan makan malan di Rose Garden yang indah.

Dalam pertemuan itu, Morrison mungkin mengutarakan kecemasan Australia terkait perang dagang Trump dengan Tiongkok. Bahkan pada Juni, dia telah memperingatkan negara-negara kecil akan mengalami kerugian tambahan dan sistem global akan berada di bawah tekanan nyata.

Tapi pertemuan tersebut mungkin menjadi pertemuan santai sesama teman-teman politik, meskipun ada banyak kemegahan dan upacara. Selain itu, walaupun kepala negara Australia adalah Ratu Inggris Elizabeth II, bukan Morrison, tetapi Gedung Putih tetap menggelar jamuan makan malam kenegaraan yang paling bergengsi.

Ini adalah kali kedua, dalam kepresidenan Trump dan yang pertama untuk perdana menteri Australia di sini sejak John Howard pada tahun 2006.

Pada Minggu (22/9), Morrison dan Trump akan bertemu kembali dalam agenda mengunjungi pabrik baru milik Australia di Wapakoneta, Ohio, yang disebut Gedung Putih bakal menunjukkan hubungan perdagangan dan investasi yang kuat.

Tumbuhnya Tantangan Tiongkok

Hubungan diplomatik Trump dengan perdana menteri Australia sebelumnya, Malcolm Turnbull, dimulai dengan awal yang buruk. Namun, Morrison dapat memperkuat posisinya di klub konservatif yang sedang tumbuh, juga termasuk orang-orang seperti Presiden Brasil Jair Bolsonaro dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson yang tertarik ke orbit Trump.

Kebijakan Trump telah menuai kontroversi mengenai upayanya untuk mencegah imigran ilegal dan pencari suaka dari melintasi perbatasan Meksiko. Demikian pula, Morrison, mantan menteri imigrasi, yang berupaya membuat Australia kurang menarik bagi calon pencari suaka.

Koalisi Liberal-Nasionalnya juga memiliki banyak kesamaan dengan skeptisisme Trump terkait perubahan iklim. Mereka mengabaikan peringatan ilmiah yang berlebihan demi menguntungkan industri bahan bakar fosil. Tercatat, Australia adalah pengekspor batubara terbesar di dunia.

Australia pun turut bergabung dengan koalisi Trump untuk menggelar patroli di Selat Hormuz, di mana pasukan Iran mengancam mengganggu aliran ekspor minyak internasional yang masif.

Selain itu ada satu hal yang sangat dihargai Trump adalah sektort perdagangan Amerika Serikat dengan Australia mengalami surplus. Isu konflik perdagangan yang berkembang pesat di bawah Trump telah melewati Australia.

Menurut sumber di pemerintahan Trump, ada agenda pembahasan kerja sama antara badan antariksa Australia dan NASA untuk proyek ke Bulan serta upaya bersama guna memastikan akses stabil dan aman ke logam tanah jarang.

Tetapi hubungan diplomatik keduanya berubah menjadi rumit jika menyangkut soal bagaimana menghadapi Tiongkok. Bahkan, di bawah kepemimpinan Trump, Amerika Serikat telah memulai anggapan di antara orang-orang yang membandingkan perang tarifnya dengan Tiongkok ibarat Perang Dingin baru. Tarif perdagangan yang besar dan kompetisi yang meningkat di bidang strategis-militer mengirimkan riak-riak ke seluruh wilayah Pasifik.

Kebangkitan Tiongkok sempat menuai kekhawatiran di beberapa daerah, bahwa Australia mungkin tidak selalu dapat mengandalkan payung keamanan AS.

Menurut laporan dari United States Studies Centre di University of Sydney pada Agustus, militer AS adalah kekuatan yang berhenti berkembang, yang terlalu kewalahan dan tidak siap untuk konfrontasi dengan Tiongkok. (afp/eld).

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA