Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden AS Joe Biden dan Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga berjalan menysuri koridor untuk meghadiri konferensi pers bersama di Rose Garden, Gedung Putih, di Washington, DC pada 16 April 2021. ( Foto: MANDEL NGAN / AFP )

Presiden AS Joe Biden dan Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga berjalan menysuri koridor untuk meghadiri konferensi pers bersama di Rose Garden, Gedung Putih, di Washington, DC pada 16 April 2021. ( Foto: MANDEL NGAN / AFP )

AS-Jepang akan Dorong Pengembangan 5G

Sabtu, 17 April 2021 | 06:47 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

WASHINGTON, investor.id – Saat menerima kunjungan Perdana Menteri (PM) Jepang Yoshihide Suga di Gedung Putih, Washington, Jumat (16/4), Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan koleganya itu akan mengumumkan inisiatif investasi teknologi 5G senilai US$ 2 miliar. Secara tidak langsung kerja sama ini akan menjadi bagian dari upaya AS untuk bersaing dengan Tiongkok di bidang teknologi, dan khususnya 5G.

Keputusan Biden untuk mengundang Suga sebagai tamu pertamanya mencerminkan prioritas barunya pada aliansi AS. Pada saat ia melihat makin besarnya pengaruh Tiongkok sebagai tantangan paling mendesak bagi AS. Sementara Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in dijadwalkan datang ke Gedung Putih pada Mei 2021.

Seorang pejabat senior AS mengatakan, Jepang sebagai pemimpin teknologi akan mengumumkan komitmen sebesar US$ 2 miliar dalam kemitraan dengan AS. "Untuk mengembangkan 5G dan langkah selanjutnya," ujarnya.

Adapaun Huawei Tiongkok telah mengambil dominasi awal dalam internet generasi kelima, yang meningkat sebagai bagian penting dari ekonomi global. Terlepas dari tekanan besar AS pada perusahaan tersebut. Pemerintah AS menilai perusahaan menimbulkan ancaman terhadap keamanan dan privasi di dunia demokrasi.

Pejabat itu mengatakan, Biden juga akan berbicara dengan otoritas Jepang tentang tujuan iklimnya. Hal ini dengan AS yang bersiap mengadakan pertemuan puncak virtual tentang perubahan iklim, pekan depan.

Ia menambahkan, kedua negara akan membahas ketegangan yang meningkat atas Taiwan karena otoritas pulau itu telah melaporkan meningkatnya penetrasi pemerintah Tiongkok ke wilayah udaranya. Adapun Taiwan mengklaim demokrasi dengan pemerintahan sendiri.

"Tidak ada negara yang berusaha meningkatkan ketegangan atau memprovokasi Tiongkok. Tetapi pada saat yang sama kami mencoba mengirim sinyal jelas, beberapa langkah yang diambil Tiongkok bertentangan dengan misi menjaga perdamaian dan stabilitas," jelas pejabat tersebut, yang dikutip AFP.

Perbedaan Pendekatan

Suga pada September 2020 menggantikan sekutunya Shinzo Abe, perdana menteri terlama di Jepang. Ia merupakan salah satu dari beberapa sekutu demokratis yang berhasil menjaga hubungan stabil dengan pendahulu Biden yang mudah berubah, Donald Trump.

Pertemuan perdana dengan Biden diadakan tiga bulan lebih lambat dalam masa jabatannya, karena pandemi Covid-19. Tetapi Suga, yang dilaporkan media Jepang tiba di Washington pada Kamis (15/4) malam, diperkirakan menolak menjadi pendukung yang terlalu antusias untuk barisan AS melawan Tiongkok. Tiongkok menjadi mitra perdagangan terbesar yang vital untuk Jepang yang kekurangan sumber daya.

Pemerintah Jepang sejak masa Abe telah bekerja untuk menstabilkan hubungan dengan Tiongkok dan tidak bergabung dengan AS dalam sanksi atas masalah hak asasi di Hong Kong maupun Xinjiang.

"Pemerintah Biden, saya pikir, prihatin dengan betapa agresifnya Tiongkok serta seberapa besar posisi AS yang hilang dalam beberapa tahun terakhir di Asia, dan ingin menyusul dengan cepat," ujar Michael Green, yang merupakan penasihat tinggi Asia bagi mantan presiden George W. Bush.

Ia sekarang menjadi wakil presiden senior di Pusat Strategis dan Pembelajaran Internasional (CSIS).

"Saya pikir pandangan Jepang adalah bahwa mereka telah memiliki strategi dan mereka ingin bergerak maju dengan mantap. Jadi ada sedikit perbedaan nuansa pada nada publiknya, tetapi tidak searah," ucapnya.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN