Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
(kiri-kanan):  Presiden Komisi Uni Eropa (UE) Ursula von der Leyen, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Presiden Dewan Eropa Charles Michel menghadiri KTT Uni Eropa - AS, di markas besar Uni Eropa di Brussels, Belgia, pada 15 Juni 2021. ( Foto: BRENDAN SMIALOWSKI / AFP )

(kiri-kanan): Presiden Komisi Uni Eropa (UE) Ursula von der Leyen, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Presiden Dewan Eropa Charles Michel menghadiri KTT Uni Eropa - AS, di markas besar Uni Eropa di Brussels, Belgia, pada 15 Juni 2021. ( Foto: BRENDAN SMIALOWSKI / AFP )

AS-UE akan Bentuk Dewan Perdagangan dan Teknologi

Rabu, 16 Juni 2021 | 06:09 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

WASHINGTON, investor.id – Amerika Serikat (AS) dan Eropa akan mengumumkan inisiatif baru gabungan perdagangan dan teknologi, yang disebut Dewan Perdagangan dan Teknologi AS-Uni Eropa, pada Selasa (15/6) waktu setempat. Ini merupakan bagian dari upaya luas Presiden Joe Biden untuk menggalang sekutu-sekutu Eropa dan menantang pengaruh Tiongkok yang meningkat.

Dewan Perdagangan dan Teknologi AS-Uni Eropa (UE) tersebut akan memiliki tiga tujuan menyeluruh, yakni menetapkan standar perdagangan global baru untuk teknologi baru, mempromosikan nilai-nilai demokrasi secara daring (online), serta menemukan cara-cara bagi AS dan UE untuk berkolaborasi dalam penelitian dan pengembangan mutakhir.

“Hasilnya adalah bahwa demokrasi dan tidak ada orang lain, bukan Tiongkok atau otokrasi lainnya, yang menulis aturan perdagangan dan teknologi untuk abad ke-21,” ujar Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan dalam konferensi pers pekan lalu, yang dikutip CNBC.

Di sisi AS, dewan perdagangan itu akan diketuai bersama oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Antony Blinken, Menteri Perdagangan (Mendag) Gina Raimondo dan Duta Besar Katherine Tai – yang juga Perwakilan Perdagangan AS. Demikian disampaikan pejabat pemerintahan Biden kepada wartawan, yang meminta identitasnya tidak diungkap mengingat proses negosiasi yang sedang berlangsung.

Ada pun tujuan khusus lain dewan meliputi: mengoordinasikan standar pada teknologi baru, seperti kecerdasan buatan, komputasi kuantum, dan bioteknologi. Lalu membuat rantai pasokan lebih tangguh dan tidak terlalu bergantung pada Tiongkok, mewujudkan reformasi di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dan mengoordinasikan regulasi platform teknologi.

Selama dekade terakhir, Tiongkok sudah melakukan investasi publik besar-besaran di sektor teknologinya. Hasil dari investasi ini adalah ekonomi digital dan internet yang dikendalikan oleh negara dan mencerminkan nilai-nilai politiknya, mulai dari penyensoran individu yang tersebar luas, pemblokiran situs-situs laman asing jika menolak menyensor topik-topik sensitif, dan penyitaan perangkat lunak sektor swasta untuk melayani kepentingan negara.

Dalam melindungi pasar-pasar domestiknya, Tiongkok tergolong agresif, terutama dengan mewajibkan perusahaan-perusahaan asing yang ingin beroperasi di Tiongkok untuk bermitra dengan perusahaan lokal Tiongkok dan menyerahkan kekayaan intelektual.

“Berurusan dengan praktik non-pasar Tiongkok, penyalahgunaan ekonominya, dan upayanya untuk membentuk aturan jalan tentang teknologi untuk abad ke-21 akan menjadi bagian penting dari pekerjaan dewan ini,” kata para pejabat Gedung Putih.

Kekuatan Ekonomi

Dewan Perdagangan dan Teknologi yang baru itu merupakan upaya terbaru pemerintahan Biden untuk memanfaatkan kekuatan ekonomi gabungan AS dan Eropa agar dapat bersaing lebih baik dengan Tiongkok.

Pada Sabtu (12/6), Biden dan negara-negara anggota G-7 telah mengumumkan pembentukan inisiatif infrastruktur global yang disebut Build Back Better for the World (B3W). Rencana bernilai miliaran dolar itu akan ditawarkan sebagai alternatif berkualitas lebih tinggi terhadap proyek infrastruktur Belt and Road Tiongkok.

Di sisi lain, salah satu masalah mendesak antara UE dan AS yang tidak akan selesai selama pertemuan Selasa, adalah nasib tarif hukuman yang dikenakan mantan Presiden Donald Trump kepada baja dan aluminium pada 2018.

Sebagai informasi, Trump menyebut keamanan nasional sebagai pembenaran untuk menerapkan tarif. Tetapi para pejabat Eropa percaya bahwa proteksionisme, bukan keamanan nasional, adalah dorongan untuk tarif.

Biden sendiri telah mengisyaratkan kesediaannya untuk menaikkan tarif, dan pada Mei para negosiator perdagangan dari kedua belah pihak memulai pembicaraan yang dapat menyelesaikan masalah pada akhir tahun.

“Negosiasi itu sedang berlangsung. Mereka sangat konstruktif, tetapi itu akan memakan waktu. Jadi saya tidak mengantisipasi bahwa Anda akan melihat hasil minggu ini pada tarif,” demikian disampaikan seorang pejabat pemerintah AS.

Setelah pertemuan Uni Eropa pada Selasa, Biden akan melakukan perjalanan ke Jenewa, Swiss di mana ia dijadwalkan mengadakan pertemuan puncak yang sangat dinantikan pada Rabu (16/6) dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN