Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdana Menteri (PM) Australia, Scott Morrison (kiri) dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping. ( Foto: AFP )

Perdana Menteri (PM) Australia, Scott Morrison (kiri) dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping. ( Foto: AFP )

AS-Australia-Inggris Bentuk Aliansi Militer

Jumat, 17 September 2021 | 06:05 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

SYDNEY, investor.id – Amerika Serikat (AS) mengumumkan aliansi baru dengan Australia dan Inggris untuk memperkuat kemampuan militer dalam menghadapi kemunculan Tiongkok. Sebagai bagian dari aliansi ini, Australia akan menerima armada kapal selam nuklir dan rudal jelajah dari AS.

Presiden AS Joe Biden, Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison, dan PM Inggris Boris Johnson tidak menyebut Tiongkok dalam mengungkapkan aliansi yang dinamai AUKUS. Tetapi niatannya jelas dan memicu kemarahan di Tiongkok.

Pemerintah Tiongkok mengutuk kesepakatan itu sebagai ancaman yang sangat tidak bertanggung jawab terhadap stabilitas di kawasan. Perjanjian itu juga membuat marah pemerintah Malaysia, karena Australia membatalkan kesepakatan bernilai multi-miliar dolar pada 2016 untuk membeli kapal selam konvensional dari Prancis.

Inisiatif ini adalah tentang memastikan bahwa kita masing-masing memiliki kemampuan yang paling modern, yang kita butuhkan untuk bermanuver dan bertahan melawan ancaman yang berkembang pesat," kata Biden saat berbicara di Washington pada Rabu (15/9), yang dikutip AFP.

Morrison mengatakan, ketiga negara menghormati kebebasan dan aturan hukum. Aliansi itu juga akan membantu menjamin keamanan di wilayah tersebut.

Sekutu Barat kerap mengacu pada aturan hukum dan kebebasan ketika mengkritik penambahan militer Tiongkok di perairan Laut Tiongkok Selatan (LTS).

Perdamaian dan Keamanan

Inisiatif besar pertama yang diumumkan di bawah aliansi baru adalah armada delapan kapal selam bertenaga nuklir untuk Australia.

Kapal selam tersebut, kata Biden dan para pemimpin lainnya, tidak akan bersenjata nuklir dan hanya bertenaga reaktor nuklir.

Tetapi mereka akan mengizinkan militer Australia untuk melakukan perjalanan dan menyerang sasaran, jauh dari pantainya.

"(Kapal selam) lebih tenang, lebih cepat, dan memiliki daya tahan lebih lama, yang akan memungkinkan Australia untuk menyebarkan kapal selamnya kelak ke lokasi Indo-Pasifik untuk jangka waktu yang lebih lama," ujar Ashley Townshend dari Pusat Studi Amerika Serikat di University of Sydney, kepada AFP.

Selain armada kapal selam, seorang pejabat senior pemerintahan Biden mengatakan program AUKUS akan menggabungkan kekuatan siber dan kecerdasan buatan (artificial Intelligence/ AI), khususnya AI terapan. Teknologi kuantum tersebut akan digabungkan dengan beberapa kemampuan bawah laut lainnya.

Morrison kemudian mengumumkan pemerintah Australia juga akan memperoleh rudal jelajah Tomahawk jarak jauh dari AS.

Seorang pejabat pemerintahan Biden berulang kali menggarisbawahi betapa unik keputusan itu, karena sebelumnya hanya Inggris yang pernah membantu membangun armada nuklir. "Teknologi ini sangat sensitif. Kami melihat ini sebagai satu kali saja," kata pejabat itu.

PM Inggris Boris Johnson pada Kamis (16/9) mengatakan akuisisi kapal selam bertenaga nuklir Australia akan membantu menjaga perdamaian dan keamanan di kawasan.

Kepastian dan Pencegahan

Setelah Tiongkok membangun angkatan lautnya sendiri dan berulang kali menguji dominasi militer AS selama beberapa dekade di seluruh Asia, pembangunan AUKUS yang fokus pada kapal selam, dimaksudkan untuk mengirim pesan jaminan dan tekad untuk mempertahankan sikap pencegahan yang kuat.

Bahkan jika tidak membawa senjata nuklir, kapal selam baru akan memungkinkan Australia untuk bermain di tingkat yang jauh lebih tinggi, kata pejabat itu.

"Ini adalah keputusan fundamental, fundamental. Ini mengikat Australia dan AS dan Inggris Raya untuk beberapa generasi," kata pejabat AS tersebut.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN