Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi botol vaksin Covid-19 dan jarum suntik dengan latar belakang logo Universitas Oxford dan mitranya perusahaan farmasi Inggris AstraZeneca, pada 17 November 2020. ( Foto: JUSTIN TALLIS / AFP )

Ilustrasi botol vaksin Covid-19 dan jarum suntik dengan latar belakang logo Universitas Oxford dan mitranya perusahaan farmasi Inggris AstraZeneca, pada 17 November 2020. ( Foto: JUSTIN TALLIS / AFP )

AstraZeneca-Oxford Ajukan Persetujuan Vaksin Covid

Selasa, 24 November 2020 | 07:11 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Perusahaan farmasi Inggris AstraZeneca dan mitranya University of Oxford akan mengajukan persetujuan regulator untuk penggunaan vaksin virus corona Covid-19. Setelah hasil uji coba menunjukkan tingkat efektivitas rata-rata 70%. Menurut kedua perusahaan, tingkat kemanjuran dapat melonjak hingga 90% bergantung pada dosis vaksin yang diberikan.

Menanggapi pengumuman dari AstraZeneca, Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson menyebutnya sebagai kabar yang sangat menarik.

“Masih ada pemeriksaan keamanan lebih lanjut tapi ini hasil yang fantastis,” ujarnya seperti dilansir AFP, Senin (23/11).

Pengumuman yang disampaikan AstraZeneca dan University of Oxford pada Senin menambah dorongan potensi terbaru untuk mengatasi wabah Covid-19 global. Setelah pekan lalu, produsen Pfizer-BioNTech, dan Moderna juga mengumumkan hasil uji coba vaksin yang menunjukkan tingkat efektivitas di atas 90%, serta menuai pujian sebagai terobosan dalam menghentikan penyebaran virus.

Terlepas adanya perbedaan dari hasil uji coba kandidat vaksin Covid-19, Chief Executive Officer (CEO) AstraZeneca Pasca Soriot berkeras bahwa vaksin hasil pengembangan perusahaannya akan berdampak langsung.

“AstraZeneca sekarang akan segera mempersiapkan penyerahan data secara resmi kepada otoritas di seluruh dunia yang memiliki kerangka kerja untuk persetujuan bersyarat atau awal,” kata Soriot.

AstraZeneca menambahkan bakal meningkatkan produksi hingga tiga miliar dosis vaksin pada 2021, setelah melewati rintangan-rintangan dalam peraturan.

Uji coba vaksin AstraZeneca-Oxford menunjukkan tingkat kemanjuran sebanyak 90% ketika diberikan bertahap yakni setengah dosis, kemudian diikuti dengan dosis penuh setidaknya dengan selang waktu satu bulan. Sedangkan pada uji coba lain menunjukkan 62%, ketika vaksin diberikan sebanyak dua dosis penuh dalam periode yang sama.

“Kami berpikir dengan memberikan dosis pertama yang lebih kecil, kami memprioritaskan sistem kekebalan secara berbeda. Kami menyiapkannya dengan lebih baik untuk melihat respons,” tutur Andrew Pollard, kepala peneliti dari Uji Coba Vaksin Oxford (Oxford Vaccine Trial), dalam konferensi pers daring.

Sementara Peter Openshaw – profesor pengobatan eksperimental di Imperial College London – mengatakan bahwa pemberian vaksin dengan kombinasi dosis setengah dan penuh merupakan berita bagus karena berpotensi meningkatkan jumlah orang yang dapat divaksinasi dan mengurangi biaya.

Pollard menambahkan, temuan terbaru menunjukkan bahwa obat itu adalah vaksin efektif yang akan menyelamatkan banyak nyawa.

“Menariknya lagi, kami telah menemukan bahwa salah satu dari rejimen dosis kami mungkin sekitar 90% efektif. Jika rezim dosis ini digunakan, lebih banyak orang dapat divaksinasi dengan pasokan vaksin yang direncanakan. Pengumuman hari ini dapat disampaikan berkat banyak sukarelawan dalam uji coba kami, dan tim peneliti yang bekerja keras dan berbakat yang berbasis di seluruh dunia,” demikian dijelaskan Pollard.

Chief Executive Officer (CEO) AstraZeneca Pascal Soriot. ( Foto: BEN STANSALL / AFP / GETTY IMAGES )
Chief Executive Officer (CEO) AstraZeneca Pascal Soriot. ( Foto: BEN STANSALL / AFP / GETTY IMAGES )

Lebih Unggul

Menurut laporan, lebih dari 23.000 orang dewasa di Inggris dan Brasil telah ikut serta dalam uji coba vaksin AstraZeneca-Oxford. Jumlah relawan diperkirakan meningkat hingga 60.000 orang karena uji coba juga dilakukan di negara lain.

Hasil awal uji coba menunjukkan terdapat 131 kasus Covid-19 di antara relawan, tetapi tidak ada yang serius.

Gillies O'Bryan-Tear, dari Fakultas Kedokteran Farmasi Inggris, mengatakan vaksin AstraZeneca-Oxford memiliki "keunggulan besar" dibandingkan Pfizer-BioNTech, dan Moderna.

“Vaksin ini (AstraZeneca) dapat diproduksi dengan mudah dan diangkut dalam lemari pendingin dengan suhu biasa, bukan freezer, sehingga dapat diangkut dan disimpan menggunakan infrastruktur rantai dingin vaksin yang ada. Grup perusahaan juga berjanji akan memberikan vaksin kepada negara berkembang, tanpa tujuan mencari keuntungan,” katanya.

Sebagai perbandingan, vaksin Pfizer-BioNTech harus disimpan dalam kondisi suhu -70 derajat Celcius – atau jauh lebih dingin daripada suhu freezer standar. Hal itu menimbulkan pertanyaan tentang distribusi dan penyimpanan, serta biaya yang lebih tinggi, terutama bagi negara-negara berpenghasilan rendah.

Sementara vaksin AstraZeneca-Oxford dapat disimpan, diangkut dan ditangani pada kondisi lemari es suhu normal, yakni antara dua dan delapan derajat Celcius, setidaknya selama enam bulan.

Raksasa biotek AS Pfizer dan mitra Jerman BioNTech pun telah meminta persetujuan untuk meluncurkan vaksin virus corona lebih awal. Langkah tersebut dipandang sebagai tindakan pertama yang disambut baik untuk memberikan bantuan mengingat lonjakan kasus infeksi mendorong kembalinya aturan pembatasan yang menyebabkan trauma negara dan ekonomi global pada awal tahun ini.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN