Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
(Foto ilustrasi perdagangan). Tumpukan kontainer terlihat di Pelabuhan Qingdao, Qingdao, provinsi Shandong, Tiongkok bagian timur. China OUT / AFP / STR

(Foto ilustrasi perdagangan). Tumpukan kontainer terlihat di Pelabuhan Qingdao, Qingdao, provinsi Shandong, Tiongkok bagian timur. China OUT / AFP / STR

AS-Tiongkok Lanjutkan Perundingan Dagang pada Oktober

Happy Amanda Amalia, Jumat, 6 September 2019 | 09:21 WIB

BEIJING, investor.id – Tiongkok menyatakan pihaknya dan Amerika Serikat (AS) akan melanjutkan perundingan perdagangan di Washington, AS pada awal Oktober 2019. Pernyataan ini meredam kekhawatiran bahwa tarif baru yang diberlakukan kedua pihak akan mengganggu proses negosiasi yang sudah berlarut-larut.

Menurut rencana awal, negosiasi perdagangan seharusnya dimulai kembali pada bulan ini. Tetapi Kementerian Perdagangan (Kemdag) Tiongkok menyampaikan bahwa Wakil Perdana Menteri Liu He sepakat melanjutkan pembicaraan pada Oktober 2019. Kesepakatan itu tercapai melalui percakapan telepon dengan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan (Menkeu) AS Steven Mnuchin, pada Kamis (5/9).

Dua negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia itu terlibat dalam pertikaian tarif selama setahun. Dan semakin memanas pada 1 September 2019 ketika kedua pihak saling menerapkan tarif baru untuk barang-barang bernilai ratusan miliar dolar.

“Akan ada persiapan komprehensif untuk pertemuan kedua belah pihak, dan putaran negosiasi berikutnya akan diupayakan mencapai kemajuan substantif,” ujar juru bicara Kemdag Tiongkok Gao Feng, dalam konferensi pers di Beijing.

Kabar yang disampaikan Gao tersebut akan dipandang sebagai pertanda optimisme dalam perang perdagangan, yang telah membebani ekonomi global dan pasar saham, serta mengguncang hubungan diplomatik antara kedua kekuatan global.

Bahkan, indeks saham di bursa Asia mengalami kenaikan pada Kamis, di mana Shanghai menguat 1%, sementara Tokyo menguat lebih dari 2%.

Menurut laporan, terakhir kali para pejabat tinggi bertemu adalah pada Juli di Shanghai, Tiongkok untuk melakukan pembahasan yang digambarkan berjalan secara konstruktif, tetapi diakhiri tanpa pengumuman apa pun.

Tidak lama kemudian, Presiden AS Donald Trump menyatakan bakal menaikkan tarif impor lebih dari setengah triliun dolar. Langkah Trump tersebut mendorong Tiongkok mengeluarkan respons dengan menerapkan tarif baru atas barang-barang AS senilai US$ 75 miliar, di mana tarif itu mulai diberlakukan bulan ini.

Ketegangan pun terus memuncak selama musim panas dan diperparah dengan perkataan yang diucapkan Trump pada awal pekan ini, di mana ia menuding juru runding Tiongkok dengan sengaja mengulur-ulur waktu untuk mendapat kesepakatan yang lebih baik, dengan harapan Trump tidak terpilih dalam pemilihan presiden (pilpres) tahun depan.

Presiden AS itu juga mengklaim Tiongkok terpaksa kembali ke meja perundingan menyusul perlambatan ekonomi di negara itu.

Tajuk di dalam surat kabar pemerintah China Daily, Kamis, mengingatkan bahwa suasana baik yang dibangun di Shanghai sebagian besart telah menguap sebagai akibat dari kegagalan Pemerintah AS untuk memenuhi janjinya membawa hubungan bilateral kembali ke jalur yang benar.

Dalam pertemuan kelompok G-7 baru-baru ini di Prancis, Trump sempat berbicara tentang komunikasi baru antara para juru runding AS dan Tiongkok, yang mana memberikan dorongan positif singkat. Tetapi, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan, tidak mengetahui soal kontak yang disebut-sebut oleh presiden AS.

Menurut pernyataan resmi, para pejabat di Tiongkok pada Rabu (4/9) telah membahas langkah-langkah baru untuk menjaga agar ekonomi negara itu tumbuh dalam menghadapi lingkungan eksternal yang semakin rumit dan menantang. (afp)

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN