Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tumpukan koin Inggris senilai satu poundsterling dan tumpukan koin bernilai satu euro disusun di depan mata uang kertas sepuluh pound sterling. ( Foto: Justin Tallis / AFP )

Tumpukan koin Inggris senilai satu poundsterling dan tumpukan koin bernilai satu euro disusun di depan mata uang kertas sepuluh pound sterling. ( Foto: Justin Tallis / AFP )

Aset Inggris Tetap Tangguh Walau Ada Karantina Ketiga

Rabu, 6 Januari 2021 | 07:26 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Imbal hasil obligasi 10 tahun Inggris sempat turun ke level terendah dalam empat bulan pada Senin (4/1) petang waktu setempat, setelah diumumkannya karantina nasional yang ketiga oleh Perdana Menteri (PM) Boris Johnson. Tapi pada perdagangan Selasa (5/1) pagi waktu setempat, pasar saham dan obligasi Inggris tampak berusaha menepis kemunduran baru tersebut.

Indeks FTSE 100 London menunjukkan kinerja terbaik di antara bursa-bursa saham besar Eropa pada awal perdagangan Selasa. Tapi kemudian kehilangan momentum dan kembali mendatar sekitar Selasa siang. Sementara indeks-indeks saham lainnya di Eropa bergerak turun karena spekulasi karantina baru.

Karantina nasional ketiga untuk menghentikan penyebaran virus Covid-19, ditambah munculnya varian baru virus, dan juga dilaporkan untuk mengefektifkan program vaksinasi Covid-19, membuat pemulihan ekonomi Inggris dapat terhambat. Sementara pasar finansial dilaporkan mulai melirik aset-aset Inggris, setelah tercapainya kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa (UE).

Menurut Oliver Blackbourn, manajer portofolio Janus Henderson Investors, ketangguhan yang ditunjukkan saham-saham berkapitalisasi besar di Inggris itu disebabkan efek laba di luar negeri dari pelemahan nilai tukar poundsterling. Situasi tersebut menguntungkan perusahaan-perusahaan internasional besar. Tapi untuk jangka panjang, tambah Blackbourn, prospek aset-aset Inggris dibayangi ketidakpastian.

“Walau vaksinasi sudah berjalan, tapi tingkat infeksi di Inggris termasuk paling buruk di antara negara maju dan kasus-kasus baru terus meningkat. Sehingga Inggris dihadapkan pada ketidakpastian pada saat munculnya varian virus Covid-19 yang lebih mudah menyebar,” tutur dia, seperti dikutip CNBC.

Inggris sudah mencatatkan lebih dari 2,6 juta kasus Covid-19 dengan lebih dari 75.000 kematian. Sedangkan tingkat infeksi terus naik.

Direktur AJ Bell Investment Russ Mould mengatakan, aksi jual saham-saham Inggris pada Senin dipengaruhi spekulasi bahwa Johnson akan mengumumkan karantina nasional pada malam harinya. Jadi para investor sudah mem-priced in kabar buruk itu pada pembukaan perdagangan Selasa.

“Tapi, mengingat ketatnya pembatasan-pembatasan yang diumumkan oleh Perdana Menteri, para investor bisa saja memperkirakan tren tahun lalu terulang, yakni saham-saham yang terdampak karantina akan merosot dan yang diuntungkan akan reli. Tapi kali ini tidak akan begitu,” tutur Mould.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN