Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken. ( Foto: ANDREW CABALLERO-REYNOLDS / POOL / AFP )

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken. ( Foto: ANDREW CABALLERO-REYNOLDS / POOL / AFP )

AS-Tiongkok jadi Ujian Geopolitik Terbesar Abad Ini

Jumat, 5 Maret 2021 | 07:11 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Menteri Luar Negeri (Menlu) Antony Blinken menganggap hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok sebagai ujian geopolitik terbesar abad ini. Dia juga mengatakan bahwa AS siap menghadapi Tiongkok di mana saja bila diperlukan.

Dalam pidato pertamanya pada Rabu (3/3) waktu setempat, Blinken berjanji bahwa pemerintahan Presiden Joe Biden akan memprioritaskan diplomasi dibandingkan aksi militer dan membangun kerja sama dengan dunia dalam menghadapi tantangan-tantangan global, seperti perubahan iklim dan Covid-19.

“Kami akan mengatasi ujian geopolitik terbesar abad ke-21, hubungan kami dengan Tiongkok,” ujar Blinken di Departemen Luar Negeri (Deplu) AS.

Dia juga berjanji untuk memperjuangkan hak-hak Hong Kong dan warga etnis Uighur, karena jika tidak, Tiongkok akan bertindak dengan impunitas yang lebih besar.

“Tiongkok adalah satu-satunya negara dengan kekuatan ekonomi, diplomatik, militer, dan teknologi yang secara serius menantang sistem internasional yang stabil dan terbuka – semua aturan, nilai dan hubungan yang membuat dunia bekerja seperti yang kita inginkan. Hubungan kami dengan Tiongkok akan kompetitif pada saat yang seharusnya, kolaboratif ketika dapat, dan bermusuhan ketika harus. Dan kami akan melibatkan Tiongkok dari posisi yang kuat,” demikian penjelasannya.

Bidang untuk Kerja Sama

Pernyataan Blinken tersebut muncul di tengah mengerasnya pandangan di AS sejak kepemimpinan mantan presiden Donald Trump yang bergolak. Mantan wakil presidennya Mike Pompeo pun turut menunjukkan garis keras terhadap Tiongkok terkait isu kampanye tanda tangan, dan menjatuhkan hukuman kepada Negeri Tirai Bambu itu sehubungan dengan pandemi dan praktik-praktik perdagangan.

Blinken mengungkapkan bahwa pada dasarnya, ia tidak setuju dengan Trump soal Tiongkok. Namun percaya bahwa AS bisa lebih efektif bekerja sama dengan para sekutu dan, dalam kasus-kasus sempit, bisa menemukan kesamaan.

“Persaingan strategis tidak, dan tidak seharusnya, menghalangi kerja sama dengan Tiongkok jika itu adalah kepentingan nasional kami untuk melakukannya,” demikian isi garis besar kebijakan luar negeri Biden yang dirilis bertepatan dengan pidato Blinken.

Ada pun beberapa bidang yang bisa dijadikan kerja sama dengan Tiongkok di bawah Panduan Keamanan Nasional Sementara, yakni pada perubahan iklim, kesehatan global, pengendalian senjata, dan nonproliferasi.

“Saat kami melakukannya, kami akan mengumpulkan para sekutu dan mitra kami untuk bergabung dengan kami, mengumpulkan pengaruh negosiasi kami dan menunjukkan kekuatan kolektif kami dan menyelesaikannya,” katanya.

Strategi tersebut menguraikan bahwa para pemimpin Tiongkok terlalu seringkali berperilaku agresif dan memaksa, serta bersumpah bahwa Amerika Serikat akan memposisikan diri secara diplomatis dan militer untuk mempertahankan sekutu.

Di samping itu, pemerintahan Biden telah berjanji untuk mempertahankan dukungan AS terhadap Taiwan – sebuah negara demokrasi dengan pemerintahan sendiri yang diklaim oleh Tiongkok.

Sasaran Kekuatan Nyata

Di sisi lain, debut awal Biden sebagai presiden perang dimulai pada pekan lalu. Dia memerintahkan serangan udara di Suriah terhadap paramiliter Syiah yang terkait dengan Iran, yang dituding telah melancarkan ke target-target kepentingan AS di Irak. Tapi Blinken mengindikasikan, Biden akan berhemat dalam meluncurkan aksi-aksi militer.

“Dalam kasus-kasus di masa depan ketika kami harus mengambil tindakan militer, kami akan melakukannya hanya jika tujuan dan misinya jelas, dan dapat dicapai, serta konsisten dengan nilai-nilai dan hukum kami, dan atas persetujuan dari rakyat Amerika. Dan kami akan melakukan bersamaan dengan (langkah) diplomasi,” ujarnya.

Meskipun Blinken tidak menyebutkan serangan baru pada Rabu yang menyebabkan seorang kontraktor AS meninggal karena serangan jantung, Juru bicara Deplu AS Ned Price mencatat bahwa insiden seperti itu telah meningkat ketika Trump mengupayakan tekanan-tekanan maksimum terhadap Iran.

Blinken juga menyuarakan kekhawatiran atas erosi demokrasi di seluruh dunia. Dia mengungkapkan tidak akan menghindar dari menangani masalah-masalah di Amerika Serikat – mengacu pada insiden pengepungan Gedung Capitol pada 6 Januari oleh pendukung Trump, serta rasisme struktural.

Blinken menambahkan, Biden tidak tertarik membawa demokrasi ke dunia melalui intervensi militer yang mahal atau dengan mencoba menggulingkan rezim otoriter dengan kekerasan. “Kami telah mencoba taktik ini di masa lalu. Bagaimanapun niat baiknya, mereka tidak berhasil,” kata Blinken.

Pernyataan itu kemungkinan terkait dengan peristiwa invasi Irak 2003 serta intervensi 2011 – yang didukungnya sebagai bagian dari pemerintahan Barack Obama – guna membantu pemberontakan yang berujung pada penggulingan diktator Libya Moamer Kadhafi, dan menimbulkan kekacauan selama satu dekade.

Saat Trump menjabat sebagai presiden, ia mulai menarik AS dari perang di Afghanistan – yang disebut sebagai perang AS terlama yang pernah ada. Dia juga sempat menyebut dirinya sebagai presiden AS yang jarang untuk tidak memulai perang. Padahal ia merenungkan tentang pemboman Iran dan Venezuela dan meningkatkan serangan pesawat tak berawak di seluruh dunia serta memberikan sanksi-sanksi.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN